Jakarta, TopBusiness – Pandemi Covid-19 telah menuai dampak di berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali sektor ekonomi. Antara lain ditandai dengan adanya perlambatan dan penurunan kondisi ekonomi di kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) maupun skala besar.
Untuk itu, pemerintah terus mengucurkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk bisa mengatasi dampak pandemic ini agar tidak semakin parah. Pada salah satu implementasinya, PEN ini memberikan dukungan likuiditas kepada perbankan, baik itu bank umum milik negara (HImbara) maupun perbankan swasta. Termasuk juga Bank Pembangunan Daerah (BPD). Salah satunya PT BPD Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel.
Direktur Utama Bank Kalsel, Agus Syabarrudin mengatakan Bank Kalsel yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengajukan proposal ke Kemenkeu untuk menjadi bank mitra penyalur dana PEN dengan nominal Rp500 miliar.
“Pengajuan yang kami lakukan sebesar Rp500 miliar, di mana nantinya akan di leverage atau ditingkatkan potensi imbal hasilnya menjadi 2x lipat dari itu, sehingga totalnya menjadi Rp1 triliun,” tutur Agus dalam ketarangan resminya, Rabu (4/11/2020).
Saat ini, kondisi Bank Kalsel menunjukkan kinerja yang positif yang mana dapat menjadi pertimbangan sebagai bank yang mampu menyalurkan dana PEN. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Kalsel saat ini tercatat tumbuh normal sejak kuartal I hingga kuartal III Tahun 2020. Per akhir September 2020, tercatat total DPK Bank Kalsel sejumlah Rp12,95 triliun yaitu naik Rp206,64 miliar dari bulan sebelumnya.
Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menjadi salah satu penggerak utama dalam pemulihan ekonomi di Provinsi Kalimantan Selatan, khususnya terkait dengan bantuan stimulus permodalan kepada masyarakat yang terdampak oleh pandemi Covid-19.
Ditambahkan Agus, dalam rangka menyalurkan dana PEN nantinya, pihaknya pun baru saja meluncurkan produk kredit program baru bernama KUR Super Mikro, yaitu Kredit Usaha Rakyat yang diberikan kepada pelaku usaha mikro dengan plafon sampai dengan Rp10 juta.
“Tujuan penyaluran KUR ini yaitu meningkatkan dan memperluas penyaluran KUR kepada usaha produktif, meningkatkan kapasitas daya saing UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja,” terangnya.
Sesuai dengan upaya pemulihan ekonomi, KUR Super Mikro sendiri mempunyai program sasaran khusus; pertama ibu rumah tangga yang melakukan usaha produktif dan/layak dibiayai dan yang kedua pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja yang melakukan usaha produktif dan/layak dibiayai. Persyaratan penerima Kredit Super Mikro lebih mudah dan sederhana dibandingkan persyaratan kredit lainnya.
Sektor usaha yang dapat dibiayai oleh KUR Super Mikro ini sangat banyak, hampir semua sektor dapat dibiayai seperti pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, makanan dan minuman, industri pengolahan kecil dan sektor usaha lainnya.
Sesuai dengan namanya, KUR Super Mikro ini diharapkan dapat menjadi solusi super bagi pelaku usaha yang saat ini sedang berjuang ‘memperpanjang nafas usaha’ dalam memulihkan kondisi ekonominya maupun bagi yang ingin memulai usaha di situasi pandemi saat ini.
“Saat ini dalam masa penerapan new normal, banyak UMKM mulai bergerak dan mulai bangkit lagi. UMK adalah yang paling mudah menciptakan peluang ekonomi di saat perusahaan menengah dan besar memutuskan hubungan kerja secara masif. Oleh karena itu, Bank Kalsel siap menyediakan permodalan kepada pelaku UMK dengan KUR Super Mikro,” katanya.
Foto: Ilustrasi UMKM (Rendy MR/TopBusiness)
