Kemampuan Bayar KAI Dinilai Masih Kuat

Penulis Busthomi

Jakarta, TopBusiness – PT Permeringkat Efek Indonesia (Pefindo) baru saja menurunkan peringkat PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAII untuk Obligasi I Tahun 2017, dan Obligasi II Tahun 2019 menjadi “idAA+” dari sebelumnya “idAAA”.

“Dengan penurunan peringkat ini mencerminkan pandangan kami bahwa profil kredit KAI akan tetap berada di bawah tekanan yang cukup besar selama beberapa kuartal ke depan. Karena lingkungan operasi yang sulit di transportasi kereta api yang disebabkan oleh COVID-19,” tutur analis Pefindo Yogie Surya Perdana, dalam keterangan resminya kepada TopBusiness, di Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Kendati banyak tekanan, kata dia, obligor dengan peringkat idAA ini memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya dibandingkan terhadap obligor Indonesia lainnya.

“Dan tanda tambah (+) itu menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif kuat dan di atas rata-rata kategori yang bersangkutan,” terang dia.

Peringkat itu, disebutkan dia, mencerminkan pandangan Pefindo terkait dengan potensi dukungan yang kuat dari pemerintah terhadap Perusahaan karena peran strategis transportasi kereta api, posisi bisnis KAI yang superior di sektor perkeretaapian di Indonesia, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik dari angkutan penumpang dan barang.

“Namun, profil keuangan KAI yang diproyeksikan melemah akibat COVID-19 dan tingkat leverage keuangan yang tinggi serta indikator arus kas yang melemah membatasi peringkat, dalam pandangan kami,” katanya.

Baginya, lalu lintas kereta api memang sangat terpengaruh oleh penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan oleh pemerintah dalam rangka mencegah penularan COVID-19. Dimana kapasitas kereta dibatasi hingga 50% dari kapasitas penuhnya, sehingga menyebabkan penurunan yang tajam dalam jumlah penumpang dan layanan kereta yang ditawarkan.

Meskipun penumpang harian rata-rata meningkat hampir 75% di Juni 2020 dari Mei 2020 setelah pelonggaran pembatasan, namun lonjakan jumlah kasus COVID-19 baru-baru ini telah menyebabkan penerapan ulang PSBB, yang semakin menghambat prospek pemulihan KAII.

“Prospek dari peringkat perusahaan dipertahankan pada ‘negatif’ untuk mencerminkan ketidakpastian yang tinggi tentang besaran, durasi, dan dampak keseluruhan COVID-19 pada profil kredit KAI,” tandas Yogie.

Lebih jauh dia menegaskan, kendati ditopang pemerintah, Pefindo menyebut peringkat tersebut dapat diturunkan jika komitmen pemerintah dalam memberikan dukungan, terutama selama pandemi COVID19, melemah. Seperti melalui divestasi kepemilikan yang material, peran pelayanan publik menurun, dan/atau distribusi dividen yang tinggi di tengah ketidakpastian ini, sehingga dapat melemahkan likuiditasnya. Termasuk juga kurangnya fleksibilitas untuk menjadwal ulang pengeluaran modal (capex) sehingga menyebabkan utang lebih tinggi dari yang diproyeksikan.

“Kami dapat merevisi prospek menjadi stabil jika lingkungan operasi telah membaik dan stabil. Kami melihat tindakan mitigasi lebih lanjut oleh KAII untuk meminimalkan dampak COVID-19, dan/atau dukungan keuangan dari pemerintah, yang dapat mendukung generasi arus kas selama dan setelah pandemi COVID-19,” pungkas dia.

Foto: Rendy MR (TopBusiness)

BACA JUGA

Tinggalkan komentar