TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Untuk Indonesia Maju, Para Maestro Bicara di Seminar LKN Online

Nurdian Akhmad
12 November 2020 | 19:02
rubrik: Ekonomi, Event
Untuk Indonesia Maju, Para Maestro Bicara di Seminar LKN Online

Jakarta, TopBusiness –  Lima orang maestro budaya, Kamis siang (12/11/2020) ini, berkumpul dalam Seminar Lembaga Kajian Nawacita (LKN) Online bertema ”Sang Maestro untuk Indonesia Maju”.  Kelima maestro tersebut adalah I Nyoman Nuarta  (pematung nasional), Mujirun Engraver  (pelukis uang), Nanang Sharna (perajin batik dengan pewarna alam), Luluk Sumiarso  (pegiat ketoprak tokoh), dan Binton Nadapdap (kolektor foto dan data perjuangan).

Acara seminar yang digelar LKN untuk memperingati Hari Pahlawan ini didukung oleh Prakarsa Indonesia Maju dan Majalah TopBusiness. Selaku moderator seminar ini adalah Goenawan Loekito  (leadership, bisnis, & TI), sedangkan host acara M Lutfi Handayani (Humas LKN dan Pemred Majalah TopBusiness).

Nyoman Nuarta dalam seminar tersebut mengungkapkan keprihatinannya bahwa sekarang ini terjadi degradasi budaya di Tanah Air. Ini terjadi karena generasi saat ini tidak memanfaatkan modal budaya sendiri. Padahal, kebudayaan dan harga diri (dignity) yang bisa memperkokoh kedaulatan suatu negara. “Bangsa yang tidak punya budaya adalah bangsa yang tidak punya harga diri,” kata pematung yang sudah banyak membuat karya monumental di Tanah Air, antara lain patung Garuda Wisnu Kecana (GWK) di Bali.

Sebab itu, Nyoman yang selama hidupnya berkecimpung di bidang seni ini konsisten mengangkat budaya nusantara, khususnya patung. Selain di Bali, Nyoman memiliki studio patung di Bandung yang mempekerjakan sekitar 150 orang. Di masa pandemi covid 19 saat ini, mereka tetap bisa survive tanpa bantuan orang lain, termasuk pemerintah.

Hal yang sama juga terjadi ketika Nyoman selama 28 tahun membangun GWK nyaris tidak ada bantuan pemerintah. Kawasan yang dulunya bekas tambang kapur disulap menjadi taman wisata budaya yang menjadi favorit wisatawan karena ada patung dewa wisnu yang ukurannya cukup besar. “Saya hanya bersyukur, diberi umur dan bisa terus bekerja. Saya tidak punya saham di GWK, betul-betul itu kita berikan kepada masyarakat,” ujar seniman berusia 69 tahun ini.

BACA JUGA:   Inflasi Juli di 3,08%, Tertinggi di Merauke 5,21%

Berbeda dengan Nyoman Nuarta yang banyak membuat karya monumental yang berukuran besar, Mujirun Engraver selama kariernya di Perum Peruri banyak menghasilkan karya lukisan uang kertas yang menggunakan skala ukuran mikron. Sejak tahun 2009, Mujirun sudah menghasilkan 13 karya berupa lukisan uang. “Saya bukan desainer, saya seorang engraver atau pelukis uang,” kata lelaki 62 tahun asal Yogyakarta itu.  

Menurut Mujirun, untuk menjadi pelukis uang perlu kesabaran dan ketelitian.  Dia mengasah kemampuannya melukis uang hingga ke Swiss, Italia, Inggris, dan Hungaria. Di Indonesia, kata Mujirun, tidak banyak engraver atau  ahli pelukis uang. Sebab itu, ia berharap ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang membuka jurusan engraver.

Jaga Lingkungan dengan Pewarna Batik Alam

Sang maestro ketiga yang menjadi pembicara adalah Nanang Sharna, seorang fesyen desainer yang banyak menekuni batik dari pewarna alam. Di kota kelahiran Solo, lelaki berusia 54 tahun ini memiliki galeri yang memamerkan karya batik dari pewarna alam. 

Usahanya tersebut berawal ketika ia sering mengunjungi sentra-sentra batik di Pekalongan dan Cirebon dan melihat sungai di sekitar kawasan tersebut sering berubah warna, kadang kuning dan kadang hijau. Lalu ia mengetahui bahwa perubahan warna itu karena perajin batik setempat menggunakan pewarna kimia yang bisa merusak lingkungan dan berbahaya  untuk kesehatan.

“Saya terkaget kaget karena sungai itu banyak dipakai untuk mandi dan cuci. Dari situ saya mempelajari bagaimana saya menemukan pewarna alami karena itu sebenarnya banyak tumbuh subur di Indonesia, bisa dari getah kayu, buah-buahan, abu gunung api, tanah liat, dan karat besi,” ujar Nanang yang sebelumnya tinggal lama di Inggris.

Nanang juga mengajak perajin batik di Solo dan daerah lain untuk menggunakan pewarna alam dan beralih menggunakan pewarna alami yang mudah didapat di daerah sekitar.

BACA JUGA:   Sambangi Presdir Metro TV, LKN Bahas Penguatan Revolusi Mental

Mengangkat Pamor Ketoprak

Lain lagi yang disampaikan Luluk Sumiarso, seorang birokrat karier yang memiliki perhatian besar pada pengembangan budaya ketoprak di kalangan menengah atas. Kesenian khas jawa itu selama ini akrab di kalangan masyarakat menengah bawah. Untuk mengangkat gengsi ketoprak di kalangan menengah atas, Luluk yang pernah menjabat dirjen di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini mengajak tokoh-tokoh nasional dan pejabat untuk ikut bermain ketoprak.

Sejumlah tokoh nasional yang pernah digaet Luluk untuk main ketoprak antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assidiqi, beberapa menteri, gubernur, dirjen/sekjen di Kementerian, direksi BUMN, dan tokoh masyarakat.

“Kalau tokoh-tokoh ini yang main, maka keluarga tokoh, kolega tokoh akhirnya kan nonton ketoprak,” ujar Luluk dalam Seminar Online yang dihadiri sekitar 60 peserta.

Untuk bermain ketoprak, para tokoh tersebut tidak dibayar, tapi justru mereka yang dipungut biaya. Biaya tersebut yang dipakai untuk upaya pelestarian kebudayaan nusantara, termasuk membantu para pekerja seni.

Di samping menghelat ketoprak tokoh, Luluk juga mengikuti muhibah ke luar negeri antara lain ke Spanyol Belanda, Yunani, Chili, Vatikan dan Italia.

Untuk melestarikan kesenian ketoprak, Luluk pada tahun 2003 membangun sanggar bernama Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo di daerah Tangerang Selatan.  Di sanggar tersebut sebelum pandemi covid 19 rutin digelar  pertunjukan kesenian untuk mengangkat budaya nusantara, tidak hanya ketoprak.

“Pandemi ini  sangat berdampak kepada pegiat seni, karena itu di sanggar kami minggu ini akan menggelar wayang orang, tujuannya supaya mereka ada uang saku,” ujar Luluk.

Maestro terakhir yang menjadi pembicara adalah Binton Nadapdap, seorang kolektor foto dan data perjuangan. Di Museum Binton yang berada di daerah Cinere, Depok ini, Binton  smengoleksi ribuan foto-foto sejarah perjuangan, buku-buku sejarah yang langka, uang kuno, dan perangko.

BACA JUGA:   Jaga Pemulihan Ekonomi, BI Rate Diprediksi Bertahan di 3,50 Persen

Alasan dirinya menjadi kolektor foto-foto bersejarah, termasuk klise foto tersebut karena ingin melestarikan dokumen bersejarah yang tersebar di masyarakat. “Banyak dokumen bersejarah di republik ini, tidak hanya ada di pemerintahan, tapi juga banyak yang dimiliki masyarakat,” kata Binto yang mengaku aktivitasnya itu sudah dilakukan sejak tahun1991.

Tags: LKNSeminar LKN
Previous Post

IHSG Terkontraksi 50,91 Poin

Next Post

Saham Konstruksi Ini Potensi Lanjut Rally

Comments 1

  1. Mujirun Engraver says:
    6 years ago

    Ternyata dgn adanya Seminar , para Narasumber dlm pemaparan Nya . Luar Biasa yang mana dlm pencapaian suatu karya dibarengi dgn sebuah proses yg penuh dedikasi tinggi . Rasanya beliau 2 merupakan putra 2 Bangsa yg memiliki daya juang untuk Negeri dan tak memikirkan ……… Yg penting SDH berbuat sesuatu yg terbaik sesuai kemampuan yg dimiliknya . Semoga bermanfaat dan menginspirasi bagi putra-putri Bangsa ini. Salam 🙏🙏🙏

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR