Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan Senin (21/6/2021) awal pekan ini diestimasikan melemah.
Dalam laman samuel.co.id, tim peneliti Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, berjudul IHSG diproyeksikan melemah, seiring lonjakan COVID-19 dan sinyal tapering.
Pada penutupan Jumat pekan lalu (18/6) pasar AS bergerak terkoreksi cukup dalam, Index Dow Jones melemah 1,58%, S&P500 turun 1,31%, dan Nasdaq pun terkoreksi 0,92%. Pelemahan tersebut menanggapi pernyataan hawkish The Fed pada FOMC meeting pekan lalu, yang menyatakan suku bunga akan naik dua kali pada tahun 2023, memunculkan kekhawatiran akan tapering akan datang lebih cepat.
Dari dalam negeri, kembali melonjaknya penambahan kasus harian menjadi perhatian utama pasar saat ini. Terjadi penambahan 13.737 kasus baru COVID-19 pada hari Minggu (20/6) (Sabtu: 12.906 kasus) dengan positive rate sebesar 22,8% (Sabtu: 17,1%). Sejauh ini, telah ditemukan sebanyak 1,98 juta kasus di Indonesia, dengan 1,7 juta di antaranya sembuh (recovery rate 90,1%). Terkait vaksinasi, sejauh ini 23,0 juta orang di Indonesia telah menerima dosis pertama vaksin (+170 ribu pada Minggu) dan 12,2 juta telah menerima dosis kedua (+26 ribu pada Minggu), merefleksikan 12,7% dari total target.
IHSG bergerak melemah 1,45% selama sepekan lalu, dan terkoreksi 1,01% pada hari Jumat (18/6) ke level 6.007. Pekan lalu terjadi net sell asing sebesar Rp -702 miliar, dan pada perdagangan Jumat lalu, tercatat net sell asing sebesar Rp -193 miliar. Pekan ini minim sentimen rilis data, investor akan memantau kenaikan kasus Covid-19 dan kebijakan pemerintah untuk mencegah kenaikan kasus harian. Selain itu, beberapa aksi korporasi right issue emiten besar seperti BBRI dan BBNI turut menjadi perhatian investor.
Pagi ini pasar regional dibuka melemah, dengan Kospi -0.67% dan Nikkei -2.23%. “Untuk IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak melemah, dikarenakan kekhawatiran investor akan melonjaknya kasus Covid-19, yang dikhawatirkan mengganggu jalannya perekonomian dan risiko Kembali diterapkannya lockdown,” demikian tertulis.
foto: Rendy MR
