TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bank BTN Adaptasi AKHLAK untuk Mengetahui Risk Maturity Level

Agus Haryanto
22 July 2021 | 00:01
rubrik: GCG
Bank BTN Adaptasi AKHLAK untuk Mengetahui Risk Maturity Level

Jakarta, TopBusiness – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN mengadaptasi nilai AKHLAK guna mengetahui risk maturity level di dalam penerapan prinsip governance, risk management and compliance (GRC).

Dihadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2021, Direktur Utama BTN, Haru Koesmahargyo, menjelaskan nilai-nilai AKHLAK menjadi sebuah dasar untuk mendapatkan risk maturity level.

AKHLAK sendiri memiliki kepanjangan atau komponen yang terdiri dari atas nilai-nilai seperti Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif. AKHLAK ini merupakan acuan dasar bagi perusahaan berstatus BUMN dalam menjalani operasional kinerja.

Dengan berdasarkan pada AKHLAK tersebut, perseroan merefleksikan dan mengimplementasikannya dalam delapan perilaku utama BTNers melalui sosialisasi dan edukasi.

“Dari perilaku kalau dilihat matriksnya kira-kira begini. Ini ‘kan ada enam komponen AKHLAK. Dari enam komponen itu kita adaptasi, kemudian kita susun dari enam tersebut untuk membentuk delapan perilaku value utama. Ini kita sosialisasikan benar. Nah contoh, berpegang teguh dan patuh pada nilai moral dan etika bisnis, memenuhi komitmen sesuai peraturan yang berlaku. Jadi kita tahu bahwa core value, yang enam itu. Itu nggak mudah, kecuali orang itu berinteraksi dengan kita baru muncul. Tapi kalau kita punya, tapi tak interaksi maka tak muncul. Maka kita perlu mengasah bahwa petugas BTN itu untuk bisa memunculkan itu dan aktif,” kata Haru, dalam sesi tanya-jawab atau pendalaman materi presentasi di ajang penjurian secara virtual, di Jakarta, Rabu (21/07/2021).

Dari nilai AKHLAK yang memiliki enam komponen tadi diterjemahkan menjadi delapan perilaku yang harus dijalankan oleh BTNers yang terintegrasi dengan empat pilar budaya perseroan. “Jadi dari enam itu, kalau kita kelompokkan menjadi delapan dan masuk dalam empat pilar budaya. Jadi nomor satu GCG culture, nomor dua masuk ke learning culture, nomor tiga adalah performance culture, kemudian saling menghormati dan seterusnya itu adalah masuk sales and service. Kira-kira begitu,” papar dia.

BACA JUGA:   Penerapan GRC yang “Mumpuni” Mendukung Kinerja Bisnis Jasa Marga

Perseroan memiliki empat pilar budaya yaitu sales and service atau tambah tumbuh dan memenuhi harapan pelanggan, kemudian governance and risk culture (bersih dan terpercaya), dan performance culture (berkinerja unggul) dan learning culture (terus belajar).

Dari kedelapan perilaku BTNers tersebut kemudian ditegaskan lagi dengan poin-poin yang lebih jelas pada tataran implementasi.

“Nah nomor satu ini bagaimana konkretnya. Kalau kita masuk GRC culture tuh maksudnya apa? Ini loh berpegang teguh pada aturan, nilai moral, etika bisnis dan seterusnya. Nah nanti dari sini kemudian ada yang namanya assessment. Assessment itu sifatnya internal dan kemudian kita bisa mengukur bagaimana maturity dari GRC,” jelas Haru.

Kemudian juga menyebutkan contoh lainnya.  “Selain nomor satu adalah nomor lima. Bertanggung jawab dan selalu mengedepankan kepentingan perusahaan. Ini bagian dari dari governance and risk culture. Nanti poin-poin ini kalau didetailkan lagi ada puluhan detail-detailnya. Nah ini yang kita berikan sosialisasi ke semua jajaran untuk bisa tahu secara konkret maksudnya apa sih governance and risk culture itu. Kira-kira seperti itu. Nah dari item-item itu, kita nanti gunakan untuk melakukan assessment untuk mengukur kematangan dari seluruh jajaran BTN,” kata dia.

Di kesempatan terpisah, Eko Waluyo  selaku direktur compliance and legal menjelaskan bagaimana program-program untuk menumbuhkan budaya kepatuhan dan juga pengelolaan risiko dapat dijalankan. “Program ini memang kita buat berbasis dengan aktivitas teman-teman di lapangan. Jadi program risk and compliance culture, ini terjemahannya harus dilakukan secara mandatory oleh setiap pegawai di BTN. Programnya macam-macam, mulai dari pertama, compliance awareness. Jadi compliance awareness ini, teman-teman akan membuat materi yang di-share secara digital. Dan ada juga review-nya yang harus dilakukan melalui sistem aplikasi learning management system, dan itu juga ada passing grade-nya. Jadi semua pegawai harus mengerjakan dan wajib sifatnya memenuhi threshold nilai tertentu,” tambahnya.

Previous Post

PTDI Kembali Lakukan Ferry Flight 2 Unit Helikopter BELL 412EPI Pesanan Kemhan RI untuk TNI AD

Next Post

IHSG bisa Lanjutkan Penguatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR