TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pendekatan Kekeluargaan Kunci Keberhasilan Kinerja Layanan TPK Koja

Agus Haryanto
18 November 2021 | 05:34
rubrik: HC
Pendekatan Kekeluargaan Kunci Keberhasilan Kinerja Layanan TPK Koja

Jakarta, TopBusiness – Kerja Sama Operasi Terminal Petikemas Koja atau KSO TPK Koja melakukan kunjungan silaturahim ke PT Madani Solusi International (Madani Group), yang membawahi Majalah TopBusiness.

Silaturahim yang berlangsung dengan suasana hangat dan penuh keakraban tersebut dihadiri Mohamad Arief Budiana selaku Spv. Corporate Secretary, beserta staf. Sementara, Madani Group oleh CEO dan Pemimpin Redaksi, M. Lutfi Handayani, juga beserta staf,  di kantor Majalah TopBusiness, Jakarta, Rabu (17/11/2021).

Saat perbincangan, Mohamad Arief Budiana atau yang akrab dipanggil Aar, ini menyatakan bahwa pihaknya dalam pelayanan jasa petikemas bagi pelanggan lebih mengutamakan pendekatan kekeluargaan. Sementara, dari sisi harga sudah standar dan berdasarkan regulasi induk perusahaan.  

“Kita lebih mendekatkan pada sisi pendekatan yang namanya kekeluargaan. Saya tak mau di TPK Koja terlalu birokrasi, begini-begini. Lebih ramah, tapi target kita tercapai terus,” kata Aar.

Menurut Aar dalam melayani pelanggan, TPK Koja mengutamakan sisi humanity. Ini yang membedakan dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Sehingga, dengan begitu pelanggan akan lebih senang dan loyal lantaran fleksibilitas.

“Yang membedakan adalah human dari kita. Kita tak perlu bicara digital, kalau digital ‘kan saklek. A yah A, B yah B. Kita lebih kepada ke humannya,” kata Aar yang eks pegawai di bidang pemasaran.

KSO tak bisa menambah lagi volume petikemas, lantaran terbentur dengan luas wilayah operasi yang terbatas. Paling hanya mampu mempertahankan volume sebanyak 1 juta twenty-foot equivalent units (TEUs).

“Kita hanya mempertahankan, karena kita tak bisa lebih. Mau ekspansi ke mana lagi, 1 juta TEUs. Lapangan kita terbatas, artinya  kalau melebihi dari kapasitas kita akan mengurangi kualitas layanan,” papar dia.

Sehubungan dengan itu, pengembangan bisnis jadi kurang maksimal. Sehingga, mencari celah bisnis dengan proses karantina, sebagai salah satu contohnya. “Mungkin di TPK Koja yang mempunyai karantina di dalam. Jadi orang senang, kenapa? karena ada karantinanya. Jadi selama ini, dia harus ke balai karantina dulu di luar. Dengan adanya di TPK Koja, mereka tidak harus ke sana. Jadi ada efisiensi cost,” urainya.

BACA JUGA:   Sosok Duo Srikandi Peraih Juara 1 IMA UMKM Award: Womanpreneur…. Amazing !

Dia menyatakan, pelanggan TPK Koja ada yang langsung seperti industri pelayaran dan ada yang tidak langsung. “Customer langsung dan tidak langsung. Field kita di perusahaan pelayaran, misal Hyundai. Mereka ini ‘kan membawa eksportir-importir. Itu pasti jumlahnya banyak, tapi memang yang kita maintance adalah pemilik kapalnya,” ujar dia.

Di kesempatan yang sama, dirinya juga mengatakan bahwa besar kemungkinan terjadi merger antara PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan KSO TPK Koja, sebab sudah terjadi penyatuan Pelindo I, II, III dan IV.

“Kedepannya, sesudah merger antara Pelindo I, II, III dan IV. Kita rencana akan ada merger. Mungkin dalam waktu dekat,” kata Aar.

Kemungkinan aksi korporasi tersebut semakin besar, mengingat dari sisi bisnis dan wilayah operasional yang sama.

“Secara struktur kita tak ada masalah, secara dermaga kita juga sebenarnya sudah menyatu. Dermaga mereka dengan dermaga kita bersebelahan. Sudah dibuka dan bersambung. Ketika di sana membutuhkan alat, bisa meminjam ke kita, begitu juga sebaliknya,” jelas Aar.

Sebagaimana diketahui, awalnya PT Pelindo II dan Hutchison Ports, Hongkong memiliki saham di JICT dan KSO TPK Koja. Dengan begitu, semakin besar potensi penggabungan keduanya. Karena selain dimiliki pemegang saham sama, juga mempunyai bisnis yang sejenis, namun badan hukum usaha berbeda. JICT berbadan usaha PT, sementara TPK Koja adalah KSO.

Foto: Rendy MR

Previous Post

Lewat TJSL, PLN Bina Masyarakat Olah Sampah Jadi Energi Alternatif

Next Post

IHSG Diproyeksikan Bergerak Turun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR