Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksi jumlah penerbitan surat utang atau obligasi korporasi di tahun depan bakal mencapai rentang Rp122 triliun hingga Rp159 triliun. Jumlah angka tersebut tentu saja lebih banyak dari tahun ini yang hanya di kisaran Rp88,4 triliun sampai Rp106,7 triliun.
Menurut Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra, selain perekonomian yang diprediksi mulai membaik di tahun depan seiring dengan mulai adanya vaksin Covid-19, ditambah adanya beberapa surat utang yang bakal jatuh tempo, Pefindo melihat jumlah penerbitan obligasi akan jauh lebih banyak lagi ketimbang tahun ini.
“Pefindo telah memproyeksi penerbitan surat utang korporasi tahun 2021 akan berkisar antara Rp122,0 triliun sampai Rp159,0 triliun. Hal ini seiring dengan jumlah surat utang yang jatuh tempo di tahun depan akan mencapai Rp121,9 triliun,” tutur Salyadi dalam acara Media Forum Pefindo yang digelar secara virtual, di Jakarta, Kamis (17/12/2020).
Untuk tahun ini, kata dia, semula di awal tahun 2020, Pefindo juga memproyeksi penerbitan surat utang korporasi tersebut mencapai 158,5 triliun. Namun kemudian, gara-gara ada pandemi Covid-19 menyebabkan Pefindo melakukan revisi proyeksi penerbitan surat utang korporasi 2020, yakni di kisaran Rp88,4 triliun hingga Rp106,7 triliun.
Dan hingga 30 November 2020 penerbitan obligasi baru sebanyak Rp84,46 triliun. Yang terdiri dari penerbitan listed mencapai Rp77,53 triliun, masih lebih kecil dibanding 2019 di angka Rp120,96 triliun. Adapun untuk penerbitan non-listed mencapai Rp6,93 triliun (sementara penerbitan untuk periode yang sama di 2019 mencapai Rp12,65 triliun).
“Adapun realisasi hingga 15 Desember 2020, jumlah penerbitan surat utang korporasi nasional mencapai Rp94,60 triliun. Dengan jumlah penerbitan terbesar terjadi di bulan September, yang mencapai Rp19,85 triliun,” kata dia.
Lebih jauh dia melanjutkan, terkait dengan prediksi nilai obligasi jatuh tempo di tahun depan 2021 untuk kuartal I sebanyak Rp22,5 triliun, kuartal II mencapai Rp31,7 triliun, kuartal III sebesar Rp38,1 triliun dan kuartal IV senilai Rp29,6 triliun.
“Utang jatuh tempo itu berasal dari industri masing-masing dari perbankan (20,7%), multifinance (17,8%), lembaga keuangan khusus (16,8%), industri pembiayaan (8,8%), pertambangan (5,0%), property (4,3%), konstruksi (4,0%), telekomunikasi (3,9%), dan lainnya sebesar 18,8%,” jelas dia. Untuk tahun ini, Pefindo juga mendapat mandat penerbitan obligasi yang belum terealisasi per 10 Desember 2020 mencapai Rp44,69 triliun. Jumlah tersebut didominasi oleh industri pembiayaan (14,54%); perbankan (10,52%); dan Pulp & Paper (10,42%).
Foto: Istimewa
