TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pembangunan Ekonomi Harus Berbudaya

Nurdian Akhmad
5 October 2015 | 18:24
rubrik: Ekonomi

Jakarta-Thebusinessnews Pembangunan ekonomi tanpa mengindahkan  asas kebudayaan banyak terjadi  di Indonesia.Akibatnya , nilai budaya bangsa juga mengalami penghancuran, karena mengalami fase komersialisasi budaya. Komersialisasi adalah sebutan yang kompleks dari bentuk perdagangan pada obyek tertentu untuk dijadikan komoditi atau produk, dengan demikian bisa menghasilkan output berupa keuntungan.

Menurut Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti Pontjo Sutowo, bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah kebudayaan dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

“Sayangnya dalam kehidupan majemuk yang ada di negeri ini ternyata masih saja ditemukan berbagai kendala. Seperti, rakyat Indonesia masih harus berjuang keras untuk memperoleh dan membela hak-haknya itu, bukan hanya hak sosial dan politik tetapi juga hak ekonomi, bahkan hak budaya.” Paparnya   dalam diskusi Sejarah Peradaban dan Pancasila di Jakarta, menyatakan jika kebijakan pemerintah sejauh ini dinilai masih belum jelas dan konsisten dalam menindaklanjuti kaidah konstitusional dalam bidang kebudayaan pada akhir minggu lalu, Jakarta,

Pada saat ini, muncul adanya kecenderungan komersialisasi kebudayaan melalui media massa, yang secara langsung atau tidak langsung telah merusak moral dan fisik generasi muda. Padahal fungsi nilai-nilai budaya yang diangkat dalam amandemen pasal 32 UUD 1945 seharusnya mengacu pada nilai budaya luhur yang jauh dari nilai yang merusak moral bangsa. Dimana fungsi nilai budaya yang diharapkan adalah sebagai kerangka pemecahan konflik dan mendorong motivasi hidup

Ditempat yang sama,Budayawan  Muji Sutrisno menyatakan jika komersialisasi kebudayaan yang mengarah pada perusakan moral bangsa, merupakan musuh proses humanisasi kebudayaan. Salah satu cara untuk mengurangi komersialisasi kebudayaan adalah dengan cara menghilangkan lupa sejarah. “Dengan dipahaminya sejarah kembali, mengakibatkan kita akan dapat menghargai dan menghormati sesama anak negeri kalau mereka memberi arti dan makna yang mensejahterakan bagi sesama,” katanya.

BACA JUGA:   BEI Suspensi TFAS

Muji melanjutkan Kebudayaan lebih  dibaca oleh manusia atau sebagai pelaku pemberi makna (baca: the signifying actor), ‘harus’ disadari melalui 4 tahap membacanya agar paham artinya. Tahap pertama, harus di baca dari sumber dan oasenya. Tahap ini mengajak mata baca  dengan kesadaran dari bahasa logis ke tulis serta semiotis (tanda). Tahap pertama ini kebudayaan diungkap dalam kamus yang menuliskannya dan mewacanakan realitas dunia dimana manusia hidup dan merajutnya. katanya.(Irawan)

 

Previous Post

Semua Sudah Dilakukan Namum Dana Investor Asing Kabur Rp 13 triliun

Next Post

Pengembang Mewah AS Incar Pasar Indonesia di Tengah Dollar Meroket

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR