Jakarta, TopBusiness — Seiring dengan potensi bisnis menara dan ekonomi digital yang masih tinggi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel tetap optimistis menyambut tahun ini.
Untuk itu, perseroan pun yakin dari sisi raihan pendapatan dan laba bersih masih dapat lebih tinggi lagi dibanding tahun 2021 lalu.
Menurut Direktur Keuangan dan Risk Management Mitratel, Ian Sigit Kurniawan, di tahun ini perseroan mematok pendapatan (revenue) sebesar Rp7,4 triliun dengan net income atau laba bersih di angka Rp1,6 triliun.
“Target itu terus dinamis dan kami optimistis bisa mencapai di tahun ini. Karena kami masih ada beberapa aksi organik dan akan melakukan best effort untuk mencapai target itu. Sehingga kita bisa capai lebih tinggi lagi dari tahun lalu,” terang Ian dalam acara Media Gathering Mitratel di Jakarta, Senin (10/1/2022).
Sementara di tahun lalu, diperkirakan pendapatan perusahaan mencapai Rp6,7 triliun atau lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan. Dan hingga kuartal III-2021 MTEL mencatat pendapatan tumbuh 14,6% menjadi Rp5 triliun, dengan laba bersih menjadi lebih dari Rp 1 triliun.
Sebelumnya juga disebutkan, pertumbuhan laba bersih perseroan akan dipatok di kisaran 20% pertumbuhannya. Dan untuk pendapatan akan bertumbuh 10-11% di 2022.
“Untuk kinerja keuangan di 2021 lalu masih progres closing. Tapi so far dengan progres yang masih berjalan ini target kami di 2021 lalu optimis tercapai sesuai target,” kata dia
Di tempat yang sama, Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, dengan tingginya potensi ekonomi digital di Indonesia, pihaknya tak akan melewatkan kesempatan untuk membantu ekonomi digital Indonesia tumbuh lebih tinggi lagi.
Kata dia, tumbuh suburnya ekonomi digital suatu negara tidak lepas dari bertambahnya jumlah masyarakat digital (society), serta tersedianya infrastruktur digital yang mumpuni.
“Ketiga faktor itu merupakan basic ingredients dalam menciptakan digital ecosystem yang sehat. Tugas Mitratel dalam ekosistem tersebut adalah memastikan connectivity antara masyarakat dengan pelaku usaha digital bisa terlayani melalui tower kami,”ujar Teddy, panggilan akrab sang Dirut itu.
Ekonomi digital Indonesia sendiri diprediksi akan terus melesat dalam beberapa tahun ke depan. Google, Temasek, dan Bain & Company dalam riset terbaru yang dirilis akhir tahun lalu menyebutkan valuasi ekonomi digital Indonesia tumbuh 49% sepanjang 2021 menjadi US$ 70 miliar dari subluminal US$ 47 miliar pada 2020.
Bahkan, Google cs terus merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di tahun 2025 dari sebelumnya US$ 124 miliar menjadi US$ 146 miliar.
Untuk itu, berbekal pengalaman di bisnis menara telekomunikasi sejak 2008, Teddy mencatat sampai akhir September 2021 lalu jumlah menara yang dikelola Mitratel ada sebanyak 28.076 unit.
Uniknya, 57% atau 16.150 unit menara tersebut tersebar di luar Pulau Jawa.
“Dengan tren pertumbuhan pengguna internet yang semakin menyebar ke seluruh Indonesia, keberadaan tower Mitratel di luar Pulau Jawa saya yakini bisa membantu ekspansi perusahaan-perusahaan digital ke wilayah baru yang potensial,” terang dia.
“Sementara di Pulau Jawa sendiri, jumlah jaringan tower kami sejumlah 11.929 menara,” sambungnya
Saat ini, Mitratel merupakan perusahaan menara telekomunikasi terbesar yang mengelola lebih dari 25% pangsa pasar bisnis menara di Indonesia.
Empat Strategi di 2022
Untuk menjaga tren pertumbuhan di tahun 2022, Teddy menjelaskan setidaknya ada empat strategi yang akan dijalankan Mitratel.
Pertama, memperbesar kontribusi pertumbuhan bisnis organik dengan cara menggenjot layanan built to suit (B2S) dan kolokasi menara dari operator jaringan seluler (MNO) yang menjadi klien perusahaan.
Kedua, melanjutkan aksi merger dan akuisisi (M&A) aset menara dari Telkomsel maupun mengakuisisi saham perusahaan menara yang lebih kecil.
Ketiga, Mitratel akan melakukan ekspansi dengan menyediakan beberapa layanan baru.
“Saat ini kami tengah mengembangkan portfolio layanan infrastruktur digital lengkap bagi operator. Termasuk dengan melakukan fibersisasi menara, mengaplikasikan infrastructure as a service, sehingga kami bisa menyediakan jaringan IoT bagi pelanggan non-MNO, serta ekspansi ke penyediaan small cells sehingga bisa memberikan solusi infrastruktur untuk pemanfaatan 5G,” papar Teddy.
Menurutnya, dengan kemampuan pendanaan baik dari hasil IPO senilai lebih dari Rp18 triliun, serta leverage dan biaya utang (cost of debt) terendah dibanding operator lainnya, Mitratel optimistis menyambut setiap peluang yang ada di tahun ini.
Dan keempat, Mitratel akan terus meningkatkan efisiensi belanja modal (capex) dan biaya operasional (opex) perusahaan sehingga bisa meningkatkan profitabilitas serta menambah arus kas.
FOTO: TopBusiness
