TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

NSS 2021: Peningkatan Luas Lahan Tebu untuk Kemandirian Gula Nasional

Albarsyah
6 December 2021 | 07:21
rubrik: Ekonomi
NSS 2021: Peningkatan Luas Lahan Tebu untuk Kemandirian Gula Nasional

Jakarta, TopBusiness – Pemantapan lahan sebagai landasan perolehan bahan baku tebu dan peran riset  dalam penguatan ketahanan pangan dan industri gula menjadi dua bahasan utama yang diangkat  dalam National Sugar Summit (NSS) 2021, 2 Desember 2021, di Jakarta, menghadirkan Menteri  Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo yang terhubung secara daring, Staf Ahli Menteri Lingkungan  Hidup dan Kehutanan Bidang Energi Prof. Winarni Monoarfa, Rektor Institut Pertanian Bogor Arif  Satria, Direktur PT PG Rajawali II Ardian Wijanarko, dan segenap pembicara lainnya.

Dalam penyampaiannya, Menteri Syahrul menekankan pada aspek kemandirian melalui inovasi  dan kolaborasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap importasi pangan. Menurutnya, di  tengah kondisi disrupsi dan pandemi yang masih terjadi, kebutuhan pangan Indonesia ke depan  harus diupayakan untuk tidak tergantung terus dengan importasi.

“Kita harus mandiri, tidak boleh tergantung terus dengan importasi yang besar di gula. Kalau  impor terus kapan negara ini bisa lebih mandiri,” katanya kepada TopBusniness.id.

Ia mengatakan, perlu upaya maksimal dari segenap stakeholder dengan mengedepankan  kolaborasi dan aksi nyata untuk dapat mewujudkan kemandirian pangan melalui kolaborasi dan  inovasi. “Cita-cita kemandirian harus berangkat dari kemauan, dari inovasi yang kita persiapkan  lebih baik juga dari kolaborasi yang kita lakukan maksimal. Tidak bisa lagi Kementerian, BUMN,  industri dan privat sektor berjalan sendiri. Harus bisa kita melakukan upaya-upaya bersama,”  katanya.

Syahrul mengatakan, penguatan industri gula nasional tidak hanya terkait perspektif lahan, di  samping itu juga perlu peningkatan produktivitas dengan mengganti varietas, strategi industri,  revitalisasi Pabrik Gula, industri produk turunan, serta membuat benchmark kepada negara yang  sudah sukses memproduksi gula.

Syahrul berharap hasil pembahasan dari NSS 2021 dapat ditindaklanjuti dan dibahas bersama  Kementerian Pertanian guna menghasilkan aksi dan dampak yang lebih konkrit untuk kemajuan  industri gula nasional.

BACA JUGA:   Kewajiban Transaksi Pakai Rupiah Pukul HEXA

Mengenai perluasan lahan perkebunan tebu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Kasdi  Subagyono mengatakan, Kementerian Pertanian melakukan upaya untuk bisa menelisik lebih  jauh potensi kesesuaian dan kapabiliti lahan untuk tebu. “Kami telah melakukan pemetaan di  beberapa pulau untuk perluasan tebu berdasarkan kesesuaiannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Kementerian Pertanian siap bersinergi bersama BUMN untuk mengidentifikasi  lebih jauh dan mencocokan rencana BUMN untuk mengembangkan area-area baru. “Sehingga  kami dapat membuat data spasial yang lebih konkrit untuk bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Winarni yang hadir mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  (LHK), saat membacakan sambutan Menteri LHK yang membahas mengenai arah dan kebijakan  penyediaan dan penggunaan lahan kehutanan bagi usaha perkebunan khususnya tanaman tebu  sesuai amanah UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja menyampaikan, pentingnya dukungan  kebijakan alokasi ruang dan lahan perkebunan untuk industri gula. Pasalnya, komoditas pangan  gula merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang bahkan masuk di dalam salah satu  kewenangan Badan Pangan Nasional (BPN).

“Kebutuhan gula perlu didukung dengan kebijakan alokasi ruang dan lahan perkebunan untuk  suplai industri gula dalam negeri sehingga kebutuhan gula nasional dapat dipenuhi dari dalam  negeri,” ujarnya.

Ia mengatakan, arah kebijakan penyediaan dan penggunaan lahan kehutanan bagi usaha  perkebunan sesuai UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2021 menjadi sangat strategis, mengingat  kebijakan ini bertitik berat pada mekanisme proses penyediaan lahan untuk perkebunan  (tanaman tebu) dari kawasan hutan. UU tersebut memfokuskan kepada beberapa hal antara lain,  penyederhanaan perizinan berusaha dan penyederhanan pengadaan lahan dengan tetap  memperhatikan kesesuaian tata ruang dan aspek lingkungan hidup.

Prof. Winarni menambahkan, regulasi baru sesuai mandat UU Cipta Kerja, Peraturan Pemerintah  Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan dan aturan turunan teknis yaitu  Peraturan Menteri LHK No 7 Tahun 2021 dapat digunakan secara optimal sebagai instrumen  regulasi terkini dalam mendukung penyediaan lahan untuk ketahanan pangan khususnya dalam  mewujudkan kemandirian gula nasional melalui perkebunan tebu.

BACA JUGA:   Indra Karya Berikan Kualitas Kejar Tayang PSN

Merespon berbagai masukan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Arief Prasetyo Adi  mengatakan, siap untuk melakukan tindak lanjut hasil pembahasan, baik mengenai upaya  perluasan lahan perkebunan tebu, pengembangan varietas unggul, inovasi model bisnis,  revitalisasi Pabrik Gula, hingga pengembangan produk turunan untuk menjaga keberlanjutan.

Atas terlaksananya gelaran NSS 2021, lanjut Arief yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyampaikan, terima kasih kapada semua pihak atas  dukungan yang telah diberikan. “Terima kasih kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Bapak Kasdi Subagyono untuk waktu dan  sharingnya kepada pelaku gula nasional. Juga kepada Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan  Kehutanan Bidang Energi Prof. Winarni dan Direktur PG Rajawali II Bapak Ardian Wijanarko sebagai praktisi pergulaan. Diharapkan setelah ini dapat kami rumuskan masukan konstruktif  kepada seluruh stakeholder gula nasional,” ungkapnya.

Seperti diketahui, sebelumnya dalam NSS 2021 ini dibuka oleh Menteri BUMN RI Erick Thohir  dilanjutkan arahan Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto, Menteri  Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perdagangan yang diwakili Dirjen  Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan, dan perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal  (BKPM).

Previous Post

Rebranding, Inna Ombilin Heritage jadi Khas Ombilin

Next Post

Kunjungi Urban Sneaker Society, Erick: Anak Muda Harus Berani Berkarya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR