Ekonomi RI Bakal Meroket Setelah Pandemi

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – Bos Lippo Group John Riady menilai bahwa penurunan ekonomi dunia dan Indonesia akibat pandemi Covid-19 tidak akan terjadi selamanya. Pandemi Covid-19 akan berakhir dan diprediksi pascapandemi, ekonomi dunia bakal meroket.

Hal itu merujuk pada dua kejadian masa lalu, Flu Spanyol tahun 1918 dan krisis keuangan global pada 2008.

“Kita kini merasakan betapa hari-hari dilewati dengan sangat berat. Seakan-akan dunia ini sudah mau berakhir dan tak mungkin situasinya itu membaik kembali. Tapi, kalau kita take one step back gitu ya, kita melihat bahwa sebetulnya setelah itu terjadilah sebuah progres dan sebuah pertumbuhan yang luar biasa,” ujar CEO PT Lippo Karawaci John Riady dikutip dari laman investor.id, Sabtu (23/5/2020).

Pandemi Covid-19 telah menciptakan krisis multi-dimensi di seluruh dunia yang bukan hanya berdampak pada kehancuran ekonomi, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial warga bumi dan menghentikan globalisasi karena sebagian besar negara di dunia menutup diri untuk membendung penularannya.

 John Riady menyatakan, ini bukan pertama kali warga dunia terkena wabah penyakit mematikan. Sejarah menunjukkan umat manusia bisa kembali bangkit dan bahkan menorehkan kemajuan yang lebih pesat. Juga bukan pertama kalinya ekonomi dunia bangkit lebih kuat lagi setelah krisis finansial yang menjangkau semua negara di dunia.

 “Di tahun 1918 terjadi suatu pandemi global di mana 5% dari penduduk dunia meninggal, yang diketahui sebagai Spanish Flu. Bayangkan kalau 5% dari penduduk dunia itu meninggal, di zaman sekarang ini, itu sama dengan 300 juta penduduk yang meninggal. Sebegitu hebatnya virus ini pada zaman itu,” kata John.

“Jadi 300 juta itu kan hampir sama dengan populasi Indonesia. Bayangkan. Barangkali pada saat mereka menghadapi serangan virus ini, pasti juga terjadi satu perasaan atau satu atmosfer yang begitu negatif, begitu pesimistis. Dan zaman dulu kan juga teknologi kesehatan tidak sebaik sekarang,” imbuhnya.

Pandemi Global 1918 Pasca-pandemik Flu Spanyol yang berlangsung hingga 1919, perekonomian dunia justru meroket hingga beberapa dekade. “Kalau kita melihat apa yang terjadi 18 bulan kemudian, setelah terjadinya virus Spanish Flu tersebut, justru kita melihat 30-40 tahun ke depan itu terjadilah pertumbuhan yang begitu hebat di dunia ini,” kata John.

Selanjutnya, ekonomi dunia dilanda krisis keuangan yang dimulai dengan anjloknya harga perumahan di Amerika Serikat sehingga nilai properti yang menjadi agunan bank ikut rontok pada 2008. Demikian juga saham-saham yang ada kaitannya dengan industri perumahan ikut mengalami devaluasi. Krisis di Amerika ini disebut subprime mortgage crisis.

“Barangkali kita semua ingat di tahun 2008 pada saat terjadinya yang disebut great financial crisis, yang dimulai di Amerika dengan subprime crisis. Pada saat itu juga di ujung sini nih kita melihat bahwa stock market mengalami penurunan yang sangat drastis, terjadinya kontraksi di dalam pertumbuhan ekonomi dunia dan lain sebagainya,” kata John.

Krisis ini juga berdampak terhadap Indonesia karena mengakibatkan rupiah melemah dan terjadi gejolak ekonomi yang cukup parah. “Tapi kita juga lupa bahwa kalau kita lihat sekarang ini tahun 2020 dan kita melihat ke belakang 10 tahun terakhir, sebenarnya setelah krisis itu terjadilah satu pertumbuhan yang luar biasa yang disebut bull rally, yang paling lama dan paling hebat,” kata John.

“Jadi kalau kita lihat dua contoh kejadian tersebut, yang pertama kejadian Spanish Flu dan subprime tahun 2008, kita lihat bahwa kejadian-kejadian yang mungkin pada saat kita melalui itu kita merasakan sangat berat dan sangat negatif. Dan seakan-akan dunia ini sudah mau berakhir dan nggak mungkin situasinya itu membaik. Kenyataannya, periode setelah itu ekonomi tumbuh pesat,” tambahnya

Kemudian John menyebut kutipan terkenal ilmuwan Inggris Charles Darwin yang mengatakan: “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent; but it is the one that is most adaptable to change.” Artinya, “Bukanlah yang paling kuat atau yang paling pintar yang survive [bertahan], tapi yang paling responsif akan perubahan-perubahan di sekeliling kita ini.”

“Jadi saya melihat dunia sekarang ini dengan begitu banyak perubahan. Ini menjadi tantangan dan sekaligus peluang, agar bagaimana kita mengambil kesempatan ini sebagai peluang untuk maju dan menjadi lebih baik lagi,” tegas John Riady.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar