Belasan pasien berseragam putih dan merah bertuliskan Rehabilitasi Kardivaskular sibuk berlalu lalang di ruangan berlantai cokelat itu. Sebagian besar berjalan, namun ada pula yang berlari-lari kecil memutari rute yang ditandai warna biru di lantai. Di tangan mereka ada potongan plastik berwarna biru yang harus disimpan di wadah yang disediakan setiap mereka menyelesaikan satu putaran.
Max Sopacua, 74, adalah salah satu di antara pasien di ruang Rehabilitas Kardiovaskular Pusat Jantung Nasional (PJN) Harapan Kita itu. Satu putaran terakhir yang setara 800 meter telah ia selesaikan. Mantan penyiar dan Direktur TVRI yang kini terjun di dunia politik itu kemudian mendatangi meja perawat untuk menuliskan latihan-latihan yang diselesaikannya hari ini.
“Pasien kami minta menuliskan sendiri untuk melatih kemampuan menulis, motorik halus mereka yang juga ditentukan kardiovaskular yang prima. Jadi kami fokus menyiapkan pasien untuk kembali ke kesehariannya, baik itu bekerja, bersosialisasi hingga sebagai suami atau istri,” ujar Yumi Thesiana, Kepala Instalasi Provinsi Rehabilitasi dan Paliatif, kepada TopBusiness, Senin (31/8/2020).
Ditemani Yumi dalam jarak yang aman, Max kemudian berkisah, kedatangannya kali ini adalah yang kesepuluh dari 12 kali rehabilitasi yang harus dijalaninya setelah ia menjalani operasi Coronary Artery Bypass (CABG) pada 22 Juli lalu di PJN Harapan Kita. Tumbang usai berolahraga pada 19 Mei, Max yang mengaku sebelumnya perokok berat hingga menghabiskan 30 batang rokok setiap harinya, divonis harus mengalami bypass jantung karena 98% pembuluh darahnya tersumbat.
“Kondisi saat itu saya mengalami sesak dan kelelahan luar biasa, sempat dilarikan ke RS di dekat rumah saya di Bogor, namun tidak mendapat solusi. Alhamdulillah dirujuk ke sini, walaupun harus melalui uji swap dulu, namun bisa cepat dilakukan tindakan. Sekarang ini ya rehabilitasi harus pakai masker dan pelindung wajah, semua perawat di sini pun pakai alat pelindung diri (APD) sehingga saling melindungi,” ujar Max yang mengaku sebagai pensiunan sangat diuntungkan dengan fasilitas BPJS Kesehatan yang menjamin seluruh pengobatan yang dijalaninya.
Kualitas layanan, kata Max, bukan cuma berwujud presisinya tindakan, namun juga suntikkan semangat yang diberikan tim dokter dan perawat. “Ketika di ICU, ada perawat yang bilang, wah Pak Max dulu saya nonton Bapak, sekarang saya rawat, ayo Pak cepat sembuh. Pokoknya di sini friendly lah,” kata Max sambil terkekeh.

Rangkaian edukasi yang dijalaninya, yang menurut Yumi juga menyertakan pemahaman tentang covid-19, juga sukses membulatkan tekad Max untuk berhenti merokok. “Dulu sebelum siaran, bahkan kalau ada siaran iklan, saya sempatkan merokok, alasannya biar otak cemerlang. Dari dokter di sini saya baru tahu kalau sebab saya sakit jantung dipastikan rokok, karena saya tidak sakit gula, jantung dan tidak ada penyakit bawaan,” ujar Max kepada TopBusiness.
Keluar dari ruang operasi dan kemudian menjalani rehabilitasi yang melibatkan interaksi dengan pasien, tenaga kesehatan dan pengunjung rumah sakit lainnya, Yumi menjamin keselamatan Max serta pasien lainnya yang menggunakan fasilitas Rehabilitasi Kardiovaskular. Upaya yang ditempuh di antaranya, memberlakukan pengurangan kapasitas, penambahan shift serta tentunya pemberlakuan protokol.
“Kami tetap mengupayakan agar pasien dari dalam kota bisa datang dua hari sekali, sedangkan yang dari luar kota setiap hari, karena jika kami tutup atau kurangi kapasitas sangat banyak, kasihan juga pada pasiennya, karena kebanyakan di sini mereka telah antri untuk mendapat tindakan di sini,” kata Yumi.

Tak perlu kos terlalu lama
Komitmen pada pasien luar kota di masa pandemi itulah yang dirasakan Dini Manilasari, 35, warga Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang mendapat tindakan penggantian pada dua katup di jantungnya.
“Saya mulai memasukkan berkas ke rumah sakit dan BPJS Kesehatan pada 10 Juli dan bisa dioperasi pada tanggal 24. Sehingga keluarga tidak perlu kos di sini terlalu lama. Saya dirujuk dari Rumah Sakit M Djamil Padang karena di sana baru bisa melakukan operasi satu katup,” ujar Dini yang merupakan peserta mandiri BPJS Kesehatan kelas dua.
Penambahan kapasitas sesuai kesiapan
Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS, Direktur Utama PJN Harapan Kita, kepada TopBusiness, Sabtu (29/8/2020), menyatakan kendati sempat mengurangi kapasitas layanan untuk menjamin protokol Covid-19 terlaksana optimal, seiring dengan berbagai perbaikan dan kesiapan, maka jumlah pasien yang ditangani secara bertahap mulai ditambah. Sebelum Covid-19, jumlah tindakan yang dilakukan minimal 14 setiap harinya, sehingga dalam satu tahun bisa mencapai 4.000 tindakan yang dilakukan pada pasien anak dan dewasa.
“Karena sejak awal kami sudah membentuk tim covid-19 sendiri, yang diikuti tes, tracing dan treatment yang dilakukan berkesinambungan untuk menangani pada aspek pasien maupun staf rumah sakit. Saat ini hampir 1.800 karyawan dan orang-orang yang bekerja di PJN Harapan KIta sudah dites. Sehingga, setelah mengurangi pasien hingga 50% pada tiga bulan pertama, kini sesuai kesiapan, akan ditingkatkan hingga 70% dan ini didukung juga oleh BPJS Kesehatan, jaminan yang digunakan sebagian besar pasien kami,” ujar Iwan yang bersama timnya juga mengembangkan konsultasi virtual yang bisa diikuti pasien yang sebelumnya telah terdaftar untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan dokter melalui gadget.

