TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bangun Sinergi WIKA – CNI, Percepat Pembangunan Proyek Strategis Nasional Smelter Ferronickel

Albarsyah
30 November 2020 | 08:59
rubrik: BUMN
Bangun Sinergi WIKA – CNI, Percepat Pembangunan Proyek Strategis Nasional Smelter Ferronickel

Jakarta, TopBusiness –  PT Ceria Metalindo Indotama [CMI], entitas anak PT Ceria Nugraha Indotama [CNI] menandatangani kontrak kerja sama dengan PT  WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. [WIKA] untuk sinergi EPC (Engineering, Procurement,  and Construction) Proyek Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Nikel  Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Produksi 3 & 4 (2 x72 MVA) dengan nilai kontrak  sebesar Rp2,8 triliun dan US$180 juta.

Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PT CNI, Derian Sakmiwata dan  Direktur Operasi II WIKA, Harum Akhmad Zuhdi, serta disaksikan oleh Manajemen  kedua Perusahaan di Jakarta, Jum’at (27/11). WIKA mendapat kepercayaan sebagai  pelaksana proyek tersebut berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi  dan verifikasi oleh PT CNI.

Pabrik Feronikel tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, dimana masing-masing  lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama yaitu: Rotary Dryer berkapasitas  196 ton/jam (wet base), Rotary Kiln berkapasitas 178 ton/jam (wet base), Electric  Furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya dengan target  penyelesaian proyek pada tahun 2023 dan mampu mencapai kapasitas produksi  sebesar 27.800 ton Ni/year (Ferronickel 22%Ni).

Selain CMI, entitas anak dari CNI yang juga melakukan tanda tangan kerja sama  dengan WIKA adalah PT Ceria Kobalt Indotama [CKI]. Kerja sama keduanya berfokus  pada sinergi EPC (Engineering, Procurement, and Construction) Proyek Nickel Laterite  Hydrometallurgy beserta power plant dengan estimasi nilai kontrak sebesar US$1,1 miliar.

Proyek Pembangunan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt dengan Teknologi (HPAL) yang menjadi inti pada kerja sama dengan CMI – WIKA tersebut diproyeksikan  memiliki kapasitas produksi per tahun sebesar 100.000 ton/tahun Mixed Hydroxide  Precipitate (MHP) (40% Ni dan 4% Co dalam MHP) dan 158.000 ton/tahun konsetrat  Chromium.

BACA JUGA:   Bisnis HK terus Tumbuh Sejalan TJSL

Fasilitas produksi utama pada pabrik tersebut adalah Ore preparation facility dan Hydrometallurgical plant berkapasitas 3,6 juta ton/tahun (dry base), Limestone  treatment plant berkapasitas 770 ribu ton/tahun (wet base), Sulfuric Acid Plant berkapasitas 550 ribu ton/tahun, Residue storage facilites berkapasitas 970 ribu ton  tailing serta peralatan penunjang lainnya.

“Semoga dengan ditandatanganinya kontrak strategis ini, PT CNI bisa mengoptimalkan  besarnya potensi nikel di dalam negeri dan menjadikan industri hulu dan hilir nikel  sebagai sektor yang diprediksi bakal prospektif dalam beberapa tahun ke depan.  Semoga dengan semangat merah putih yang menjadi semangat kita semua, komoditas  nikel menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan industri logam dasar, sekaligus  pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Derian, optimistis.

Rencananya Proyek yang berlokasi di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara ini akan berlangsung selama 36 bulan kalender kerja. Lingkup pekerjaan Perseroan meliputi:  Engineering, Procurement, Construction, Commisioning, dan Financing.

“WIKA menyambut positif kepercayaan besar yang diberikan oleh PT Ceria Nugraha  Indotama. Insha Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang  memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di  tanah air dan dunia,” ujar Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito dalam  sambutannya.

Mengimplementasikan Teknologi Terkini

Proyek Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Nikel dalam  pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute Rotary Kiln – Electric Furnace yang  sudah terbukti (proven) untuk mengolah bijih nikel kadar 1,59% Ni menjadi ferronickel  dengan kadar 22%. 

Berbeda dengan pabrik nikel di Indonesia pada umumnya yang menggunakan electric  furnace tipe circular, pabrik ini menggunakan electric furnace tipe rectangular yang  memiliki keunggulan, antara lain, pertama, memiliki konsumsi energi/ton atau  kWh/ton yang lebih efisien karena menggunakan desain electrode yang tercelup slag  (submerged). 

BACA JUGA:   Ini Keuntungan Gasifikasi Batu Bara Sumsel

Kedua, memiliki service life yang lebih lama karena fleksibilitas struktur rectangular  yang sangat baik mengatasi masalah ekspansi furnace. Ketiga, Memiliki tingkat  recovery Ni yang lebih baik, melalui bagian slag settling yang diperpanjang oleh  dimensi rectangular.

Sementara, Proyek Pembangunan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt yang  menjadi inti pada kerja sama dengan CKI – WIKA, teknologi yang akan digunakan  adalah teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang sudah terbukti (proven)  untuk mengolah bijih nikel limonit kadar 1,25% Co and 0,13% Ni menjadi Mixed  Hydroxide Precipitate dengan kandungan 40 ribu ton Nikel/tahun dan 4 ribu ton  Kobalt/tahun sebagai bahan baku komponen baterai kendaraan listrik.

Produk sampingan (byproduct) yang bernilai ekonomis dari HPAL plant ini adalah  konsentrat Kromium sebesar 158 ribu ton/tahun.

Teknologi HPAL mampu memanfaatkan bijih nikel kadar rendah (limonit) untuk diambil  mineral berharganya seperti kobalt dan nikel secara ekonomis, dikarenakan Konsumsi  energi yang rendah, sehingga meminimalisir biaya operasional (Opex) dan memiliki  tingkat perolehan (recovery) Nikel dan Kobalt yang tinggi hingga 90%. 

Kedua proyek yang ditandangani sore ini, semakin menambah portofolio WIKA yang  sebelumnya telah berhasil menyelesaikan Pabrik Feronikel RKEF Halmahera Timur;  Ore preparation line 4 MOP – PP RKEF FeNi Pomalaa, Sulawesi Tenggara; RKEF Non  Crucible Furnace MOP – PP Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Refining System MOP PP  RKEF FeNi 1 Pomalaa, Sulawesi Tenggara; dan Chemical Grade AluminaTayan,  Kalimantan Barat. 

Previous Post

GSM Award 2020, Apresiasi Pengelola Media Sosial Pemerintah di Tengah Pandemi

Next Post

Kementerian PUPR Telah Lelang Dini 4.060 Paket Senilai Rp 46,64 Triliun TA 2021

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR