Jakarta, TopBusiness – PT PAM Mineral Tbk (NICL) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral nikel yang melakukan pencatatan perdana (listing) sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perseroan menjadi perusahaan Tbk ini usai menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) dengan melepas sejumlah 2.000.000.000 (dua miliar) saham kepada publik.
Besaran saham itu setara dengan 20,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan, dengan harga Rp 100 per saham. Sehingga dana segar yang dikantongi perseran sebesar Rp200 miliar.
Dalam aksi korporasi ini, NICL mendapatkan izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 30 Juni 2021. Selama masa penawaran umum tanggal 2 – 5 Juli 2021, saham PT PAM Mineral Tbk mendapatkan minat yang cukup positif dari para investor dan seluruh saham yang ditawarkan dapat terserap dengan baik, bahkan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 48 kali. Perseroan pun menunjuk PT Danatama Makmur Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi (Underwriter).
Ruddy Tjanaka, Direktur Utama NICL menyebutkan, dari dana IPO itu, setelah dikurangi biaya emisi, sekitar Rp72 miliar akan dipergunakan untuk pengembangan usaha perseroan dan anak perusahaan, PT Indrabakti Mustika (IBM).
Yakni sebesar 30%-nya untuk eksplorasi penambahan cadangan bijih nikel di area blok kerja perseroan. Blok kerja tersebut antara lain blok yang diberi nama BCL, Raisa, Kartini, Tiara, dan Syahrini dengan total luas sekitar 51 hektare yang berada di dalam area pertambangan dengan IUP atas nama perseroan di Morowali, Sulawesi Tengah.
Lalu sekitar 70% akan dipergunakan oleh Entitas Anak, IBM untuk program eksplorasi lanjutan pengeboran spasi detail (infill drilling) penambangan cadangan bijih nikel di area blok kerja Kolaka Cendana, Longori, Silae, Komia, Kuma, Kondole dengan total luas 183 hektare di Konawe Utara. Kedua pengembangan usaha itu direncanakan dimulai pada paruh kedua 2021.
“Sementara itu, sisanya akan digunakan sebagai modal kerja (working capital) untuk operasional perseroan, anak perusahaan, IBM. Yakni sebesar 72% untuk modal kerja untuk operasional Perseroan dan sebesar 28% untuk modal kerja untuk operasional Entitas Anak, IBM. Biaya operasional tersebut di antaranya seperti biaya kontraktor, biaya QAQC, biaya pengapalan, dan biaya operasional lainnya,” papar dia, di Jakarta, Jumat (9/7/2021).
PAM Mineral merupakan perusahaan pertambangan nikel yang berdiri sejak 2008. PAM Mineral memiliki dua wilayah operasional, yakni di Sulawesi Tenggara, di Desa Lameruru, Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara dan Desa Laroenai, Kecamatan Bungku Pesisir, Sulawesi Tengah.
Komposisi pemegang saham PAM Mineral sebelum penawaran umum terdiri atas PT Pam Metalindo sebesar 60 persen dan PT Artha Perdana Investama sebesar 40 persen.
“Langkah perusahaan masuk BEI melalui IPO adalah bagian dari strategi meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan dan tata kelola untuk menjadi lebih baik lagi,” tandas Ruddy.
Untuk itu, dirinya optimis dengan prospek bisnis pertambangan mineral nikel yang dijalankan perseroan saat ini.
“Jumlah pasokan nikel yang terbatas karena permintaan yang semakin meningkat dari industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Market share untuk kendaran listrik (EV) yang akan meningkat dari 2,5% pada tahun 2019 menjadi 10% pada tahun 2025,” katanya.
Dengan market share untuk industry EV diprediksikan akan meningkat menjadi 28% di tahun 2030 dan 58% di tahun 2040. Pada tahun 2019, konsumsi nikel untuk bahan baku baterai akan mencapai 7% dari total konsumsi global.
“Dan diperkirakan pada tahun 2022, permintaan nikel akan melebihi pasokan/supply yang ada. Potensi yang besar bagi Perseroan untuk bertumbuh mengingat saat ini baru sebagian kecil dari area yang dieksploitasi,” ujarnya.
Bersamaan dengan penawaran umum saham ini, Perseroan juga menerbitkan Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi calon investor yang membeli saham dalam Penawaran Umum Perseroan ini. Setiap pemegang 10 (sepuluh) saham baru Perseroan berhak memperoleh 13 (tiga belas) waran dimana setiap 1 (satu) waran memberikan hak kepada pemegang untuk membeli 1 (satu) saham baru Perseroan yang dikeluarkan dalam portapel.
Waran yang diterbitkan mempunyai jangka waktu selama 2 (dua) tahun. Dana hasil pelaksanaan warran Seri I akan digunakan untuk penambahan modal kerja.
Untuk diketahui, dalam menjalani kegiatan usahanya, Perseroan melakukan proses eksplorasi, pertambangan, dan penjualan bijih nikel (nickel ore). Bijih nikel merupakan unsur logam yang berwujud tanah residual. Karakteristik nikel yang tahan karat menjadikan komoditas logam ini sangat dibutuhkan oleh peradaban modern yang banyak membutuhkan logam tahan karat sebagai bahan baku dalam produksi.
Sampai saat ini, perseroan memiliki lahan konsesi pertambangan nikel yang berlokasi di Desa Buleleng, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali. Lahan tersebut merupakan lahan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi produksi seluas 198 Hektar, sesuai Surat Keputusan Bupati Morowali Nomor: 540.3/SK.004/DESDM/II/2012, tertanggal 17 Februari 2012 dengan Kode Wilayah: MW-058.
Area potensi nikel dari IUP Perseroan seluas 198 Ha sudah seluruhnya di eksplorasi (area IUP yang sudah dibuka (landclearing) namun belum dilakukan penambangan). Dari area yang sudah di eksplorasi, seluas 47 Ha sudah tertambang. Area yang belum ditambang dari IUP Perseroan adalah seluas 120 Ha.
Bijih nikel Perseroan memiliki kadar Ni antara 1.4% – 1.8%. Sementara itu, bijih nikel IBM memiliki kadar Ni antara 1,4% – 1,8%.
FOTO: Istimewa
