TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Menanti Jalur Cepat Turunnya SBDK

Busthomi
30 August 2021 | 15:38
rubrik: Featured
Uang Beredar Menyusut, Apa Sebab?

Ilustrasi: Istimewa

Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah menyusut hingga ke titik terendahnya sepanjang sejarah. Debitur pun berharap suku bunga kredit yang diajukan bisa selaras dengan rendahnya suku bunga itu. Namun sayangnya, bank-bank sejauh ini masih di jalur lambat dalam penurunan SBDK ini.

Raut muka Perry Warjiyo tampak begitu serius dalam mengumumkan suku bunga acuannya yakni BI 7 Days Repo Rate. Untuk ke sekian kali, BI kembali mempertahankan suku bunga acuan di level rendah, yakni 3,5% di Juni lalu. Keseriusan terlihat begitu nyata kala Gubernur Bank Indonesia itu meminta bank-bank turut menurunkan suku bunganya, terutama suku bunga dasar kredit (SBDK) yang hingga kini masih bergerak terbatas.

“BI mengharapkan perbankan untuk terus melakukan penyesuaian suku bunga kredit,” pinta Perry kala melakukan presconf secara virtual, medio Juni itu. “Ini sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendorong kredit kepada dunia usaha.”

Beberapa kali, Perry sudah menegaskan di banyak kesempatan, penurunan suku bunga kredit sudah terjadi, namun masih sangat terbatas. Thamrin 1 ini merinci, di pasar uang dan pasar dana, suku bunga pasar uang antar bank (PUAB) overnight dan suku bunga deposito perbankan telah turun, masing-masing sebesar 153 bps dan 207 bps sejak April 2020 menjadi 2,79 persen dan 3,66 persen pada April 2021.

Di pasar kredit, penurunan SBDK perbankan juga berlanjut, meski dengan besaran yang lebih terbatas. Bunga kredit perbankan turun sebesar 177 bps sejak April 2020 menjadi 8,87 persen pada April 2021. Di tengah menurunnya Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK), penurunan SBDK masih terbatas didorong oleh kembali meningkatnya komponen margin keuntungan, terutama terjadi pada kelompok Bank Umum Swasta Nasional (BUSN).

BACA JUGA:   Intip Tuah Juragan Bank Asing

Di samping itu, premi risiko perbankan cenderung meningkat yang artinya mengindikasikan masih tingginya persepsi risiko perbankan terhadap dunia usaha gara-gara pandemi ini. Sejalan dengan itu, suku bunga kredit baru pada April 2021 juga meningkat, khususnya pada kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), bank BUMN, dan BUSN.

“Suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan likuiditas yang masih longgar mendorong suku bunga kredit perbankan terus menurun walaupun masih terbatas,” ungkap Perry mengakui.

Pemicunya Apa?

Regulator di Lapangan Banteng juga gayung bersambung dengan BI. Disebutkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, pihaknya akan terus memonitor perbankan agar segera menurunkan suku bunganya seiring dengan rendahnya suku bunga acuan BI. Namun begitu, dia mengakui ada beberapa hambatan yang membuat dunia perbankan masih ogah untuk menurunkan SBDK di jalur cepat.

“Suku bunga akan kita dorong untuk turun seiring stimulan dari BI policy rate sudah turun, memberikan ruang luas bagi perbankan menurunkan suku bunga,” tegas orang nomor satu di OJK itu.

Namun sayangnya, diakui Wimboh, hambatan tersebut adalah beban besar di sektor perbankan dan lembaga keuangan yang membuat aksi percepatan penurunan SDBK tak secepat penurunan suku bunga BI. Beban tersebut adalah dana sebesar Rp775 triliun dari nasabah yang masih menunda pembayaran kredit.

Angka Rp775 triliun tersebut, diuraikan Wimboh, merupakan realisasi fasilitas restrukturisasi kredit yang diberikan OJK sejak pandemi covid-19. Ini sebagai bentuk antisipasi kesulitan pembayaran oleh nasabah karena resesi ekonomi. “Jadi, Rp775 triliun itu dibiayai oleh dana nasabah yang harus dibayar bunganya oleh bank di mana return tidak ada,” ucap Wimboh. “Ini situasi anomali ketika krisis. Di saat likuiditas sangat melimpah tapi di sisi lain perbankan masih sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit.”

BACA JUGA:   Pasar ‘Wah’ yang Berderap Walau Pelan

Data OJK hingga Maret 2021, kelompok Bank BUMN mencatatkan penurunan SDBK yang paling dalam di antara kelompok bank lainnya yaitu sebesar 270 bps (yoy). Adapun, SBDK kelompok bank lainnya masih menurun secara terbatas yaitu hanya anjlok sebesar 59 bps (yoy) pada periode yang sama.

Lantas, untuk kelompok BPD, BUSN dan bank BUMN mencatatkan penurunan suku bunga kredit baru yang masih sangat rendah, yaitu masing masing sebesar 34 bps (yoy), 52 bps (yoy) dan 55 bps (yoy).

Sementara itu, kelompok Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) mengalami penurunan suku bunga kredit baru paling signifikan yaitu sebesar 158 bps (yoy).

Potensi Besar

Kendati dinilai masih terbatas, sejatinya perbankan sendiri berpotensi besar untuk menurunkan suku bunga kreditnya hingga akhir tahun ini. Menurut ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede penurunan SBDK perbankan masih cukup terbuka pada 2021 ini. Pasalnya perbankan masih cukup baik mengelola beban dana dan juga hendak memanfaatkan momentum fase pemulihan ekonomi.

“Kami perkirakan penurunan suku bunga kredit cenderung diperkirakan akan terus berlanjut untuk mendorong proses pemulihan ekonomi nasional,” kata Joshua yakin.

Soalnya, selain beban dan fase pemulihan ekonomi, Josua menilai bank butuh memacu kredit karena likuiditas perbankan saat ini terbilang melimpah. Bahkan, perbankan sudah mampu lebih aktif menghimpun dana murah dengan kemampuan digital banking.

Kendati demikian, Josua tak menampik penurunan NIM masih akan berlanjut pada awal tahun ini. Perbankan juga memandang industri riil masih memerlukan insentif f restrukturisasi. Pembalikkan tren NIM, menurutnya baru akan terlihat saat ekonomi dapat beroperasi secara optimal.

“Jika peningkatan permintaan kredit dapat terjadi cepat, maka profitabilitas perbankan diperkirakan akan cenderung membaik sejalan dengan ekspektasi perbaikan NIM,” katanya menganalisa.

BACA JUGA:   BI: Permintaan Kredit dari Rumah Tangga Masih Terbatas

Lantas, bagaimana respons dunia perbankan? PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga mengaku telah memangkas bunga kredit sepanjang tahun ini. Untuk suku bunga Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA) telah turun 0,65%. Kredit komersial baik untuk konstruksi maupun investasi juga telah menyusut sekitar 1,25%.

Haru Koesmahargyo, Direktur Utama BTN mengatakan, ke depan, BTN juga berencana menurunkan suku bunga untuk Kredit Konstruksi (KYG), Kredit Pemilikan Lahan (KPL), dan Kredit Modal Kerja (KMK) Kontraktor UMKM dalam rangka mendorong peningkatan sisi pasokan pada industri perumahan. Penurunan bunga di kisaran 0,50% hingga 1%.

Setali tiga uang ditempuh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Pihak BRI mengklaim telah menurunkan bunga kredit cukup besar. Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto menyebut, SBDK untuk seluruh segmen telah diturunkan 150 bps hingga 325 bps sejak 28 Februari 2021.

“Saat ini, SBDK BRI untuk segmen ritel sebesar 8,25% dan untuk segmen mikro 14%,” ungkap Aestika dengan mengimbuhkan, BRI memperkirakan bakal ada penurunan bunga kredit sekitar 25 bps dengan mengikuti proyeksi penurunan suku bunga pasar.

*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di E-Magz Majalah TopBusiness

Tags: kredit perbankansbdksuku bunga perbankan
Previous Post

PT Pertani Garap Potensi Bisnis Limbah Sekam Modern

Next Post

PLN Pakai Komponen Lokal Rp33 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR