Jakarta-Thebusinessnews. Pergerakan pasar obligasi domestik pada Januari 2016 menunjukkan kinerja positif ditengah pemulihan ekonomi global yang masih terbatas paska kenaikan Fed-Fund Rate (FFR) pada 17 Desember 2015 lalu.
Hal itu terlihat dari Indonesia Composite Bond Index-ICBI yang merupakan indeks komposit kinerja obligasi Indonesia mencatatkan rekor tertingginya pada Januari 2016 yakni berada di level 188,9887. ICBI naik +5,71poin mom atau +3,12%mom dari level 183,2759 di akhir Desember 2015 ke level 188,9887 di akhir Januari 2016. Secara year on year (yoy), tingkat pengembalian (total return) obligasi domestik naik sebesar +2,89 poin yoy atau +1,55%yoy dari level 186,1021 pada akhir Januari 2015.
Direktur Utama IBPA Ignatius Girendroheru, , menyampaikan bahwa bullish-nya pasar obligasi pada Januari 2016 ditopang oleh stabilitas makroekonomi dalam negeri seperti inflasi tahun kalender 2015 di level 3,35%yoy, lebih rendah dari level akhir tahun 2014 di level 8,36%yoy. “Tingkat inflasi tersebut menjadi yang terendah sejak 2009.” Ujar dia di Jakarta, Rabu(3/2/2016).
Selain itu nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS juga tercatat stabil dengan tren menguat di akhir bulan yakni di kisaran Rp13.778/US$-Rp13.964/US$. Stabilitas makroekonomi semakin didorong oleh kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan BI Rate sebesar 25bps ke level 7,25% pada pertengahan Januari 2016 . Kebijakan Pemerintah yang merilis paket kebijakan ekonomi Jilid IX juga menjadi signal positif bagi pasar sebagai bentuk komitmen Pemerintah untuk menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pertumbuhan dalam negeri.
Ignatius menambahkan, melemahnya industri manufaktur Tiongkok serta jatuhnya harga minyak dunia sempat membayangi pasar obligasi domestik di Januari 2016. Namun demikian harga minyak dunia berhasil rebound dan mendorong kinerja pasar obligasi domestik. Harga minyak dunia rebound sebesar +26,63% sejak terkoreksi di level terendahnya dalam 12 tahun terakhir yakni dari level US$26,55/barel (20/1) menjadi US$33,62/barel pada akhir Januari 2016. Keputusan Bank of Japan (BoJ) menerapkan kebijakan suku bunga negatif mulai 16 Februari di level -0,10% juga mendapat respon positif dari investor global. Bursa saham Asia termasuk IHSG kompak menguat dan turut memberikan dampak positif bagi pasar obligasi domestic. ( az)