Jakarta, TopBusiness – PT Timah Tbk (TINS), perusahaan pelat merah yang menjadi bagian dari Holding Industri Pertambangan BUMN bakal lebih focus untuk melaksanakan program efisiensi di tahun ini. Langkah ini juga sebagai upaya untuk menggenjot kinerja perseroan menjadi lebih baik lagi.
Apalagi pasar timah sendiri terus mengalami tekanan sejak tahun lalu hingga di 2020 ini. Sepanjang 2019 lalu, isu perang dagang Amerika Serikat-China mewarnai hampir separuh tahun dan menjadi salah satu faktor tertekannya harga timah di pasar dunia. Selama tahun lalu, harga rata‐rata logam timah dunia yang tercatat di London Metal Exchange (LME) terkoreksi menjadi $18.569/MT atau sebesar 7% year on year (2018: $20.134/MT).
Dan kini, selain isu trade war juga juga masih ada pandemi Covid-19 yang juga sangat berpotensi memengaruhi harga logam timah dunia. Untuk itu, perseroan akan lebih selektif dalam merespon dinamika pasar timah dunia. “Hal ini sebagai ikhtiar untuk memperbaiki profitabilitas dan memperkuat fundamental perseroan di tengah kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian saat ini,” tutur Direktur Utama TINS, M. Riza Pahlevi Tabrani, usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (11/6/2020).
Dalam rangka efisiensi dan mengurangi beban bunga sebagai upaya mengoptimalkan arus kas, di kuartal I 2020, perseroan telah mengambil banyak langkah. Misalnya, TINS secara bertahap melakukan de‐leveraging dengan mengurangi posisi utang berbunga, di samping re‐profiling utang bank baik dari jenis mata uang hingga jadwal pelunasan.
“TINS juga berupaya untuk mengejar efisiensi biaya di semua lini produksi untuk menekan beban produksi dan beban usaha Perusahaan. Beban bahan baku, misalnya, telah dicapai kesepakatan dengan pihak ketiga untuk kompensasi yang lebih ekonomis, seiring juga telah dilakukan efisiensi di beberapa lini operasi dan produksi,” tuturnya.
Untuk menjaga kesinambungan usaha dan antisipasi persaingan bisnis pertimahan di masa mendatang, kata Riza, TINS juga tetap melakukan eksport logam timah dan saat ini sedang menyiapkan smelter baru dengan teknologi ausmelt yang lebih efisen dari sisi biaya produksi dan proses pengolahannya.
Sebagai informasi, kinerja TINS di 2019 mencatatkan total pendapatan Rp19,3 triliun atau naik 75,45% secara yoy dari sebelumnya Rp11,06 triliun. Selain itu, volume produksi logam timah TINS juga mencapai 76.389 metrik ton dan volume penjualan sebesar 67.704 metrik ton. Namun sayangnya, kinerja itu belum berbanding lurus dengan kinerja laba bersih yang masih mencatat rugi bersih sebesar Rp611,28 miliar.
Hal ini karena masih ada tekanan di pos beban pokok pendapatan dan beban bunga yang menjadi salah satu sebab tergerusnya laba TINS. Tercatat, beban pokok pendapatan sebesar Rp18,16 triliun atau naik 82,69% secara yoy. Sementara kewajiban perseroan tercatat Rp15,1 triliun atau meningkat 66,48% (yoy).
Dengan posisi ekuitas sebesar Rp5,28 triliun dan aset perseroan tercatat senilai Rp20,36 triliun atau naik 33,71% dibanding akhir tahun 2018, yang sebesar Rp15,22 triliun.
Kendati kinerja TINS masih berat, kontribusi berupa Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dibayarkan Perseroan sebesar Rp1,20 triliun atau naik 46,43% dengan royalti tercatat sebesar Rp556,73 miliar alias terkerek 89,08%.
Foto: Istimewa
