Jakarta-Thebusinessnews. Pelemahan rupiah terhadap dollar AS masih menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi para investor.
Menurut Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, hingga akhir pekan kemarin laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan menjadi 4.615,16 dibandingkan penutupan di pekan sebelumnya di level 4,456.74.
“Indeks kita naik bagus, tetapi depresiasi pada currency (rupiah) yang ditakutkan. Makanya, stabilitas nilai tukar yang paling mereka (investor) takutkan,” kata Tito di Gedung BEI Jakarta, Senin (1/2).
Lebih lanjut dia menyebutkan, sepanjang pekan kemarin penguatan IHSG sebesar 3,55 persen tersebut merupakan yang tertinggi di Asia. “Jepang (Nikkei 225) hanya menguat 3,3 persen, bahkan China (Shanghai SE) minus 6,14 persen. Ini yang menarik buat saya,” tuturnya.
Menurut Tito, saat ini sejumlah sentimen positif dari indikator makroekonomi domestik menunjukkan tren yang terus membaik, seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi dan rupiah yang cenderung stabil. “Rupiah yang stabil menjadi sign bagus buat pasar kita,” imbunya.
Tito menilai, saat ini pergerakan rupiah terhadap dollar AS tengah berada pada level yang stabil sesuai dengan fundamental ekonomi nasional. “Rupiah sudah stabil ke Rp13.000-an, perubahan Rp100 atau Rp200 masih baik,” jelas Tito.
Dia berharap, dalam jangka pendek Bank Indonesia bisa kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) dan rupiah juga akan bergerak stabil dalam tren jangka pendek. “Short term diharapkan ada dana dari tax amnesty dan juga diharapkan ada penurunan harga bensin,” ucapnya.
Selain itu, jelas dia, sentimen positif juga datang dari stabilitas perilaku berpolitik sejumlah partai. “Golkar sudah tenang,” kata Tito sembari berharap situasi kondusif tersebut bisa mengembalikan IHSG ke level 5.000.(az)