TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Upaya PDAM Sleman Turunkan Tingkat NRW

Editor
11 April 2022 | 20:52
rubrik: BUMD, Event
Ini Upaya PDAM Sleman Turunkan Tingkat NRW

Jakarta, TopBusiness – Kebocoran maupun kehilangan air atau dikenal Non Revenue Water (NRW), masih menjadi salah satu masalah  bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia, termasuk juga dialami PDAM Tirta Sembada kabupaten  Sleman. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan tingkat kebocoran ini, sebab selain mengurangi peluang pendapatan, distribusi aliran air ke pelanggan juga terganggu.

Saat ini tingkat kehilangan air di PDAM Tirta Sembada Kabupaten  Sleman masih sebesar 25,11%. Meski masih relatif cukup tinggi, angka tersebut sebenarnya masih di bawah rata-rata nasional yang lebih dari 30 persen. Namun demikian, mengingat potensi peluang kerugian finansial maupun dampaknya bagi distribusi aliran air ke pelanggan akibat kebocoran ini,  manajemen PDAM Tirta Sembada terus berupaya keras untuk menurunkan tingkat angka kehilangan air ini.

“Total produksi air kami saat ini sebesar 11.222.955 M3 (meter kubik). Distribusi air sebesar 9.374.591 M3 dan air terjual 7.020.830 M3. Sehingga tingkat NRW  kami  sebesar 25,11  persen, masih di bawah rata-rata nasional sekitar 30 persen. Namun demikian, kita terus berupaya keras untuk menekan tingkat kehilangan air ini,” ujar Direktur Utama PDAM Tirta Sembada, Dwi Nurwata, SE MM saat presentasi dan wawancara penjurian “Top BUMD Awards 2022” pada (08/04) yang diselenggarakan Majalah TopBusiness bekerja sama dengan Institut Otonomi Daerah (I-OTDA) secara virtual melalui aplikasi zoom meeting.

Dalam paparannya dikatakan, jumlah kehilangan air atau Non Revenue Water (NRW) merupakan jumlah air yang dikeluarkan ke jaringan distribusi namun lolos atau tidak direkeningkan. Ia pun menjelaskan bahwa kehilangan air terdiri dari kehilangan yang disebabkan secara fisik (teknis) dan non fisik (administratif). Penyebab utama kehilangan air secara fisik, lanjutnya, disebabkan oleh kebocoran pipa. Sedangkan kehilangan air non fisik disebabkan beberapa faktor. Di antaranya konsumsi tak resmi, ketidakakuratan catat meter air, dan juga bisa karena kesalahan penanganan atau pencatatan data oleh petugas.

BACA JUGA:   Upaya RSUD dr. Soeratno Gemolong Tingkatan Mutu Pelayanan RS

“Berbagai faktor baik teknis atau fisik ini yang terus kita benahi agar tingkat NWR bisa terus ditekan,” terang Dwi Nurwata di depan tim Dewan Juri Top BUMD Awards 2022  (Prof. DR Wahyudin Zarkasi /UNPAD Bandung, Sri Nitiswati –Lembaga Kajian Nawacita/LKN), Lim Kurniawan –Founder Awasome Consulting, dan Ir. Sigit Adjar Susilo  /Dewan Pengawas Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Indonesia).

Tercatat tingkat NRW PDAM Tirta Sembada dari tahun ke tahun bisa ditekan. Tahun  2020 tingkat NRW sebesar 25,42 persen, turun dari tahun sebelumnya (2019) sebesar 25,55 persen. Sedangkan tahun 2018 tingkat kehilangannya mencapai 25,56 persen. Turun dibanding tahun sebelumnya 2017 sebesar 27,35 persen dan turun dari tahun 2016 yang mencapai 28,31 persen.

Upaya untuk menekan kehilangan air  dilakukan di antaranya dengan rutin melakukan kontrol dan monitoring. PDAM  Tirta Sembada juga memasang alat logger untuk mengukur tekanan di sejumlah titik. Sementara itu dari sisi teknis, terutama kehilangan air yang disebabkan ada watermeter yang tidak akurat, secara bertahap juga dilakukan peremajaan atau penggantian water meter di pelanggan.

Selain itu, untuk menekan adanya kecurangan dari petugas pencatat meter, pihaknya juga mulai melakukan sistem pencatatan dengan dukungan teknologi digital. Dengan sistem ini, data yang diinput petugas lapangan bisa langsung terkoneksi dan terekam di pusat untuk dianalisa petugas di kantor, sehingga jika terdapat indikasi kejanggalan, bisa cepat termonitor dan dilakukan pengecekan langsung di lapangan.

“Secara umum proses digitalisasi di PDAM Sleman juga terus kita tingkatkan, baik di sistem manajemen, produksi, operasional maupun untuk layanan pelanggan. Untuk mendukung operasional dan produksi, di antaranya kita sudah menerapkan teknologi sistem informasi geografis atau Geographic Information System (GIS). Aplikasi ini digunakan untuk pengamat produksi, monitoring, evaluasi jaringan perpipaan serta data pelanggan dengan menggunakan peta digital yang bergeoreferensi dengan sistem komputerisasi. Teknologi ini akan terus dikembangkan ke arah  PDAM Smart, sehingga para pelanggan juga makin mudah mendapatkan layanan kami. Termasuk untuk memperluas sistem pembayaran online, kemudahan pengaduan online, pasang baru dan dan,” ungkap Dwi Nurwata yang sudah tiga kali periode dipercaya menjadi Dirut PDAM Sleman (2020-2024) ini.

BACA JUGA:   Perumda Paljaya, Piawai Mengelola Limbah Warga Jakarta

Di samping konsen terhadap masalah kehilangan air, PDAM juga tetap akan fokus pada program penambahan sambungan baru. Saat ini cakupan layanan mencapai sebesar  23,26 % dari total penduduk Kab. Sleman sekitar 1,1 juta. PDAM Sleman saat ini melayani wilayah di 16 Kecamatan dari 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman. Adapun wilayah yang belum terlayani oleh PDAM Sleman yakni kecamatan Cangkringan.

Adapun total pelanggan sebanyak jumlah pelanggan  41.174 unit , naik dari tahun 2019 dengan 34.673 pelanggan. Terdiri atas rumah tangga (40.153 unit); sosial (394 unit); instansi (236unit); niaga/industri (307 unit); dan kran umum (84 unit).  Tahun ini diharapkan bisa terealisasi target pernambahan termasuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tahun lalu daerah Prambanan menjadi salah satu prioritas dalam keberhasilan pemasangan SR 1.032 Unit. Dengan penambahah pelanggan ini, rencananya, PDAM juga akan menambah debit produksi di beberapa sumber IPA.

Dalam hal ini, pihaknya juga sudah menyusun sejumlah langkah untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan air bersih kepada para pelanggan. Baik itu pelanggan perorangan, instansi seperti, hotel, apartemen dan lain sebagainya. Terobosan yang dilakukan di terutama menambah sumber mata air baru.

Dampak Pandemi

Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa sejak terjadi pandemi Covid-19 awal 2020, juga berdampak  pada sisi usaha. Meski secara produksi dan distribusi tetap terjaga dengan baik, namun dari sisi pelanggan mengalami penurunan kemmampuan pembayaran sehingga berdampak pada pendapatan perusahaan. Dalam hal ini perusahaan juga memberikan toleransi dan relaksasi, termasuk keringanan tarif pembayaran, penurunan golongan pelanggan dan lainnya sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada pelanggan akibat kesulitan di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Sebagai wujud kepedulian perusahaan kepada pelanggan dan juga untuk membantu pemerintah, kami ada dispensasi pembayaran rekening air hingga 50 %. Pembebasan denda, keringanan pemakaian tinggi, hingga dispensasi dari pelanggan usaha/hotel. Tentu ini berdampak pada pendapatan kami.  Kita juga ada bantuan disinfektan di 812 dusun, bantuan APD, masker, bantuan sarana cuci tangan, dan lainnya. Bahkan saat ini  masih banyak masyarakat  yang mau minta untuk diberikan keringanan selama pandemi ini. Sehingga tentu ini berdampak pada neraca keuangan kami,” katanya.

BACA JUGA:   BPR Bank Pekalongan, Bangun Kinerja Bisnis dan Layanan Lewat Penguatan Tata Kelola

Menurutnya, ini juga bentuk tanggung jawab perusahaan, di mana  sebagai BUMD, PDAM Sleman memiliki tugas pokok dan fungsi yakni; pertama, memberikan layanan publik (50%) melalui pemberian akses air bersih kepada masyarakat, Meningkatkan derajat kesehatan dan Membantu meningkatkan kesehjahteraan masyarakat. Selain itu, tentunya juga mendapat keuntungan atau profit (50%) bagi pemasukan PAD untuk mendukung pembangunan di dearah.

Berkat strategi yang telah dijalankan, tercatat meski di tengah pandemi covid-19, tahun 2021 PDAM berhasil meraih laba sebesar Rp 1.328.350.177,-dengan tingkat ekuitas mencapai Rp. 109.715.627.044. Perusahaan pada tahun 2021 juga masih bisa memberikan setoran dividen ke kas daerah hingga sebesar Rp 1,021 miliar.

Penulis: Ahmad Chury

Tags: PDAM SlemanTOP BUMD Awards 2022
Previous Post

Strategi Investor Kripto Saling Berbeda

Next Post

Pengelola Perumdam Tirta Senentang Terapkan Manajemen Risiko

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR