Logo Baru Kementerian BUMN Luncur di Terik, Kenapa?

Penulis achmad adhito

Jakarta, TopBusiness—Menteri BUMN RI, Erick Thohir, pada sore hari ini memimpin acara peluncuran logo baru Kementerian BUMN RI, di Jakarta.

Menteri Erick Thohir mengatakan dalam acara yang disiarkan via YouTube itu, bahwa ada penyebab bahwa acara tersebut berlangsung di ruang terbuka pada panas sore.

“Ini acaranya kita adakan di panas sore, mengapa? Ini sekaligus tes karena kursi jabatan di BUMN itu kan panas. Jadi, orang BUMN harus kuat karena kursinya tersebut. Yang terpenting adalah bekerja. Dan kerja yang lurus saja,” menteri tersebut memberikan kiasan.

Reformasi birokrasi yang sudah berjalan di lingkungan Kementerian BUMN, bukan pencitraan. Itu harus terus dilakukan dan sudah terjadi. “Struktur Kementerian BUMN sudah ramping. Dan restrukturisasi BUMN akan terus kita jalankan, sebagai bagian dari efisiensi dan GCG. Maka, KPI kita, jelas acuannya,” ucap Menteri Erick Thohir.

Manajemen talenta pun penting karena BUMN harus berubah. Dan dengan adanya Covid-19 ini, justru harus terjadi percepatan.

Ada dua faktor kekuatan Indonesia: jumlah populasi yang besar, dan sumber daya alam yang sangat kaya. “Yang perlu dicermati: transformasi teknologi, serta logistik dan rantai pasokan.”

Perubahan logo ini, kata dia, bukan hanya pencitraan tetapi ada maknanya. Yakni bahwa transformasi yang sudah disepakati bersama, harus dijalankan dengan baik. “Sebagai pimpinan, saya pun tentu mendukung Bapak-bapak untuk berjalannya transformasi ini.”

Gaya visual logo baru Kementerian BUMN yang agak modern, sesuai dengan tipikal bahwa mayoritas warga RI, adalah orang muda. “Kalau ada orang muda, tolong dimentori dengan baik. Kita pun, via logo ini, ingin menguatkan karakter.”

Dikatakannya, pihaknya ingin menerapkan ‘akhlak’ sebagai core value. Bukan sekadar sebagai lip service. “Karena kita bekerja, akan kuat kalau ada core value. Akhlak itu artinya amanah. Juga penting untuk memerhatikan kompetensi dan loyal kepada negara, karena kita di BUMN,” ucap Menteri Erick Thohir.

“Ada 53 kasus hukum di BUMN, dan kita tidak mau ini terulang. Karena itulah ‘ahlak’ ini penting. Adaptif dan kolaboratif pun, ini penting dalam menghadapi masa yang akan datang,” ia menambahkan.

Sumber Ilustrasi: Istimewa

BACA JUGA

Tinggalkan komentar