Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bondowoso terus melakukan inovasi bisnis dan layanan terkait penyediaan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Bondowoso. Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bondowoso, PDAM ini juga rajin memberikan kontribusi untuk pemerintah dan masyarakat.
Salah satu inovasi bisnis yang telah di kembangkan adalah pemasangan “Water Pressure Limiter” pada pompa, sebagai tindakan penurunan tingkat kehilangan air atau non revenue water (NRW). Adapun fungsi instrumen ini mematikan dan menghidupkan pompa yang berbasis tekanan.
“Water Pressure Limiter telah diaplikasikan pada instalasi pompa UPK Taman Krocok sebagai pilot project sejak April 2021 hingga sekarang,” kata Rudi Harnalis, Konsultan PDAM Kabupaten Bondowoso dalam presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2024 yang dilakukan secara daring, Selasa (6/2/2024).
Manajemen PDAM Kabupaten Bondowoso yang hadir dalam penjurian ini antara lain April Ariestha Bhirawa (Dirut), Supriyadi (ketua SPI), Siti Nur Aini (Kabag Umum & Personalia), Rosida (Kabag Keuangan), Sirajudin (Kabag Perencanaan), I Made Suarjaya (Kabag Langganan), M.Yunus (Kabag Pemeliharaan, Rudi Harnalis (Konsultan PDAM), dan Sucipno (Kepala Unit Sukosari I).
Dalam masa uji coba, kata Rudi, instrumen ini secara terus menerus dalam pantauan dan mengalami modifikasi terutama di bagian integrasi pompa terhadap panel listrik. Saat ini, Water Pressure Limiter sudah dinyatakan stabil dan siap untuk di kembangkan di UPK yang lain.
Adapun alat yang digunakan adalah Pressure Switch, Pressure Gauge, dan Soft Start (modifikasi dari timer). Menurut Rudi, instrumen ini mempunyai beberapa keunggulan. Pertama harga pembelian yang sangat murah tidak sampai Rp 1 juta, jika dibandingkan dengan pembelian VSD (Variable Speed Drive) yang harganya mencapai Rp 60 jutaan pada penggunaan spesifikasi pompa yang sama.
“Instrumen ini juga sangat mudah untuk dibuat dan dioperasionalkan oleh karyawan PDAM, berbeda dengan alat VSD diperlukan training untuk mengopersionalkan,” tutur dia.
Jika terjadi gangguan pada alat, menurut Rudi, dapat dengan cepat dan mudah untuk diperbaiki, tanpa harus menunggu vendor dari pembuat alat.
Sedangkan keuntungan yang didapat perusahaan dengan penggunaan Water Pressure Limiter adalah terkait aspek operasional, antara lain tekanan air terkendali sehingga mengurangi terjadinya kebocoran. Selain itu juga mengatasi tingkat kehilangan air dan menambah nilai ekonomis pada pipa dan water meter.
Sedangkan keuntungan dari aspek pelanggan, kata Rudi, jumlah pelanggan stabil dan cenderung meningkat karena kapasitas serta kontinuitas aliran jadi stabil. Selain itu, pelayanan air kepada pelanggan lebih dinamis artinya tidak dibatasi jam operasional, terutama untuk pelayanan yang dibatasi waktu operasionalnya atau bila terjadi pemadaman listrik pada siang hari, maka pada saat listrik menyala, pompa akan beroperasi selama pelanggan membutuhkan.
Dari aspek keuangan, penggunaan instrumen tersebut menaikkan pendapatan karena meningkatnya pola konsumsi air, serta menurunnya biaya perbaikan dan biaya penggunaan listrik.
Pemanfaatan TI
PDAM Kabupaten Bondowoso juga memiliki beberapa inovasi atau terobosan terkait pemanfaatan teknologi informasi (TI). BUMD ini membuat program-program aplikasi yang diharapkan berdampak terhadap perkembangan perusahaan.
PDAM Kabupaten Bondowoso menggunakan Artificial Intelegence (AI) untuk menyampaikan layanan dan mempercepat desain komunikasi visual. Selain itu BUMD ini membuat platform digital sebagai wadah komunitas pelanggan PDAM (forum pelanggan).
“Kami juga mengembangkan fraud system untuk pemantauan petugas pembaca meter secara digital, dengan maksud untuk mengoptimalkan petugas lapangan dalam rangka pelayanan,” tuturnya.
Perusahaan juga membuat aplikasi sistem pemasaran air minum dalam kemasan (AMDK), berupa aplikasi logistik, aplikasi penjualan dan aplikasi pembayaran.
Namun, ada satu aplikasi yang menjadi kebanggan PDAM Kabupaten Bondowoso, yaitu Aplikasi CETET (Cepat, Tepat dan Terkendali) yang kemudian di-upgrade dan berganti nama jadi KLIKAJA. Aplikasi berbasis android ini merupakan sistem kontrol layanan baik untuk layanan pelanggan maupun layanan manajemen terhadap individu atau personil (kontrol absensi ).
Untuk layanan pelanggan, aplikasi KLIKAJA berfungsi sebagai kontrol unit terdiri atas perintah buka, perintah tutup, dan perintah cabut. Aplikasi ini juga bisa sebagai kontrol rekening terdiri atas cek tagihan, cek efisiensi, cek baca meter, kasir mini, dan baca meter.
Aplikasi KLIKAJA juga menjadi kontrol meter segel terdiri atas surat perintah kerja dan proses sambungan baru, surat perintah kerja dan proses pembukaan, surat perintah kerja dan proses penutupan, surat perintah kerja dan proses pencabutan.
Prestasi lainnya yang patut dibanggakan dari PDAM ini adalah pembuatan unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan Ijen Water. BUMD ini terus melakukan penyempurnaan unit usaha AMDK ini baik secara administrasi maupun teknis.
“Secara administrasi penyempurnaan melalui aplikasi komputerisasi sedangkan secara teknis mengembangkan usaha melalui kerja sama dengan pihak ketiga berupa sistem maklon (An-Nujum, Subban Q, Genggong, dan Amalis).
Prestasi lainnya yang juga menonjol adalah PDAM Kabupaten Bondowoso saat ini dalamTahap penyempurnaan GIS (Geographic Information System). GIS manual atau desktop yang awal penggunaanya menggunakan GPS Handle untuk setiap pendataan sambungan rumah (SR), saat ini disempurnakan dengan mengintegrasikan melalui aplikasi KLIKAJA, sehingga SR dapat terdata secara otomatis melalui aplikasi android.
“Semua lini kegiatan dapat memanfaatkan GIS secara online. Contohnya mulai dari proses pemasangan hingga proses administrasi dapat dipantau secara online melalui aplikasi KLIKAJA yang terintegrasi ke GIS,” kata Rudi.
Terkait sumber daya manusia (SDM), PDAM Bondowoso telah melakukan upaya peningkatan kompetensi SDM melalui bimtek maupun pelatihan baik internal maupun eksternal.
PDAM Kabupaten Bondowoso juga aktif memberikan kontribusi fiskal kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah. Untuk pemerintah pusat, BUMD ini memberikan setoran pajak sebesar Rp 225.916.963 yang berasal dari pajak penghasilan pasal 21, pasal 23, dan pasal 25 Badan serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
“Sedangkan kontribusi fiskal kepada Pemerintah Daerah sebesar Rp 77.307.956 yang berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Air Permukaan dan Air Bawah Tanah, serta retribusi lainnya,” ujar Rudi.
Selain itu, perusahaan telah membukukan bagian laba tahun 2022 sebesar Rp 482.470.337 sebagai penyetoran deviden kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso yang dikembalikan lagi ke perusahaan sebagai penyertaan modal.
PDAM Kabupaten Bondowoso juga telah melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR) sebagai upaya untuk menjamin keterediaan air baku. Kegiatan CSR tersebut berupa penghijauan penanaman pohon di area mata air dengan menjalin kerja sama dengan OPD terkait oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan.
PDAM Kabupaten Bondowoso saat ini memiliki 20.646 pelanggan dengan cakupan layanan teknis 8,79 persen dan layanan administrasi 7,13 persen. Rata-rata jam layanan per harinya adalah 23 jam. Sedangkan tingkat NRW atau kebocoran air saat ini berada di angka 17,85 persen.
PDAM Kabupaten Bondowoso sedang melakukan penyesuaian tarif menuju FCR (Full Cost Recovery) berdasarkan Peraturan Bupati.
Tantangan dan Solusi
Dalam kegiatan operasionalnya, menurut Rudi, PDAM Kabupaten Bondowoso menghadapai berbagai tantangan seperti pertumbuhan jumlah pelanggan relatif rendah. Guna meningkatkan cakupan layanan administrasi dan teknis , kata Rudi, dibutuhkan investasi yang besar untuk penambahan jaringan dan distribusi karena kondisi topografi wilayah. Di sisi lain, masyarakat sangat mudah mendapatkan air bersih.
Tantangan lainnya adalah terdapat beberapa pelanggan potensial (mall, perhotelan, rumah sakit, dan lainnya) yang melakukan pengeboran secara mandiri dalam jumlah relatif besar. Termasuk juga daya beli masyarakat masih rendah. “Ditambah dengan semakin maraknya layanan air bersih selain dari PDAM, baik berupa program pemerintah (HIPPAM, Wislic, PNPM, Pamsimas, dan lainnya) maupun program kelompok masyarakat.
Mengatasi berbagai tantangan dan kendala tersebut, PDAM Kabupaten Bondowoso memiliki alternatif solusi, antara lain untuk pemasangan baru diberikan diskon dan subsidi terhadap selisih tarif. Sedangkan untuk investasi jaringan diperlukan sumber dana tambahan khusus, bisa berupa dana APBN yang berasal dari kementrian terkait atau dana hibah program air bersih, dan lainnya.
“Untuk penggunaan air bawah tanah (ABT) oleh sejumlah instansi swasta maupun pemerintah yang relatif besar, sehingga diperlukan penertiban terhadap penggunaan ABT melalui Peraturan Bupati,” kata Rudi.
Sedangkan untuk pemasangan jaringan PAM swakarsa diperlukan kerja sama win-win solution, bisa berupa proyek pengeboran, pemasangan jaringan, serta proyek perawatan pascapemasangan.
Mengenai kinerja keuangan, PDAM Kabupaten Bondowoso pada 2023 meraih pendapatan Rp 25,04 miliar, naik ketimbang 2022 sebesar Rp 23 miliar. Laba perusahaan 2023 turun menjadi Rp 1,48 miliar ketimbang pada 2022 sebesar Rp 3,08 miliar.
Berdasarkan penilaian Kementerian PUPR atas kinerja perusahaan, baik dari sisi keuangan, operasional, dan administrasi pada 2021-2022 ada peningkatan dari skor 65,23 menjadi 73,48 atau kategori Baik dan 3,78 status Sehat.
PDAM Kabupaten Bondowoso juga melakukan penilaian terhadap pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik atau GCG secara mandiri berdasarkan format BPKP yang menunjukkan nilai 66,8391, sehingga skornya adalah 3 dengan kiteria “Cukup”.
PDAM Kabupaten Bondowoso setiap awal tahun anggaran rutin melakukan survei kepuasan pelanggan dengan metode sampling acak dengan rasio nilai (0 – 5) dan olah data menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Hasilnya, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap mutu pelayanan PDAM Kabupaten Bondowoso sudah “Baik”.
“Adapun indikator penilaian mengalami peningkatan yang di sebabkan karena penambahan debit air berupa pengeboran baru dan juga kecepatan penanganan gangguan di pelanggan,” ujar Rudi.
