RS BUMN Gabung Holding Bertambah Jadi 35 RS

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Bina Medika IHC bersama tujuh pemilik rumah sakit BUMN menandatangani perjanjian pengambilalihan saham bersyarat di Mandiri Club Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (30/6).

Direktur Utama Pertamedika IHC Fathema Djan Rahmat memerinci ketujuh BUMN meliputi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai pemegang saham PT Krakatau Medika, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sebagai pemegang saham PT Rumah Sakit Pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sebagai pemegang saham PT Pelindo Husada Citra, PT Perkebunan Nusantara X sebagai pemegang saham PT Nusantara Medika Utama, PT Perkebunan Nusantara XI sebagai pemegang saham PT Nusantara Sebelas Medika, PT Perkebunan Nusantara XII sebagai pemegang saham PT Rolas Nusantara Medika, dan PT Timah Tbk sebagai pemegang saham PT Rumah Sakit Bakti Timah.

“Aksi korporasi ini merupakan bagian dari roadmap pembentukan Holding RS BUMN Tahap awal roadmap pembentukan Holding RS BUMN telah dimulai sejak 2018,” ujar Fathema dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id di Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Atas perjanjian tersebut, lanjut Fathema, jumlah rumah sakit yang akan dikelola dalam grup IHC meningkat dari sebelumnya 14 RS menjadi total 35 RS dan akan terus bertambah setelah selesainya implementasi roadmap Holding RS BUMN.

Saat ini, kata Fathema, Pertamedika IHC telah memiliki saham mayoritas atas salah satu RS BUMN, yaitu RS Pelni. Fathema menyebut RS Pelni memiliki kinerja operasional dan keuangan yang sangat baik didorong kekuatan utama dalam bidang digitalisasi layanan berbasis Information Technology.

“Saat ini RS Pelni melayani pasien BPJS yang menjadikannya salah satu rumah sakit dengan layanan BPJS terbaik dan terbesar di Indonesia,” ucap Fathema.

Pertamedika IHC sendiri merupakan bagian dari grup PT Pertamina (Persero), dengan rumah sakit unggulan yang dimiliki di antaranya adalah Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) yang memiliki akreditasi RS Kepresidenan, Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, serta Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) yang saat ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 untuk daerah Jakarta. Fathema mengatakan, Pertamedika IHC juga memiliki 11 RS lain yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Dalam menghadapi rangkaian proses aksi korporasi untuk konsolidasi RS BUMN, Pertamedika IHC didampingi PT Danareksa Sekuritas beserta konsultan pendukung lainnya.

Fathema menyampaikan, rata-rata grup BUMN memiliki dua sampai empat RS dengan posisi sebaran cenderung terkonsentrasi pada satu wilayah, seperti Jawa Timur untuk grup PTPN X sampai PTPN XII dan Pelindo III, atau wilayah Bangka Belitung untuk grup Timah.

“Pembentukan Grup Indonesia Healthcare Corporation (IHC) yang dipimpin Pertamedika IHC bertujuan memperluas cakupan wilayah pelayanan serta mengembangkan cakupan pasar RS BUMN hingga mencapai 80 persen dalam lingkup pasar BUMN,” lanjut Fathema.

Fathema memerinci konsolidasi 35 RS juga akan meningkatkan kapasitas grup IHC dengan jumlah lebih dari 4.500 tempat tidur di berbagai wilayah Indonesia.

“Hal ini akan mendorong pengembangan skala bisnis secara signifikan dan pengembangan jangkauan cakupan usaha Grup IHC di Indonesia, bahkan diharapkan dapat ekspansi ke negara tetangga,” kata Fathema.

Fathema mengatakan, dua fase konsolidasi rumah sakit milik BUMN merupakan sinergi untuk membangun fondasi yang kuat dalam holding RS. Ia berkomitmen menyelesaikan fase ketiga dalam waktu dekat ini sehingga nanti Indonesia Healthcare Corporation akan menjadi rumah sakit jaringan terbesar di Indonesia.

“Value of Synergy & Value of Creation yang tercipta dalam proses konsolidasi ini akan menciptakan peluang besar pertumbuhan dan pemulihan ekonomi dari Healthcare Industry Sector,” ucap Fathema.

Fathema menambahkan, Grup IHC telah memetakan sejumah strategi untuk pengembangan terkait peningkatan pelayanan, operasional, inovasi teknologi dan keseluruhan value chain. Beberapa inisitatif untuk mendukung strategi tersebut antara lain meningkatkan efisiensi untuk pengadaan obat dan alat kesehatan, digitalisasi, pengembangan laboratorium dan klinik-klinik.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, integrasi RS BUMN akan meningkatkan fokus bisnis dan kualitas pelayanan kesehatan serta menjadikannya pemimpin pasar dalam bisnis rumah sakit di Indonesia. Secara konsolidasi grup RS BUMN diestimasikan memiliki pendapatan usaha hingga mencapai Rp 4,5 triliun dan total aset mendekati Rp 5 triliun.

Erick menilai, penggabungan ini akan menerapkan standardisasi kualitas dan operasional layanan di jaringan rumah sakit anggota holding seluruh Indonesia, dan hal itu identik dengan peningkatan pelayanan dan sekaligus meningkatkan keahlian para tenaga ahli.

“Artinya kita mendorong rumah sakit milik bangsa Indonesia meraih kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memilih berobat di RS negeri sendiri dibanding ke luar negeri,” kata Erick.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar