Jakarta, TopBusiness – Sejak berdiri pada 2011, PT Jamkrida Bali Mandara (JBM) telah menjadi salah satu BUMD yang sangat konsisten dalam mendorong laju perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satunya melalui peningkatan akses pembiayaan dari Lembaga Jasa Keuangan (LJK) baik bank dan non bank melalui Produk Penjaminan Kredit PT JBM.
Direktur Utama Bali Mandara I Ketut Widiana Karya mengatakan kendala yang kerap dialami oleh UMKM adalah kesulitan mengakses permodalan kepada LJK karena mengalami kesulitan jaminan.
“Inilah tugasnya JBM dimana saat UMKM melakukan pinjaman, memohon pinjaman ke lembaga keuangan seringkali jaminannya tidak cukup. Kekurangan jaminan inilah tugasnya kami di JBM sehingga UMKM mendapatkan pinjaman sesuai dengan kebutuhan dan kelayakannya sehingga UMKM terbantu dan tujuan pemerintah mendorong ekonomi bertumbuh dapat diwujudkan,” kata I Ketut Widiana Karya dalam wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2021 yang diselenggarakan Majalah Top Business secara virtual pada Kamis ( 3/6/2021).
Ia menambahkan selain dukungan akses kredit ke LJK untuk UMKM, PT JBM juga aktif memberikan edukasi kepada banyak UMKM di Bali terkait dengan Manajemen Usaha melalui Jasa Konsultasi Manajemen PT JBM berupa Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Directing) dan Pengendalian (Controling) yang dapat diterapkan pada seluruh kegiatan usaha.
Dalam upaya penjaminan kredit kepada masyarakat Bali melalui skema kredit penguatan modal kepada UMKM PT JBM melakukan penempatan dana di PT Bank Pembangunan Bali, sehingga dapat disalurkan berupa kredit program tersebut. Adapun hingga April 2021 nilai penempatan dana berupa deposito sebesar Rp 46.980.000.000,- dan berupa tabungan sebesar Rp 10.142.660.081.
“Kami berharap dengan keberadaan PT JBM dengan berbagai program dukungan untuk UMKM akan membuat UMKM jadi lebih mudah mengakses pembiayaan/kredit ke Perbankan, sehingga akan membawa dampak positif terhadap perekonomian di Bali dan tentunya hal tersebut membuka peluang investasi yang sebesar-besarnya bagi Investor untuk menanamkan modalnya di Bali,” ujar I Ketut Widiana Karya.
Selain dukungan terhadap UMKM, PT JBM juga aktif berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah daerah. Dari tahun 2011-2020 PT Jamkrida Bali Mandara telah membagikan dividen sebesar Rp 6.740.699.928.
Kinerja Keuangan
Kontribusi terhadap PAD Bali ini tak lepas dari gemilangnya kinerja keuangan PT JBM dari tahun ke tahun. Di tahun 2020 saja PT JBM tercatat mencetak kenaikan pendapatan sebesar 1,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy) menjadi Rp 56,8 miliar. Padahal, selama 2020, bisnis Jamkrida Bali Mandara terdampak pandemi Covid-19.
Hal tersebut terlihat dari penurunan imbal jasa penjaminan (IJP) dan nasabah serta peningkatan nilai klaim. Berdasarkan laporan keuangan PT Jamkrida Bali Mandara, selama 2020, nilai imbal jasa penjaminan menurun 28,91 persen YoY menjadi Rp3,1 triliun. Jumlah nasabah terjamin turun 22,45 persen YoY menjadi 64.966 terjamin pada 2020 dari 83.872 terjamin di tahun 2019.
Di satu sisi, nilai klaim mengalami peningkatan pada 2020 sebesar 74,74 persen YoY menjadi Rp 32,6 miliar. Jumlah laba juga melampaui target sebesar 260% atau sebesar Rp 2.660.217.753 dari target laba sesuai RKAP Tahun 2020 yakni sebesar Rp1.022.569.265,-.
I Ketut Widiana Karya mengatakan perusahaan berhasil memperoleh peningkatan pendapatan pada 2020 berkat investasi yang dilakukan. Selama 2020, pendapatan investasi perseroan meningkat 114 persen YoY menjadi Rp 8,1 miliar.
“Kita naik karena kita ada investasi, kita banyak taruh dalam bentuk deposito,”paparnya.
Menurutnya, Jamkrida Bali Mandara juga terbantu dengan pembentukan cadangan klaim. Bahkan, peningkatan pembayaran klaim yang terjadi pada 2020 sama sekali tidak menggerus modal.
Setidaknya, setiap tahun, Jamkrida Bali Mandara melakukan penyisihan pendapatan sebesar 0,01 persen untuk masuk dalam cadangan klaim. “Untuk 2021, kita juga sudah membentuk cadangan klaim, nilainya mencapai Rp16,3 miliar,” sebutnya.
Selain itu, Partner Usaha juga meningkat 21% menjadi sebanyak 716 rekanan dari Tahun 2019. Partner usaha ini terdiri dari Lembaga keuangan bank dan non-bank, yang terdiri dari 58 kantor cabang dan cabang pembantu BPD Bali, 110 BPR, 276 lembaga perkreditan desa (LPD), 32 badan usaha milik desa, 199 koperasi, Bank Bukopin, Lembaga Pengelola Dana Bergulir, 3 modal ventura, 2 perusahaan asuransi, 1 broker, dan 38 agen penjaminan.
Adapun Total nilai penjaminan selama periode 2011 hingga 2020 adalah Rp 16.386.297.754.839 dengan jumlah terjamin 318.124 terjamin. Penjaminan pada sektor produktif sebesar Rp 7.957.676.099.912 terdiri dari perdagangan, suretybond, kontra bank garansi, linkage BPR, jasa, konstruksi, pertanian, peternakan, perikanan, investasi, industry dan linkage koperasi.
Penulis: Abi Abduljabar Siddiq
