Jakarta, TopBusiness – Bagi Badan Usaha Milik Daerah, BUMD dengan pemegang saham mayoritas milik Provinsi Jawa Barat ini, tentunya untuk meningkatkan capaian portofolio dan capaian bisnis memang diperlukan berbagai Inovasi, sinergitas lintas bisnis apakah itu swasta, pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan juga BUMD. Dan juga yang sangat penting tata kelola bisnis dan perusahaan yang mengacu kepada terapan Good Corporate Governance (GCG) memang sudah menjadi kemutlakan bagi perusahaan ingin meningkatkan portofolio bisnis serta pula peningkatan capaian laba.
Organisasi perusahaan harus dapat menerapkan mitigasi risiko, dan setiap kebijakan perusahaan harus pula comply pula dengan berbagai peraturan dan regulasi dari pemerintahan.
Ditegaskan Direktur Utama PT Jasa Sarana (JS), Hanif Mantiq, kami sebagai perusahaan milik daerah ini harus kreatif, inovatif serta juga memiliki kelincahan dalam menangkap peluang pasar yang sangat besar mulai dari tingkat daerah hingga pusat.
Untuk itu, diperlukan koneksi dan intelegensia bisnis yang smart agar bisa mengejar peluang bisnis tersebut dengan profesionalitas.
Selain, juga harus membangun link yang sangat luas agar kue bisnis bisa kita dapatkan dan dikelola pula dengan baik agar bisa memberikan kebermafaatan bagi perusahaan, kesejahteraan karyawan dan juga memberikan multiplier effect bagi pembangunan daerah serta juga nasional.
Bagi JS peningkatan portofolio ini sangatlah ditekankan sekali, perusahaan memiliki konsentrasi bisnis yang sangat luas pada bidang: Transportasi, Energi, Telematika, Manajemen Limbah, Infrastruktur kesehatan. “Maka dari 5 unit konsentrasi bidang bisnis kami ini harus bisa memberikan konstribusi besar bagi perusahaan dan manajerial yang kami bangun sangatlah ramping agar bisa menekan biaya”, tegas Hanif kepada Dewan Juri TOP BUMD Awards 2022 melalui jaringan zoom online meeting, Rabu, 13/4/2022.
Kinerja apik JS pun dapat menghasilkan serta capaian-capaian yang sangat membanggakan bagi perusahaan daerah ini. Pendapatan bersih pada tahun 2021 dapat membukukan laba sebesar Rp 191.999.519, dan tahun 2020 masih sebesar Rp 75.546.942. dan berhasil membukukan capaian laba pada tahun 2020 sebesar Rp 41.369.855 dan tahun 2021 sebesar Rp 53.767.554. dan total aset pada 2020 sebesar Rp 622.446.210 dan tahun 2021 sebesar Rp 604.413.708, total ekuitas 2020 sebesar Rp 383.462.805 dan tahun 2021 sebesar Rp 392.027.680. Total liabilitas tahun 2020 sebesar Rp 238.983.405 dan tahun 2021 sebesar Rp 211.386.029.
Tentunya Hanif menegaskan, pihaknya terus melakukan terobosan berbagai Inovasi agar peningkatan capaian laba JS sangat memberikan kontribusi besar bagi induk perusahaan.
Dalam waktu dekat ini kami akan membangun lahan yang berdampingan dengan kawasan tol dengan luasan 20 hektar, kami akan membangun perumahan dengan membantu pemerintah untuk meningkatkan backlog perumahan, kami akan bangun rumah berbasiskan kepada masyarakat kurang mampu alias MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) dengan capaian harga rumah di bawah Rp 150 juta. Lantas juga sedang melakukan joint kerjasama dengan pihak lain dalam memproduksi sendiri alat-alat alkes di dalam negeri.
“Kami sudah negosiasi dengan pihak mitra tersebut, mereka lebih konsen kepada hulunya, menyangkut produksinya dan JS sebagai distribusi. Dimana jika joint bisnis ini bisa terealisasi ini akan mengurangi dampak impor bahan alkes dari luar negeri dan juga akan mengurangi devisa bagi negara. Harapan kami keberpihakan pemerintah sebagai regulator dapat memberikan angin segar bagi perekonomian nasional, ketergantungan Indonesia terhadap alat-alat kesehatan produk impor, ini sangatlah tinggi pula dan ujung-ujungnya bisa merobek APBN dan mencabik devisa negara”, tegas Hanif.
Foto: Istimewa
