Jakarta, TopBusiness—Tiga minggu setelah invasi Rusia ke Ukraina, sentimen risiko telah menjadi stabil setelah fase penuh gejolak. Pasar komoditas paling diuntungkan oleh guncangan itu karena harga minyak naik ke tingkat tertinggi dalam lebih dari satu dasawarsa, meskipun sejak itu telah terkoreksi sebesar lebih 20%. Walau demikian, harga itu masih pada tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan 2021.
Hal itu dikatakan oleh ekonom senior DBS Group Research, Radhika Rao, dalam riset terbaru yang diterima redaksi Majalah TopBusiness (5/4/2022).
Radhika kemudian membahas implikas invasi tersebut. Pertama, hubungan perdagangan dengan Rusia serta Ukraina kecil, kurang dari US$3 miliar, dengan impor melebihi 1% dari total pembelian.
Produk terkonsentrasi tinggi di gandum, misalnya, karena Ukraina menyumbang seperempat dari impor biji-bijian (total 3 juta ton pada 2021) dan pupuk dari Rusia. Kelompok produk lain yang diperdagangkan termasuk besi setengah jadi, batu bara, dan minyak bumi olahan.
Kedua, dampak tidak langsung dari konflik ini terlihat di harga komoditas. Indonesia adalah importir bersih minyak, meskipun defisit minyak bersih, lebih kecil daripada sebagian besar blok Asean-6, kecuali Malaysia.
Kenaikan harga energi meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar yang diatur dan tarif listrik, dengan keputusan akhir bergantung pada kesediaan pihak berwenang untuk membebankan kenaikan biaya pada konsumen untuk membatasi kerugian perusahaan energi milik negara serta mengurangi tekanan pada penghitungan fiskal (subsidi).
Bauran pasokan energi primer1 pada 2019 terdiri atas minyak bumi 35%, batubara 37% dan gas 18,5%. Selebihnya merupakan pembangkit listrik tenaga air, biofuel, panas bumi, dan lain-lain.
Harga varian bahan bakar premium dan Pertalite yang paling banyak digunakan tidak berubah dalam dua tahun terakhir, sementara harga Pertadex non-subsidi telah dinaikkan sebesar 13% pada Februari 2022 dari harga pada Januari 2020.
Secara bersamaan, harga LPG (12kg) telah dinaikkan sebesar 17% selama periode tersebut, sementara kontrol harga mempertahankan harga varian LPG lain. Bauran langkah-langkah yang mungkin dilakukan adalah dengan menaikkan sebagian harga bahan bakar untuk mencerminkan pembebanan biaya lebih tinggi di tingkat konsumen, seraya berupaya mengambil prakarsa jangka menengah untuk secara bertahap menghapus bahan bakar kadar rendah untuk bahan bakar kadar tinggi dan lebih bersih.
Radhika menjelaskan bahwa bersamaan dengan itu, kenaikan tajam dalam harga gandum secara global kemungkinan akan meningkatkan biaya impor dan tercermin dalam industri makanan hilir, seperti, sereal/roti, produk makanan berbasis biji-bijian, selain harga kedelai, minyak goreng, dan pupuk.
Terakhir, kenaikan tarif pajak pertambahan nilai sejak April 2022 (dan cukai) dan pembebanan biaya produksi pada konsumen adalah risiko yang perlu dipantau. Ancaman kenaikan harga energi dan makanan yang mendorong inflasi adalah risiko tahun ini, tergantung pada keputusan terkait harga yang diatur.
“Kami mempertahankan perkiraan tahunan kami di angka 3% untuk 2022 dengan risiko positif 50-70bp untuk penyesuaian harga.”
