TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Hadapi Krisis, Daerah Perlu Cepat Realisasikan Belanja

Nurdian Akhmad
2 October 2020 | 18:47
rubrik: Ekonomi
IMF: Asean Berketahanan Ekonomi Bagus

Ilustrasi optimisme pertumbuhan ekonomi meningkat. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness –  Guna mengakselerasikan pemulihan ekonomi nasional,  pemerintah pusat meminta daerah untuk mempercepat penyerapan belanja daerah (APBD). Porsi belanja pemerintah sebanyak 26% merupakan transfer ke daerah.

” Belanja di daerah, penting sekali untuk dipastikan countercyclical seperti pemerintah pusat. Jangan sampai pemerintah fokus counter, pemda justru terhambat realisasinya,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam media briefing, Jumat (2/10/2020).

Menurut dia, pemerintah pusat hanya menyalurkan anggaran kepada Pemda, selebihnya akan tergantung pada kinerja belanja di daerah. Pasalnya pemerintah pusat hanya mengontrol secara penuh belanja pemerintah pusat.

Febrio mengaku tidak mudah bagi pemerintah pusat untuk mendorong pemerintah daerah mempercepat penyerapan anggaran belanja. “Makanya Presiden undang gubernur, untukk pastikan APBD realisasinya tinggi, apalagi sudah direncanakan dan ada transfer DAK DAU dari pusat. Itu bagian yang gak bisa diprediksi akurat,” tuturnya.

Pemerintah ke depan akan memperkuat tidak hanya dalam konteks komunikasi melainkan juga hubungan antara keuangan pusat dan keuangan daerah. Selain itu, juga harus mengevaluasi terus menerus terkait Transfer ke daerah, agar berjalan lebih optimal.

Untuk diketahui, penyerapan belanja APBD hingga Agustus 2020 baru Rp 533 triliun, realisasi ini turun 7 persen atau Rp 44 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 577 triliun.

Rasio Utang Meningkat

BKF juga memperkirakan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia akan kembali dari semula 37,6 persen di 2020 menjadi di 41,09 persen pada 2021. Lonjakan utang pemerintah itu adalah konsekuensi dari keseimbangan primer yang masih negatif cukup dalam pada tahun depan.

Kendati demikian, keseimbangan primer tersebut sebenarnya diperkirakan sudah cukup membaik ketimbang tahun ini. Tahun ini, keseimbangan primer berada di angka negatif 4,27 persen dari PDB.  Sementara, tahun depan diperkirakan menyusut menjadi negatif 3,59 persen saja.

BACA JUGA:   Menakar Keadilan Sosial di Masa Pandemi

“Dengan defisit melebar di 2021 walau sudah mulai konsolidasi ketimbang 2020, tapi  primary balance tetap dalam. Makanya enggak heran itu rasio utang terhadap PDB naik lagi. Sekitar 41,09 kami kita prediksi,” ujar Febrio.

Sebelumnya pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 akan melebar dari rancangannya. Mereka sepakat mematok defisit sebesar 5,7 persen dari PDB dari rencana di RAPBN sebesar 5,5 persen.

Febrio mengatakan belanja negara tahun depan didesain naik ke angka Rp 2.750 triliun. Sementara pendapatan negara diperkirakan hanya Rp 1.743,6 triliun. Febrio mengatakan anggaran tersebut dirancang dengan posisi pemerintah sebagai motor kebijakan counter cyclical.

Tags: BKFkrisis ekonomipemulihan ekonomi
Previous Post

Ini Cara RNI Kuatkan Ketahanan Pangan

Next Post

Waspadai IHSG di Awal Pekan, Saham Ini Layak Beli

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR