Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia pada hari ini berpeluang terdongkrak.
Dalam daily research report oleh Samuel Research Team, via samuel.co.id, di Jakarta, terlihat judul Didorong Harga Komoditas, IHSG Diperkirakan Menguat.
Bursa AS ditutup melemah pada Senin (7/3). DJIA turun 2,37% ke level 32.817 diikuti S&P500 (2,95%) dan Nasdaq (3,62%). Pasar diwarnai kekhawatiran investor akan potensi terjadinya ‘stagflasi’ (melambatnya pertumbuhan ekonomi disertai inflasi tinggi) sebagai dampak dari kenaikan harga komoditas akibat tensi geopolitik Rusia-Ukraina.
Sejumlah pengamat sendiri memperkirakan bahwa data inflasi CPI AS periode Februari (yang akan dirilis Kamis (10/3) waktu setempat) akan menunjukkan kenaikan hingga 7,8% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari pasar komoditas, sejumlah harga komoditas mengalami kenaikan, diantaranya minyak Brent (4%), diikuti emas (1,3%), CPO (6,2%), dan batubara (6,7%).
EIDO ditutup turun 1,25%, sementara IHSG turun 0,86% pada Senin (07/3) ke level 6.869 dengan BBCA, BBRI dan TPIA sebagai top lagging movers. Investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp 262,8 miliar. Saham dengan nilai net sell asing tertinggi di pasar reguler adalah BBCA (Rp 503,7 miliar), BBRI (Rp 245,4 miliar), dan INDF (Rp 66,7 miliar) sementara net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan ANTM (Rp 224.3 miliar), TLKM (Rp 167,3 miliar), dan ASII (Rp 88,1 miliar).
Sebanyak 21.380 kasus COVID-19 baru dilaporkan di Indonesia kemarin (7/3) dengan positivity rate sebesar 9,9% (recovery rate: 89,6%, kasus aktif: 448.273).
“Kami memperkirakan investor Indonesia juga akan memantau perkembangan situasi global serta rilis sejumlah data ekonomi. Meski demikian, penguatan harga komoditas global yang masih cukup dominan diperkirakan dapat menjadi faktor yang mendongkrak IHSG. Karenanya, kami memperkirakan IHSG dapat menguat hari ini,” demikian tertulis.
Foto: Rendy MR
