Jakarta, TopBusiness—Mengawali pekan ini, harga minyak terpantau bergerak bearish dibebani oleh potensi memanasnya tensi AS (Amerika Serikat) dengan Tiongkok akibat ancaman AS untuk mengenakan tindakan tegas pada entitas Tiongkok yang membeli minyak Iran. Gerakan tersebut juga diakibatkan serta melonjaknya kasus Covid-19 di Asia yang mengancam pemulihan permintaan bahan bakar.
Hal itu dikatakan oleh analis dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Yoga Tirta, dalam riset yang diterima oleh wartawan Majalah TopBusiness pada siang ini.
AS sedang mempertimbangkan untuk menindak penjualan minyak Iran ke Tiongkok karena bersiap untuk kemungkinan bahwa Iran tidak akan melanjutkan pembicaraan nuklir, atau mungkin mengadopsi garis yang lebih keras di bawah kepemimpinan Ebrahim Raisi, presiden baru Iran yang akan mulai menjabat pada 5 Agustus mendatang, berdasarkan informasi seorang pejabat AS.
“Ancaman dari AS tersebut berpotensi menekan penjualan minyak Iran karena Tiongkok merupakan importir terbesar minyak Iran. Namun, di sisi lain hal itu juga berpotensi memanaskan hubungan AS dengan Tiongkok, yang dapat memicu masalah baru di tengah upaya pemulihan ekonomi global saat ini,” demikianlah Yoga menganalisis.
Sementara itu peningkatan kasus Covid-19 di Asia masih terus membayangi pemulihan permintaan bahan bakar. Tiongkok pada hari Jumat (23/7/2021) melaporkan wabah baru Covid-19 di lima provinsi yang diduga berasal dari kota Nanjing, Tiongkok timur.
Sementara itu, Indonesia pada hari Minggu (25/7/2021) mengumumkan untuk memperpanjang pembatasan hingga 2 Agustus mendatang di tengah peningkatan kematian akibat Covid-19. Korea Selatan pada hari Minggu lalu (25/7/2021), mengatakan akan memperketat aturan pembatasan sosial di sebagian besar negara minggu ini, memperingatkan bahwa gelombang Covid-19 terburuknya mungkin menyebar lebih besar di musim liburan musim panas.
Yoga lebih lanjut mengatakan bahwa melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran resistance di IDR1.060.000-1.080.000 per barel. Serta kisaran support di IDR1.020.000-1.000.000 per barel.
