Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT BPR BKK Cilacap (Perseroda) diuntungkan dengan kepolosan masyarakat soal pemberian kredit. Ini sekaligus sangat membantu dalam rangka menegakkan prinsip kehati-hatian bank dalam masa pandemi Covid-19 pada saat sekarang, sehingga kualitas kredit terjaga.
Dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2021 dalam sesi tanya-jawab atau pendalaman materi presentasi berjudul GROW WITH THE COMMUNITY, Direktur Utama BPR BKK Cilacap, Tri Basuki, mengatakan bahwa pihaknya selalu mendekatkan diri dengan masyarakat yang membutuhkan pembiayaan, namun tetap berpedoman pada asas kehati-hatian bank.
Dalam konteks seperti itu, manajemen meminta dukungan dari para staf di lapangan untuk melakukan edukasi dan sosialisasi dalam memasarkan produk-produk bank termasuk pemberian kredit. Kendati begitu, kondisi pandemi membuat masyarakat lebih memilih untuk tetap menggunakan dana yang ada, dan menunda menerima kredit.
Menurut dia, para karyawan mendatangi pelanggan sampai ke desa-desa. “Itu diwajibkan kepada teman-teman. Jadi kemarin, sosialisasi dan edukasi untuk teman-teman untuk merekrut debitur. Utamanya adalah calon-calon debitur baru. Tapi ternyata, jawaban dari cabang untuk sementara belum membutuhkan,” katanya, dalam wawancara penjurian secara virtual melalui aplikasi zoom online meeting, di Jakarta, hari ini.
Selain itu, perseroan pun menganalisis dengan mengkroscek nasabah tersebut. “Kami cek di bank lain, dia tak punya. Jadi itulah kepolosan dari masyarakat pedesaan, jadi tidak membutuhkan yah jangan pakai dulu. Sehingga ada korelasi sekali dengan kondisi yang ada saat sekarang,” ungkap Tri.
Kepolosan dan kejujuran para calon nasabah inilah yang salah satu diantaranya menyebabkan pelanggan perseroan turun. Tercatat, jumlah pelanggan atau rekening kredit di tahun 2020 mengalami penurunan hingga 89 persen, dari sebelumnya di tahun 2019 sebanyak 14.414 menjadi 13.228 (2020).
Dalam pandangan Tri, penyebab penurunan jumlah pelanggan tak terlepas dari kondisi saat ini yang masih dibayangi pandemi Covid-19. Dengan begitu, para nasabah lebih memilih untuk menahan diri dalam berekspansi bisnis.
Kendati begitu, dirinya bersyukur. Alasannya, pelanggan lebih bijak dalam membelanjakan dananya di tengah belum ada kepastian hingga kapan kondisi penyebaran Covid ini berakhir. “Kami merasa bersyukur, artinya dia tidak mau memanfaatkan dahulu, dan ada yang melunasi. Sehingga Insya Allah, ketika kondisi sudah membaik akan naik angka debitur,” jelas dia.
Bahkan dirinya merasa tertolong atas kepolosan dan kejujuran nasabah. “Sekarang itu, kejujuran daripada debitur, dan merasa tidak butuh pinjaman untuk sementara, maka dia tunda dulu,” papar Tri.
Dia juga menambahkan, perseroan sangat diuntungkan dengan imej yang sudah terbangun dari masyarakat bahwa BPR BKK Cilacap adalah dimiliki oleh Pemda, sehingga dalam promosi produk-produk dan jasa perbankan mudah.
“Kami dimiliki oleh Pemda. Jadi mohon maaf, BKK yang masih banyak notabene di pedesaan. Ini sangat dibantu, oleh pemerintah desa, kecamatan, dan ini sangat kental sekali. Jadi kalau di Cilacap, di wilayah desa itu untuk BPR BKK itu sangat hapal. Karena kami ada di masing-masing kecamatan,” ujar dia.
Dengan keunggulan seperti itu, manajemen pun akhirnya melakukan optimalisasi. “Dan yang untuk jemput bola kami pun ada. Kami ada sistem jemput bola, itu biasanya ke pasar-pasar. Katakan saja, penabung-penabung, yang ada deposan. Dan secara keunggulan kami unggul karena kami milik Pemda,” pungkas dia.
