Jakarta, TopBusiness – Usia belia tidak harus selalu menjadi anak bawang alias selalu jadi anak mami. Hal tersebut juga terjadi pada PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) yang baru berdiri sebagai perusahaan anak dari Waskita Karya tujuh tahun lalu, tepatnya pada 2013.
Dengan tata kelola (GCG) apik, WSBP 2016 berhasil melantai di bursa saham alias menjadi perusahaan terbuka (go public) dengan melepas sahamnya ke masyarakat pada tahun 2016. Hanya memerlukan waktu tiga tahun saja anak usaha, Waskita Karya ini menunjukan kinerja apiknya.
Pada tahun 2016, saatgo public telah memiliki 10 perusahaan dengan total kapasitas produksi terpasang 2.650.000 ton per tahun. Sementara ketika berdiri pada 2013 baru berproduksi sebesar 616.000 ton. Dan tahun 2019 lalu sudah mencapai produksi 3.700.000 ton per tahun.
Usia belia, dengan gerak lincah dan gesit memanfaatkan peluang bisnis pada bidang konstruksi di negeri ini. Produk WSBP bahkan telah menjadi market leader di pasar konstruksi beton precast, padahalnya kompetitor di produk yang sama juga bersaing ketat dengan BUMN Karya yang lain.
Direktur Utama WSBP Jarot Subana menjelaskan, WSBP telah membangun budaya perusahaan berbasis GRC atau governance, risk management, dan compliance. “Kami bangun tata kelola perusahaan terintegrasi pada seluruh lini, mulai dari top management, satuan unit kerja hingga unit-unit pabrik serta juga penerapannya dilapangan dan juga budaya ini kami tularkan pula mitra-mitra dan vendor yang saling berkaitan dengan WSBP,” kata Jarot dalam Penjurian Top GRCAwards 2020 yang diselengarakan majalah TopBusiness melalui daring.
Jarot menjelaskan, manajemen WSBP sangatlah ketat menerapkan Risk Management serta kapatuhan, apalagi proses bisnis kontruksi ini pun banyak aturan yang harus dipenuhi. Ada risiko besar jika perusahaan tidak menerapkan tata kelola dan managemen risiko . WSBP telah mengadop ISO 9001: 2015 tentang quality management system, ISO 14001: 2015 Environment management system, ISO 45001: 2018 tentang Ocuptional health and safety management system, serta ISO 31000:2018 tentang Risk Management System.
“Lantas kami juga telah menerapkan pakta integritas bagi seluruh top management, direksi, komisaris dan seluruh karyawan terhadap anti suap, walaupun kami belum memiliki ISO 37001:2016 tantang anti suap, akan tetapi perihal penyuapan ini sudah kami kamu secara sistematis dan juga kami bangun pengawas anti suap ini pula,” ujar Jarot.
Jarot menjelaskan, WSBP berupaya telah menerapkan teknologi informsi dan komunikasi (ICT) guna mengefektifkan, mengefisienkan serta memberikan kemudahan dalam operasional perusaahan. ICT juga mempermudah pengontrolan kegiatan operasional seluruh pabrik WSBP.
“Kegiatan operasional pabrik dapat dikontrol dan dipantau dari mana saja, bahkan juga bisa dilakukan pengontrolan melalui smart phone dimana saja. Kami gunakan teknologi SAP ERP & HR untuk kegiatan seluruh operasional kami hingga seluruh pabrik kami. Kami bangun dashboardnya, secara real time akan terlihat berbagai permasalahan, jika ada masalah, maka akan memberikan sinyal biru atau merah dan juga akan terpantau pula di unit mana permasalahan yang muncul, dari dashboard ini bisa kita pantau dari kantor pusat maupun dilapangan hingga di luar sekali pun,” ujar Jarot.
“WSBP membangun HC yang tangguh dengan dana yang tangguh pula agar menjadikan perusahaan menjadi perusahaan berkelas internasional menjadi kebanggaan bangsa pada bidang konstruksi,” tegas Jarot.
