Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga penutupan perdagangan Jumat akhir pekan ini diproyeksikan masih mengalami tekanan. Pasalnya, investor khawatir dengan terjadinya gelombang kedua pandemi Covid-19.
Dalam situs samuel.co.id, di Jakarta, melalui hasil riset harian memperlihatkan bahwa pasar saham Amerika terkoreksi dalam pada perdagangan semalam, dengan S&P 500 turun 5,89%, Dow Jones turun 6,90%, dan Nasdaq turun 5,27%, sementara yield 10Y US Treasury kembali turun ke level 0,671%. Penurunan dalam juga terjadi pada harga minyak mentah Brent 8,15% ke level USD 38,33 per barrel. Kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi di AS menyusul diterapkannya pembukaan kembali ekonomi dan terjadinya aksi protes diperkirakan menjadi penyebab massive sell-off semalam.
Kasus aktif COVID-19 AS pada hari sebelumnya Rabu (10/06) tercatat naik 22,317 kasus atau 1,1% per hari berada pada kisaran rerata kenaikan tujuh hari kebelakang. Namun beberapa negara bagian naik lebih tinggi dari rerata tujuh hari belakang. Seperti, Florida naik 2,5% perhari dan California 2,3% perhari dibanding rerata tujuh hari belakang masing-masing 2% dan 2.1%.
Kemudian, Treasury Secretary AS, Steven Mnuchin menegaskan bahwa AS tidak bisa kembali lockdown dalam menghadapi gelombang kedua.
Perdagangan IHSG kemarin ditutup melemah 1,34% ke level 4.854,8 dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 247,3 miliar. Pelemahan turut terjadi pada indeks EIDO 6,79%, hingga perdagangan bursa regional pagi ini yaitu Nikkei dan Kospi masing-masing 2,79% dan 3,50%. “Sentimen ini kami perkirakan turut berimbas pada tertekannya IHSG hari ini,” demikian tersebut.
Foto: Rendy MR
