Jakarta, TopBusiness – Pada pembukaan perdagangan awal tahun 2022, indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga sesi penutupan diproyeksikan masih akan melanjutkan pelemahan.
Samuel Research Team dalam publikasinya hari ini, di Jakarta, melalui website Samuel.co.id, menyebut bahwa Minim Sentimen Global dan Regional, IHSG Diperkirakan Sideways.
Bursa AS pada penutupan Jumat pekan lalu (31/12) bergerak melemah. DJIA -0,2%, diikuti S&P 500 0,3%, dan Nasdaq 0,6%.
Beberapa rilis data yang diperhatikan investor AS pada pekan ini adalah data purchasing PMI, risalah rapat FOMC, trade balance, dan unemployment rate.
Pasar komoditas terpantau bergerak mixed, harga minyak melemah 2,3% ke level USD 75,2/bbl, batubara -0,1% ke level USD 145.l,7/ton, sedangkan nikel menguat 1,2% ke level USD 20.829/ton, dan emas terpantau meningkat 0,8% di level USD 1.829/toz.
Bursa Asia ditutup cenderung menguat pada akhir pekan lalu (31/12):. Hang Seng +1,2% dan Shanghai 0,6% sedangkan Kospi dan Nikkei closed.
Indeks EIDO ditutup melemah 0,2% dan IHSG 0,3% pada perdagangan Kamis lalu (30/12) ke level 6.582, dengan net sell asing di pasar reguler sebesar Rp223,8 miliar dan net sell asing di pasar negosiasi sebesar Rp80,2 miliar. Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh BBRI (Rp90,0 miliar), MTEL (Rp 74,1 miliar), dan ADRO (Rp38,6 miliar). Sementara itu, angka net buy asing tertinggi dicatatkan oleh EMTK (Rp63,4 miliar), BEBS (Rp59,4 miliar), dan MDKA (Rp54,2 miliar). Top leading movers adalah DCII, BBRI dan BEBS, sedangkan ARTO, TLKM, dan BMRI menjadi top lagging movers.
Terjadi penambahan 174 kasus baru COVID-19 kemarin dengan positive rate sebesar 0,1% (recovery rate: 96,5%, kasus aktif: 4.382).
Pagi ini Kospi dan Nikkei closed. “Kami memperkirakan IHSG cenderung sideways hari ini dengan minimnya sentimen dari bursa global dan regional,” demikian tertulis.
