Jakarta, TopBusiness — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG sebagai penyedia solusi bahan bangunan terintegrasi terus berupaya meningkatkan volume penjualan domestik. Hal ini seiring dengan pertumbuhan permintaan semen nasional di tengah tantangan kompetisi yang semakin ketat dan kondisi pandemi yang masih terjadi.
Menurut Direktur Marketing dan Supply Chain SIG, Adi Munandir, saat ini sebagai leader di industri semen, SIG terus berupaya untuk mempertahankan pangsa pasar dan menjaga optimalisasi utilisasi pabrik dalam mencapai efisiensi biaya.
Ditambahkannya lagi, di tengah tantangan pasar yang semakin kompetitif dan pandemi yang masih terjadi, pkus adanya over supply dari produk semen, perseroan terus berupaya menciptakan peluang-peluang melalui inovasi produk dan layanan untuk meningkatkan penjualan.
“Sebagai perusahaan yang kini telah bertransformasi menjadi perusahaan penyedia solusi building material, SIG telah mengembangkan berbagai produk, jasa, dan solusi berkelanjutan bagi masyarakat,” tutur Adi Munandir dalam acara public expose yang digelar Bursa Efek Indonesia secara virtual, Kamis (9/9/2021).
Saat ini, kata dia, SIG memiliki lima merek yang beredar di pasar Indonesia yaitu Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix dan Semen Andalas serta satu brand di Vietnam yaitu Thang Long Cement.
Sejauh ini, dalam menjaga penjualan produk semen tersebut, SIG lebih mengutamakan pasar domestik dibamding pasar ekspor. Apalagi pasar domestik porsinya 20% lebih besar dari pasar ekspor.
Meski begitu, kata Adi, perseroan juga mengakui selama ini pasar semen sempat mengalami pelemahan permintaan labtaran adanya covid-19, kemudian ada juga dampak turunannya berupa realokasi anggaran di beberap perusahaan, dan tentu saja ada pelemahan daya beli dari masyarakat.
Namun saat ini, jika dilihat dinamika yang ada justru hingga Agustus 2021 lalu sudah terjadi peningkatan kembali dibandingkan periode sebelumnya. “Walaupun memang belum kembali seperti periode sebelum adanya pandemi di tahun 2019 atau awal 2020 lalu,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, SIG masih optimistis hingga akhir tahun penjualan produk semen masih bisa bertumbuh antara 3-5%. Angka tersebut memang relatif rendah karena masih adanya faktor yang unpredictable seperti pemberlakuan PPKM darurat lalu sangat berdampak terhadap permintaan.
“Tapi over all potensi untuk tumbuh di sekitar 3-5 persen itu ada. Dan juga melihat adanya penurunan case covid yang saat ini penanganannya sudah nerjalan dan beberapa proyek di tahun ini juga sudah mulai lagi,” terang dia.
Saat ini, SIG sudah menawarkan produk semen kantung baik serbaguna, maupun produk semen untuk aplikasi tertentu yang lebih ekonomis guna menggenjot penjualan. Serta berbagai tipe semen curah yang sesuai dengan karakteristik dari tiap jenis proyek, sehingga lebih tepat guna dan efisien.
Selanjutnya, Adi Munandir menyampaikan, selain produk semen, SIG juga menyediakan berbagai solusi beton yang telah dikembangkan, seperti Minimix yang memungkinkan proyek skala kecil menggunakan produk readymix (beton jadi), SpeedCrete yang memungkinkan penyelesaian pengerjaan konstruksi jalan yang lebih cepat dan bebas macet, serta ThruCrete yang dapat menyediakan daerah resapan air dan mengurangi risiko banjir.
SIG juga mengembangkan solusi untuk mendukung program pengembangan rumah murah melalui DynaHome, yang memungkinkan pembangunan rumah 12 kali lebih cepat dibandingkan pembangunan secara konvensional, tambah Adi Munandir.
Menurutnya, dari sisi digital, SIG juga telah memiliki tiga platform digital yaitu SobatBangun, AksesToko serta SIG online store yang memudahkan pelanggan mendapatkan pelayanan dalam membangun dan membeli semen, terutama dalam situasi pandemi Covid-19 dengan berbagai pembatasan aktivitas fisik, ujar Adi Munandir.
FOTO: Istimewa
