Jakarta, TopBusiness—Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin) mengusulkan tiga strategi hilirisasi industri oleokimia sabun di era pertumbuhan industri yang berkualitas dan berkelanjutan. Hal itu dijelaskan Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, secara tertulis pada hari ini.
Ia menjelaskan bahwa strategi yang pertama, adalah perluasan kapasitas produksi dan efisiensi biaya produksi pasca-kelanjutan Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu.
Kedua, efisiensi bahan baku minyak sawit untuk industri oleokimia melalui penggunaan minyak nabati industri IVO/ILO (Industrial Vegetable Oil/ Industrial Lauric Oil), menggantikan jenis CPO/CPKO food grade yang tentunya berharga lebih tinggi.
Putu mengatakan bahwa pada 2019, Kemenperin telah memfasilitasi penerbitan standardisasi kualitas produk IVO/ILO melalui SNI No. 8875:2020 minyak nabati industri sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar hijau (green fuel).
Selanjutnya, Kemenperin mengusulkan agar para pelaku industri melakukan komersialisasi hasil riset poduk hilir oleokimia menjadi skala industri dengan dibantu jasa fasilitas pilot plant industri yang sedang dibangun di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor milik Kemenperin.
“Pemangku kepentingan bisa memanfaatkan layanan jasa industri berupa pilot plant tersebut untuk mengangkat tingkat kesiapan teknologi dan tingkat kesiapan manufaktur. Hal ini agar hasil pengembangan teknologi oleokimia tidak terhambat proses antara riset skala laboratorium menuju ke komersialisasi industri, atau yang dikenal sebagai fenomena valley of death,” pungkas Putu.
