Jakarta, TopBusiness – Pakar GCG nasional, Mas Achmad Daniri, hari ini meluncurkan buku terbaru hasil tulisannya berjudul “Lead by CSV, Paradigma Baru Penerapan CSR”. Peluncuran buku ini ditandai dengan kegiatan webinar tentang Creating Shared Value (CSV) yang dihadiri sekitar 230 peserta dari kalangan pelaku bisnis, profesional, akademisi. dan masyarakat umum.
Kegiatan Webinar dan Peluncuran Buku ini digelar oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) didukung oleh majalah TopBusiness, MM Sustainability Universitas Trisakti dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Acara webinar diawali dengan penyampaian keynote speaker oleh Erna Witoelar selaku Anggota Dewan Pembina Yayasan KEHATI dan Hasan Fawzi selaku Direktur Pengembangan PT BEI.
Sedangkan pembicara Webinar ini adalah Mas Achmad Daniri, DR Maria R Nindita Radyati (founding director MM-Sustainability Universitas Trisakti), Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia), Riki Firmandha Ibrahim (Dirut PT Geo Dipa Energi), Achmad Izzul Waro (Direktur Pengembangan PT Transportasi Jakarta), dan Jajat Sudrajat dari PT Pupuk Indonesia. Dan, selaku moderator adalah M Lutfi Handayani MM, MBA (Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness).
Erna Witoelar dalam sambutannya menyatakan, Yayasan KEHATI sebenarnya sudah lebih 30 tahun mendorong berkembangnya CSR di Indonesia. Secara khusus, KEHATI mendorong korporasi untuk menjalin kemitraan dengan lembaga nonprofit dalam pelestarian keanekaragaman hayati melalui skema pendanaan CSR.
“Saat ini program-program CSR tidak hanya kemitraan antara korporasi dengan LSM dan masyarakat, tetapi juga sudah melibatkan pemerintah di daerah dalam kolaborasi public private partnership,” tuturnya.
Erna menilai, pendekatan baru melalui CSV ini sangat relevan bagi kondisi Indonesia saat ini dan masa depan jika dilakukan dengan benar dan baik. Penciptaan nilai bersama antara korporasi, LSM dan masyarakat penerima manfaat akan menghasilkan program-program pembangunan yang mampu mengatasi secara nyata persoalan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Hasan Fawzi menyatakan, CSR merupakan salah satu bagian starategi bisnis jangka panjang sebuah perusahaan. Dalam penerapannya itu bukan hanya kegiatan filantropi semata, tapi mengharuskan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh ikut memperhitungkan dampak dari aktivitas bisnisnya terhadap seluruh stakeholder perusahaan.
“CSR juga dapat meningkatkan citra perusahaan yang secara implisit dapat menggambarkan bahwa prilaku perusahaan secara fundamental dapat dikatakan baik. Oleh karena itu, CSR ini sangat berhubungan erat dengan keuangan berkelanjutan,”
Di industri keuangan, menurut Hasan, pemerintah di OJK dan BEI sudah mengatur penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten terutama bagi perusahaan publik.Misalnya dalam POJK Nomer 51 Tahun 2017 yang mewajibkan lembaga-lembaga keuangan untuk membuat rencana aksi keuangan berkelanjutan atau RAKB. Selain itu, lembaga jasa keuangan, emiten maupun perusahaan publik diwajibkan membuat Sustainability Report yang memuat kinerja ekonomi, kinerja keuangan, sosial dan lingkungan hidup.
Selain di industri keuangan, di industri pasar modal, OJK dan BEI sudah menerbitkan serangkaian regulasi untuk mewujudkan GCG. Beberapa peraturan OJK seperti pedoman tata kelola perusahaan yang mengatur organ-organ GCG seperti pelaksanaan RUPS, pengangkatan direksi dan dewan komisaris serta pembentukan komite audit.
“Ini diiimplemnentasikan untuk memastikan bahwa penyelenggaraan perusahaan publik selalu dijalankan dengan baik oleh manajemen. Sehingga tentu pada akhirnya bisa melindungi kepentingan investor publik dan masyarakat luas,” ujar dia.

Tingkatkan Citra Perusahaan
Mas Achmad Daniri dalam presentasinya menyampaikan bahwa Creating Share Value (CSV) merupakan pendekatan strategis untuk memastikan kesinambungan bisnis bersinergi dengan pemangku kepentingan. Bisnis hanya dapat tumbuh berkesinambungan di lingkungan yang kondusif.
“Untuk memastikan tercapainya kinerja yang berkesinambungan, perusahaan berkepentingan untuk meningkatkan kualitas sosial dan lingkungan yang bersentuhan dengan kegiatan bisnisny,” tutur Daniri.
CSV, menurut dia, dapat menjadi strategi perusahaan yang sifatnya beyond the rules and regulations, selaras dengan visi, misi, tata nilai dan strategi perusahaan. Terintegrasinya program CSV dengan strategi bisnis, perusahaan dapat berkontribusi pada bisnis secara berkelanjutan. “Selain itu tentu dapat meningkatkan citra perusahaan dan hubungan harmonis dengan para pemangku kepentingan,” ucapnya. .
Menurut Daniri, penerapan CSV secara utuh dan terintegrasi kedalam bisnis merupakan penuntasan penerapan GCG (dari prinsip menjadi kultur) dan menjadi wujud nyata perilaku bisnis yang beretika.
Dalam presentasinya, Daniri juga menyampaikan soal pemetaan dampak negatif serta potensi pengembangan program CSR terkait strategi bisnis. Disampaikan pula soal Matriks Program CSR dan Justifikasi Pembobotan Nilai.
Beda Traditional CSR dan CSV
Sementara itu, Maria Nindita menyampaikan materi berjudul Konsep CSV, Pelaksanaan dan Peluangnya di Indonesia. Dia mengawali presentasinya dengan bertanya mengapa perlu CSV? Selama ini, kata Maria, pemahaman orang tentang CSR itu banyak yang masih salah.
“Banyak yang suka salah. CSR itu Cuma Soal Rupiah atau Cuma Sosial Ranahnya. Kemudian kalau CSR itu banyak dalam bentuk donasi-donasi maka akan membuat masyarakat kecanduan dengan bantuan tersebut. Kalau perusahaan tidak memberikan bantuan, maka perusahaan bisa dijadikan sandera oleh masyarakat. Persepsi yang salah atau praktik-praktik yang kurang tepat itu justru bisa menjadi racun baik untuk pelaksanaan bisnis perusahaan maupun meracuni masyarakat,” kata Maria.
Pelaksanaan CSR yang benar, menurut Maria, guidennya adalah ISO 26000. Dia juga menyatakan bahwa CSR dengan pendekatan CSV itu berbeda dengan CSR tradisional. Dilihat dari motivasinya, CSR kebih banyak pada reputasi, sedangkan CSV adalah untuk memenangkan persaingan bisnis. “Kemudian main driver untuk traditional CSR itu adalah external stakeholder, sedangkan CSV, main driver-nya adalah strategi dari corporate,” tutur dia.
Selain itu, menurut Maria, approach untuk traditional CSR adalah reaktif, sedangkan pendekatan CSV adalah proaktif. Pengukuran keberhasilan traditional CSR adalah berapa banyak anggaran yang dikeluarkan untuk kegiatan CSR.
“Berapa banyak program CSR yang dibuat, dayangn ang penting kita sudah memenuhi governance, environmental dan social matrix. Tapi kalau CSV itu mengukur value creation dari sisi ekonomi dan nonekonomi atau social dan environment,” kata Maria.
Terkait management, dalam traditional CSR itu berada di bawah satu departemen khusus yang menangani CSR atau public affair. Sedangkan CSV itu accros the whole firm artinya seperti konsep ISO 26000 yaitu dijalankan oleh seluruh departmen, mengikuti 7 core subject seperti yang ada dalam ISO. “Minimal ada 6 departemen yang terlibat,” ucap Maria Nindita.
Pada kesempatan itu, Maria mencontohkan keberhasilan penerapan CSV di beberapa perusahaan antara lain di Nestle, PLN dan Pegadaian. Menurut dia, implementasi konsep CSV menjadi peluang terutama bagi BUMN karena adanya anjuran dari Kementerian BUMN untuk melaksanakan CSV, minimal satu program. Itu karena CSV terbukti meningkatkan kinerja finansial dan nonfinansial perusahaan (sosial, ekonomi dan tata kelola/environmental-social governance). “Filantrofi strategis melalui social investment dapat pula menjadi CSV,” kata Maria.
Sedangkan pembicara lain dari kalangan korporasi banyak mengungkapkan soal pengalaman dan keberhasilan pelaksanaan CSR di masing-masing perusahaan.
