Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan Obligasi Berkelanjutan I 2016 menjadi “idBBB+” dari sebelumnya “idA-”, dan merevisi outlook peringkat perusahaan menjadi “stabil” dari sebelumnya “negative”.
Tindakan ini dipicu oleh pengaruh lanjutan dari COVID-19, terutama terhadap segmen hotel Perusahaan. Meskipun pendapatan hotel SSIA pada kuartal III tahun 2020 bertumbuh sebesar 123,3% dibandingkan dengan kuartal II, namun raihan di kuartal III itu hanya mencerminkan sekitar 15% pendapatan hotel di kuartal I-2020.
“Kami juga percaya bahwa penerapan ulang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jawa dan Bali menyusul lonjakan kasus baru akan menghambat prospek pemulihan operasional hotel SSIA,” proyeksi analis Pefindo, Yogie Surya Perdana dan Umar Hareddy, dalam risetnya, di Jakarta, Jumat (15/1/2021).
Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi juga, kata analis, memengaruhi kawasan industri dan konstruksi SSIA karena transaksi penjualan tanah dan raihan kontrak baru jauh lebih rendah dari yang diperkirakan.
Akibatnya, profil keuangan SSIA hingga akhir September 2020 turun ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kemungkinan peningkatan profil keuangannya diyakini akan sangat terbatas mengingat tingkat ketidakpastian yang tinggi seputar kapan COVID-19 dapat teratasi.
“Meskipun demikian, SSIA terus menerapkan inisiatif biaya dan keputusan kebijakan keuangan yang signifikan, termasuk menegosiasikan ulang persyaratan dengan kreditornya, untuk meminimalkan kerugian pendapatan yang disebabkan oleh COVID-19,” ujarnya.
Obligor dengan peringkat idBBB memiliki kemampuan yang memadai dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya. Walaupun demikian, kemampuan obligor lebih mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi.
“Tanda tambah (+) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif kuat dan di atas rata-rata kategori yang bersangkutan,” katanya.
Peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar SSIA yang kuat di industri konstruksi swasta, aset hotel yang baik, dan ekspektasi Pefindo bahwa kinerja di segmen kawasan industri akan meningkat dalam jangka waktu menengah, yang akan memberikan peningkatan margin pada Perusahaan.
Namun, lanjutnya, peringkat dibatasi oleh profil keuangan perusahaan yang lemah, ketergantungan yang tinggi pada sumber dana eksternal untuk mengelola kebutuhan modal kerja untuk operasional hotel, dan sensitivitas bisnis properti dan konstruksi terhadap perubahan ekonomi makro.
“Peringkat dapat dinaikkan jika kami yakini bahwa lingkungan operasi telah normal kembali dan prospek pemulihannya kuat sehingga SSIA dapat meningkatkan profil keuangannya lebih cepat dari yang diharapkan. Namun, peringkat dapat diturunkan jika ada perubahan struktural di sektor hotel karena perubahan perilaku konsumen yang disebabkan oleh pandemi, yang mengakibatkan hunian rata-rata hotel SSIA tetap lemah untuk waktu yang lama,” bebernya.
Pefindo juga dapat menurunkan peringkat jika pemburukan ekonomi akibat COVID-19 akan terus memberikan tekanan kepada segmen kawasan industri dan konstruksi SSIA, yang masing-masing ditunjukkan oleh penjualan pemasaran dan raihan kontrak baru yang secara signifikan lebih rendah dari yang diharapkan.
“Selain itu, kami dapat menurunkan peringkat jika kami yakini bahwa SSIA menghadapi risiko likuiditas yang tinggi, karena ketidakmampuannya untuk mempersiapkan dana yang diperlukan secara tepat waktu untuk melunasi obligasi senilai Rp390 miliar yang jatuh tempo pada 21 September 2021,” terangnya.
Sebagai salah satu perusahaan properti yang paling terdiversifikasi, bisnis SSIA diklasifikasikan menjadi tiga divisi yang terdiri dari konstruksi, properti (kawasan industri, real estate, dan penyewaan properti), dan perhotelan. Per 30 September 2020, pemegang sahamnya adalah PT Arman Investments Utama (kepemilikan 9,3%), PT Persada Capital Investama (8,1%), Intrepid Investments Limited (8,0%), Reksa Dana HPAM Ekuitas Progresif (6,6%), dan lainnya termasuk publik (67,9%).
FOTO: Istimewa
