Jakarta, TopBusiness – Terus berkarya membangun negeri melalui infrastruktur terbaik di Indonesia, PT Hutama Karya (Persero) (HK) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengoptimalisasi penggunaan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2020 dengan total Rp 11 triliun untuk perekonomian Sumatra melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Sesuai dengan keputusan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, beberapa waktu lalu, PMN yang diperoleh sejumlah BUMN akan digunakan untuk mendukung program Penyehatan Ekonomi Nasional (PEN) Pemerintah Indonesia sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2020 yang memiliki tujuan sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang berdampak pada ekonomi khususnya sektor informal atau Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

HK terus memberikan kinerja terbaik dalam melanjutkan penugasan dari Pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dalam rangka pengembangan kawasan di Pulau Sumatra. HK juga memastikan dalam pembangunannya, perusahaan menerapkan tata nilai (core values) yang sejalan dengan arahan Menteri BUMN, Erick Thohir, yakni AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif).
Executive Vice President Sekretaris Perusahaan HK, Muhammad Fauzan, menyampaikan bahwa tata nilai baru ini menjadi pedoman perusahaan dalam menjalankan seluruh lini bisnisnya terutama mega proyek Jalan Tol Trans Sumatera, “Kami memegang teguh amanah dan kepercayaan yang diberikan pemerintah Indonesia kepada Hutama Karya. Melalui PMN dengan total Rp 11 triliun di tahun 2020 ini, kami gunakan untuk mempercepat penyelesaian pembangunan JTTS demi memajukan perekonomian Indonesia.” ujar Fauzan dalam keterangan resmi yang diterima redaksi Top Business.
Perlu diketahui, sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pembangunan di Indonesia tidak lepas dari posisinya yang berada dalam dinamika regional dan global. Secara geografis, Indonesia terletak di Kawasan Timur Asia (termasuk Asia Tenggara) yang merupakan jantung pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia menjadi negara dengan luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak dan sumber daya alam terkaya, salah satunya berada di Pulau Sumatra.
“Sumatera menjadi sentra produksi dari pengolahan hasil bumi dan juga lumbung energi nasional. Kegiatan perekonomian utama Sumatra saat ini berfokus pada kelapa sawit, karet, batu bara, perkapalan dan besi baja. Tersambungnya JTTS nanti mulai dari Lampung hingga Banda Aceh kami harapkan dapat memfasilitasi pengolahan potensi sumber daya, sehingga Sumatra dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena pengembangan kegiatan ekonomi utama juga memerlukan konektivitas (infrasruktur),” terang Fauzan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa konektivitas di Sumatra perlu didukung agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa, namun merata ke berbagai wilayah sehingga keseimbangan kondisi infrastruktur dapat tercapai. “Hadirnya infrastruktur jalan di Sumatra akan banyak memberikan dampak positif kepada masyarakat serta meningkatkan produktivitas kegiatan ekonomi. Sebagai contoh kelapa sawit, tingkat produksi Crude Palm Oil (CPO) ini sangat bergantung pada waktu tempuh karena kualitas Tandan Buah Segar (TBS) akan menurun dalam 48 jam setelah pemetikan. Namun dengan adanya JTTS, waktu tempuh menjadi singkat sehingga mampu meningkatkan kapasitas serta kualitas tak hanya kelapa sawit namun sumber daya alam lainnya.” tutup Muhammad Fauzan.
Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera juga telah memberikan dampak tersendiri bagi para pengguna jalan tol. Salah satunya yakni seorang pedagang buah di Lampung yang mengirimkan dagangannya ke Jakarta, Karso Sumito, yang menyampaikan bahwa sejak adanya tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar telah memberikan kemudahan baginya. “Barang dagangan harus sampai cepat ke konsumen agar bisa dinikmati selagi masih segar, dulu sebelum ada tol sebagian besar dagangan bisa rusak karena faktor jalan yang rusak belum lagi cuaca yang tidak mendukung. Namun kini, serba cepat. Keuntungan juga meningkat.” ujar Karso.
Tak hanya pengguna jalan tol, Pengamat Transportasi Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Prof. Sofyan M. Saleh seperti yang dikutip Hutama Karya saat melakukan wawancara virtual pada Jumat (3/7) menyampaikan bahwa keberadaan tol ini sangat dinantikan oleh masyarakat utamanya di Aceh. “Jika Tol Sigli – Banda Aceh nantinya terhubung akan mempermudah akses menuju tempat-tempat strategis di Aceh. Masyarakat yang faham akan waktu tempuh akan melihat keberadaan jalan tol sebagai sebuah karya yang sangat bermanfaat.” terang Sofyan.

Sebagai salah satu BUMN Konstruksi terkemuka di Indonesia, Hutama Karya yang kini telah resmi menerima PMN sebesar Rp 11 triliun di tahun 2020 memastikan akan terus berupaya mendukung program-program pemerintah Indonesia utamanya melalui sektor pembangunan infrastruktur demi terwujudnya kesejahteraan serta kemajuan bangsa Indonesia. Adapun hingga saat ini, Hutama Karya telah menjalankan amanah pemerintah dengan membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang ±771 KM dengan 368 KM ruas tol yang telah beroperasi secara penuh, diantaranya ruas Medan Binjai Seksi 2 & 3 (17 Km), ruas Bakauheni – Terbanggi Besar (140 Km), ruas Palembang – Indralaya (22 Km), ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 Km).
