Jakarta, TopBusiness – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), entitas baru hasil penggabungan tiga bank syariah Himbara yang efektif beroperasi 1 Februari lalu, baru saja memulai debut di pasar modal ditandai dengan Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (opening bell ceremony) pada Kamis (4/2/2021).
Debut Bank Syariah Indonesia di pasar modal tersebut diikuti naiknya harga saham emiten berkode BRIS ini sebesar 0,73% dari harga pembukaan di level Rp2.750 menjadi Rp 2.770 per lembar ketika pasar dibuka.
Namun hingga penutupan hari ini ternyata ditutup melemah. Tercatat, mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BRIS dibuka Rp2.770 dan sempat meningggi di level Rp2.820, lalu ditutup di sesi I perdagangan ke posisi melemah di 2.730. Dan hingga perdagangan hari ini turun 2,55% ke posisi Rp2.680.
Dan hari ini, setelah diresmikan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, PT Bank Syariah Indonesia Tbk turut memperkenalkan diri kepada para investor dan pelaku pasar modal dalam kegiatan bertajuk IDX Debut di Main Hall BEI.
Kendati hari ini diperdagangkan menurun, jika dilihat sejak pertama kali melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), saham BRIS sudah naik berkali-kali lipat. Menurut Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi, harga saham BRIS pada saat IPO lalu hanya sebesar Rp 510, sedangkan per 3 Februari 2021 harga saham BRIS sudah mencapai Rp 2.750 per lembar saham.
“Artinya, harga saham ini sudah naik sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Selain itu, market cap BRIS pada saat IPO sebesar Rp 4,96 triliun. Per 3 Februari 2021 lalu, kapitalisasi pasar BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp112,84 triliun,” kata Hery.
Lebih jauh dia menegaskan, melihat kinerja saham BRIS yang positif di tengah pandemi, pihaknya berharap BRIS dapat menjadi primadona di bursa. Dan ke depan BRIS bisa dapat masuk ke dalam Index IDX BUMN20.
“Selain itu, kami berharap kinerja ini semakin mendorong dan menginspirasi sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah lain untuk melantai di bursa,” tegas Hery.
Bank Syariah Indonesia berstatus sebagai perusahaan BUMN terbuka dan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode BRIS.
Komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 50,95 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 24,91 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,29 persen, DPLK BRI – Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.
FOTO: Istimewa
