Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) selama semester I 2021 mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang meningkat, namun begitu dari sisi laba bersih justru mencatatkan kinerja penurunan.
Menurut Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra, laba bersih per saham perseroan naik 61%, yakni tanpa memperhitungkan keuntungan penjualan saham Bank Permata di tahun 2020 lalu, namun masih lebih rendah dibandingkan tahun 2019 lalu.
Kinerja tersebut tak lepas dari bisnis otomotif membaik cukup signifikan, dengan penjualan mobil naik 50% dan penjualan sepeda motor juga naik 29%. Selain itu, bisnis-bisnis grup Astra ini juga diuntungkan dari peningkatan harga komoditas dan posisi neraca keuangan serta pendanaan juga yang kuat.
“Sebagian besar bisnis Grup mengalami perbaikan pada semester pertama tahun 2021, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 ketika Grup menghadapi pembatasan-pembatasan bisnis yang signifikan terkait dengan penanggulangan pandemi COVID-19 pada kuartal kedua tahun 2020,” tutur Djony dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/7/2021).
Meskipun kondisi bisnis telah membaik, lanjut dia, kinerja Grup Astra masih akan menantang hingga akhir tahun ini, mengingat kinerja bisnis dan kepercayaan konsumen masih akan terdampak oleh situasi pandemi COVID-19 di Indonesia yang sangat memprihatinkan akhir-akhir ini. “Tapi, neraca keuangan dan posisi pendanaan Grup tetap kuat,” katanya.
Secara rinci dia menegaskan, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada semester pertama 2021 sebesar Rp107,4 triliun atau naik 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Sementara itu, laba bersih Grup mencapai Rp8,8 triliun. Atau 22% lebih rendah dibandingkan dengan semester pertama tahun 2020 ketika Grup memperoleh keuntungan dari penjualan saham Bank Permata,” ujarnya.
“Namun begitu, tanpa memperhitungkan keuntungan penjualan ini, laba bersih Grup meningkat 61%, terutama disebabkan kinerja divisi otomotif yang lebih baik,” katanya.
Adapun untuk nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2021 sebesar Rp4.012 per saham, meningkat 4% dibandingkan pada 31 Desember 2020.
Dengan kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan divisi jasa keuangan Grup, mencapai Rp20,5 triliun pada 30 Juni 2021, dibandingkan Rp7,3 triliun pada akhir tahun 2020, yang disebabkan oleh kinerja penjualan yang membaik, serta realisasi belanja modal dan keperluan modal kerja yang lebih rendah.
“Jika volume penjualan terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal dan modal kerja dapat mengalami peningkatan. Meski memang, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Grup Astra meningkat dari Rp39,2 triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp41,2 triliun pada 30 Juni 2021,” ujarnya.
FOTO: Istimewa
