Jakarta, TopBusiness – Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar mengaku masih yakin kinerja perseroan masih positif, meski di tengah pandemi Covid-19 ini. Baik itu dari sisi pencapaian pendapatan maupun laba bersih masih bisa sesuai target. Pasalnya, berdasar proyeksi pihak MRT, dampak Covid ini belum menggerus terlalu dalam.
Menurut dia, sejauh ini dengan adanya pandemi tersebut, perseroan sudah membuat empat skenario mulai dari level moderat, berat, sangat berat, dan buruk. Dan saat ini, katanya, masih dalam skenario moderat, sehingga untuk target perseroan terutama laba bersih bisa tercapai seperti tahun lalu yakni sebesar Rp146,704 miliar.
“Terkait krisis akibat pandemi ini ada empat skenario yang kami susun. Dari mulai moderat, berat, sangat berat, dan buruk. Untuk moderat itu dengan tiga bulan pandemi, kemudian ada transisi, dan baru normal. Namun kalau yang buruk itu jika krisisnya hingga November nanti. Dan itu ada parameternya. Kira-kira pendapatan berapa, dari tiket berapa, subsidi berapa, dan dari non tiket berapa,” terang William saat menggelar acara video conference dengan media di Jakarta, Kamis (11/6/2020).
Untuk jumlah penumpang dari skenario moderat sendiri, kata dia, pihaknya yakin bisa mencapai 65 ribu per harinya. Sementara untuk angka 100.000 penumpang per hari sendiri bisa jadi akan susah dicapai saat ini, meski sebelumnya angka tersebut pernah dicapainya.
“Sehingga dengan target penumpang yang masih sebanyak 65 ribu itu, paling tidak, pada posisi laba komprehensif yang akan kami capai, bisa sama dengan tahun lalu lah,” kata dia lagi.
Keyakinan masih tingginya pengguna moda transportasi modern ini karena didasari adanya survey masyarakat mengenai kemungkinan kembali menggunakan MRT setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Ternyata hasilnya, sebanyak 91% akan menggunakan MRT setelah PSBB. Dan sebanyak 98% akan menggunakan MRT apabila jam operasional kembali normal,” jelas William.
Selain itu dalam rangka menggenjot pencapaian laba bersih dengan skenario moderat itu pihaknya akan melakukan efisiensi dari sisi pengeluaran. Menurutnya, di saat pemasukan ke kas perseroan berkurang akibat pandemi, maka langkah efisiensi sangat masuk akal. Dalam hal ini, seperti di aspek ketenagakerjaan, pihaknya tak akan ada penambahan karyawan di tahun ini.
“Termasuk juga sejumlah kegiatan atau pembelian bisa ditunda. Salah satunya simulator kereta yang tadinya akan kita beli seharga sekitar Rp100 miliar-an, kita tunda hingga tahun depan. Jadi dalam skenario moderat, kami bisa kendalikan,” ucap William.
William menerangkan MRT Jakarta ini membutuhkan simulator karena selama ini perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk mengirim masinis ke luar negeri untuk pelatihan. “Dengan simulator, kita tidak perlu kirim ke luar negeri, tapi kita tunda pengadaan ke tahun depan karena nilainya signifikan,” tandasnya lagi.
Untuk diketahui, mulai 1 April 2019 hingga akhir tahun lalu atau tahun pertama beroperasi total penumpang MRT mencapai 21.715.008. Angka ini berarti jika di rata-rata dalam setiap hari sebanyak 93.083 penumpang. Dengan respon positif itu, maka perseroan mencatat pendapatan di tahun pertama beroperasi sebesar Rp931,895 miliar, labar bersih senilai Rp146,704 miliar, dengan EBITDA mencapai Rp427,98 miliar. Laba bersih sendiri meningkat sebesar 207% dari tahun sebelumnya.
Foto: Istimewa
