Jakarta, TopBusiness – Di tengah pandemic covid-19, hampir semua sektor terdampak. Tak terkecuali sektor televisi free-to-air (TV FTA). Namun begitu, dengan mulai ditemukannya vaksin Covid, diharapkan adanya pemulihan ekonomi yang akan berlanjut hingga tahun depan.
Kondisi ini diakui oleh salah satu pengelola TV FTA, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang memiliki dua TV FTA, yakni tvOne (PT Lativi Mediakarya) dan ANTV (PT Cakrawala Andalas Televisi) yang sebesar 99 persen sahamnya dimiliki oleh PT Intermedia Capital Tbk (MDIA). Selain dua TV FTA, VIVA juga memiliki portal berita online, viva.co.id yang dikelola PT Viva Media Baru.
Usai menggelar papan publik VIVA dan MDIA secara virtual pada hari ini, manajemen VIVA mengaku sangat yakin akan masa depan industri TV FTA. Apalagi, hingga sekarang TV FTA di Indonesia tetap menjadi platform utama untuk beriklan. Hal ini tercermin dari nilai belanja iklan bersih secara nasional per akhir 2019 tercatat mencapai US$ 1,32 miliar dan diproyeksikan pada 2024 masih akan mampu bertahan sebesar US$ 1,29 miliar di tengah peningkatan belanja iklan melalui media internet.
“Dan sejauh ini, stasiun TV FTA VIVA terbukti sukses dalam membidik pangsa pemirsa yang berbeda, tercermin dari segmen pasar tvOne yang didominasi pemirsa pria dengan rentang usia 35-55 tahun ke atas. Sedangkan, ANTV lebih dominan disaksikan oleh kalangan wanita yang memiliki rentang usia 45-55 tahun ke atas,” demikian sebut keterangan resmi perseroan yang diterima media, di Jakarta, Rabu (30/12/2020).
Untuk itu, manajemen VIVA optimistis bahwa recovery pertumbuhan ekonomi pasca penemuan vaksin Covid-19 tersebut akan berlanjut hingga tahun mendatang. “Sehingga belanja iklan bisa kembali bertumbuh,” imbuhnya lagi.
Laporan terakhir dari Media Partners Asia (MPA) juga memprediksi bahwa pertumbuhan belanja iklan di 2021 pada TV FTA platform akan meningkat 7,5 persen (y-o-y) menjadi USD1,2 miliar diikuti dengan pertumbuhan belanja iklan di sektor digital sebesar 31,1 persen (y-o-y) menjadi USD700 juta.
Secara umum, performa TV Share VIVA Group mengalami penurunan yang diakibatkan oleh kondisi new normal di masa pandemi Covid-19. Kendati tidak ada penayangan One Pride maupun One Prix, namun VIVA mengaku bahwa tvOne tetap menjadi TV berita #1.
Sementara untuk menjaga kondisi keuangan perseroan, VIVA berencana untuk mengajukan restrukturisasi fasilitas utang existing melalui pembiayaan kembali dalam mata uang rupiah. Langkah ini disebut manajaman sebagai upaya menurunkan risiko nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Dan rencana deleveraging utang tersebut dilaporkan manajemen VIVA pada materi Paparan Publik Tahunan tersebut. Manajemen VIVA menyampaikan, perseroan juga berencana untuk mendapatkan tambahan fasilitas kredit modal kerja.
“Fasilitas utang dari bank lokal memiliki tenor pinjaman yang lebih panjang, serta bunga yang lebih kompetitif,” demikian disebutkan dalam keterangan resmi VIVA lagi.
Sementara itu, pada agenda Public Expose Tahunan MDIA, Direktur Utama MDIA, Arief Yahya mengakui bahwa dampak pandemi Covid-19 telah menekan bisnis perseroan, tercermin dari penurunan performaTV share ANTV. “Di awal pandemi Covid-19, sekitar Maret 2020, tv share kami sempat menurun sampai di bawah 8 persen,” kata Arief.
Namun, jelas dia, penurunan tersebut tidak berlangsung lama dan kondisi ANTV mampu kembali pulih. “TV share kami naik lagi di atas 9,5 persen,” ujar Arief seraya menyebutkan bahwa ada hal menarik terkait market share atau revenue share ANTV yang justru berada di atas 10 persen. “Ini yang membuat power ratio kami sangat bagus, sekitar 120 persen,” tegas Arief.
FOTO: Istimewa

