Jakarta, TopBusiness – PT Brantas Abipraya (Persero) sebagai salah satu BUMN bidang konstruksi tanggap memberikan bantuan terhadap korban bencana gempa yang terjadi di Mamaju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) pada akhir pekan lalu. Brantas Abipraya mengerahkan alat berat yaitu empat unit excavator, delapan unit dump truck 10.000 liter solar dan sembako ke lokasi bencana.
Seperti diketahui, gempa berkekuatan magnitude 6,2 membuat sejumlah bangunan bertingkat di kota Mamuju roboh dan beberapa akses jalan pun terputus longsoran.
“Atas nama Brantas Abipraya, kami turut berduka cita yang mendalam. Kami pun turut berbelasungkawa atas jatuhnya korban meninggal dunia dalam bencana gempa bumi yang terjadi di Majene-Mamuju. Kami tiba di lokasi bencana sejak Sabtu (16/01), siap membantu dan terus berkoordinasi terkait kebutuhan bantuan bagi korban, termasuk jika perlu penambahan alat berat lainnya,” tutur Sofyan Saladin selaku Manager Operasi 2, Divisi Operasi 2 Brantas Abipraya dalam siaran persnya yang diterima redaksi, Senin (18/1/2021).
Menurut Sofyan, alat berat sangat dibutuhkan untuk membongkar reruntuhan bangunan rumah dan gedung, tumpukan beton dan besi-besi. Tak hanya itu, kehadiran alat berat ini juga dipergunakan untuk membantu membuka akses jalan, membersihkan puing-puing. BUMN konstruksi yang juga turut mendukung beberapa proyek strategis dalam program Nawacita Presiden Jokowi ini berharap, bantuan excavator bisa mempercepat proses evakuasi para korban yang tertimpa reruntuhan.
Sofyan juga mengatakan bahwa alat berat dibawa langsung dari proyek Brantas Abipraya terdekat yang saat ini sedang dikerjakan perseroan yaitu proyek PLTM Maiting Hulu di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Tim proyek pun dikerahkan, yaitu dari proyek Daerah Irigasi (DI) Salugan di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, proyek Irigasi Baliase di Sulawesi Selatan dan proyek Bendungan Budong-Budong yang berlokasi di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat untuk membantu evakuasi para korban.
Bersama tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), tim Brantas Abipraya diarahkan untuk menuju lokasi bencana untuk segera membersihkan akses, membuka konektivitas jalan dari sedimen lumpur tinggi dan batang pohon akibat longsor pasca gempa yang memotong jalan dan mengevakuasi korban yang berada di dalam bangunan runtuh.
Gempa di Mamuju berpusat enam kilometer timur laut Kabupaten Majene 2,98 LS-118,94 BT pada kedalaman 10 kilometer. Gempa susulan dengan magnitudo 6,2 dirasakan warga Majene, Sulawesi Barat. Gempa terjadi selama 5 hingga 7 detik. Walau hanya dalam hitungan detik, getaran gempa terasa hingga Mamuju, Makasar dan Palu. Sejumlah gedung dilaporkan rusak, termasuk rumah sakit Mamuju, kantor Gubernur Sulawesi Barat dan RSUD Mamuju rusak berat.
Selain itu, gempa ini juga mengakibatkan longsor di 3 titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju, sehingga akses jalan terputus. Brantas Abipraya berkomitmen akan selalu siaga membantu Majene dan Mamuju, sebagai bukti konkret BUMN selalu ada untuk Sulawesi Barat, untuk Indonesia.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimulyono dalam kunjungannya ke lokasi bencana, Minggu (17/1/2021), mengatakan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pembukaan akses jalan penghubung antara Majene dan Mamuju.

Basuki juga mengatakan selama dua minggu ini juga akan menyelesaikan pembersihan puing-puing bangunan yang rusak akibat gempa dan juga pembangunan fasilitas penunjang kebutuhan warga di pengungsian.
“Ya, sesuai yang disampaikan Menteri PUPR, kami akan bergegas membersihkan Mamuju dan Majene. Dapat dilihat keadaan di sini banyak longsoran tanah, batang pohon yang rubuh hingga beton-beton yang runtuh dan berserakan, menutupi akses jalan penghubung. Kami harap alat berat serta personeI kami juga dapat meringankan tugas Basarnas yang telah menurunkan tim SAR dalam proses evakuasi. Semoga Mamaju dan Majene dapat lekas pulih dan bangkit kembali,” kata Sofyan.
