Jakarta, TopBusiness—Masyarakat Indonesia konservatif dalam berinvestasi dan lebih memilih mendepositokan dana mereka. Investasi di pasar modal (saham dan obligasi) juga masih terbatas dan belum banyak dipahami masyarakat Indonesia, walaupun obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil lebih dari 7%.
“Hal ini mengindikasikan, edukasi pasar seputar produk investasi perlu dikembangkan dengan cepat dan seluruh pelaku industri perlu menggunakan waktu dan dana untuk menambah jumlah nasabah baru pada masa mendatang,” kata Executive Director, Talent Rotation, Wealth Management, Bank DBS Indonesia, Koh Keng Swee, dalam penjelasan tertulis hari ini.
Dia mengatakan, mendigitalkan produk kelolaan kekayaan dan menyediakan perencanaan keuangan yang kuat, adalah cara Bank DBS Indonesia mendemokratisasikan layanan pengelolaan kekayaan, dan membawa layanan tersebut ke segmen masyarakat Indonesia yang lebih luas.
Hal ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia untuk mempercepat digitalisasi sektor keuangan. “Selain itu, bagi kami di Bank DBS Indonesia, digitalisasi internal sama pentingnya dengan digitalisasi eksternal.”
Tim user experience Bank DBS memainkan peranan yang penting karena mereka secara langsung memengaruhi pengalaman nasabah. “Oleh karena itu, saat merancang seluruh proses, kami juga mempertimbangkan proses yang memberikan kemudahan bagi Relationship Manager dan Investment Consultant kami, baik dalam menentukan harga, penempatan, atau penyelesaian akhir transaksi.”
Dalam merancang solusi digital, Bank DBS Indonesia berfokus terutama pada relevansi dengan nasabah, dengan penyampaian dan isi pandangan keuangan, yang disesuaikan dengan segmen kekayaan yaitu mulai dari lower wealth hingga nasabah kelas atas.
Kategori lower wealth membutuhkan pendidikan dasar keuangan dan produk yang lebih mendasar, sedangkan kelas atas membutuhkan produk lebih canggih, fokus internasional lebih luas, dan lebih banyak masukan tentang kecenderungan dan prospek pasar.
Sumber Foto Ilustrasi: Istimewa
