Jakarta, TopBusiness – Sebagai produsen lokal Valves (TRK VALVES) yang diproduksi PT Teknologi Rekayasa Katup Valves Manufacturer (TRK VALVES) siap memasuki pasar global untuk memenuhi kebutuhan industri hulu migas di luar negeri. TRK VALVES mempunyai sasaran pasar potensial dengan negara penghasil migas yaitu Timur Tengah, Uni Emirate Arab.
Belanja modal untuk suplay chain di industri migas luar negeri ini angkanya sangatlah menggiurkan sekali bagi TRK VALVES yakni sebesar USD 20 miliar. Itu untuk kebutuhan penunjang bagi hulu migas tersebut.
Bagi TRK VALVES, sebagai produsen VALVES dalam negeri dengan kualitas produknya sudah tidak diragukan lagi karena diakui oleh Kotraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) perusahaan asing seperti British Petroleum (BP), EXXON-MOBIL, ENI, HESS, ConocoPhilip, ChevronTexaco, Total yang mengunakan TRK VALVES untuk dipasangkan di seluruh sumur-sumur gas dan minyak di seluruh lapangan migas.
Dan juga tidak sedikit pula industri migas KKKS dalam negeri menggunakan TRK VALVES, seperti Pertamina Hulu Mahakam (PHM), dan hampir semua anak perusahaan Pertamina, Medco Energi Tbk, PT Saka Energi, serta hampir sebagian besar industri hulu migas dalam negeri.
Kualitas Produk TRK VALVES sudah tidak diragukan lagi. Di Asia Pasifik hanya TRK salah satunya produsen VALVES untuk industri hulu migas. Untuk di dunia keunggulan produknya hanya bisa dipersandingan kualitasnya dengan produsen Italia, karena produk VALVES terbaik di Dunia hanya dari Italia.
Ditegaskan Direktur Utama TRK VALVES, Soni, kami satu-satunya industri dalam negeri dalam memproduksi Valves untuk industri hulu migas dengan kualitas produk asing, saingan kami hanya Italia, kami satu-satunya di Asia Pasifik.
“Tentunya kami sebagai industri dalam negeri dengan keunggulan produk yang sudah terbukti bagi perusahaan asing ini yang banyak mengunakan produk kami, tentunya tantangan kami masih sebagian besar menggunakan bahan baku (raw material) masih menggunakan subsitusi impor. Sementara industri dalam neegeri jika memasuki bahan baku utama dari luar negeri masih dikenakan pajak impor yang sangat tinggi dengan total pajak dan fiscal sebesar 27,5%, jadi tentunya industri dalam negeri akan kalah bersaing dengan produk yang sama”, tegas Soni.
Harapan Soni, keberpihakan pemerintah agar bisa meninjau ulang pajak dan fiskal agar produk unggulan dalam negeri bisa bersaing memasuki pasar global. Banyak industri unggulan dalam negeri yang bisa go global, akan tetapi selalu “Mentok dengan Fiskal dan Pajak,” tuturnya.
Tentunya jika pemerintah bisa menijau ulang kebijakan fiskal dan pajak ini akan meningkatkan devisa bagi negara, lantas juga industri dalam negeri akan tumbuh dan berkembang yang akan memberikan dampak berganda yang sangat besar bagi pembagunan negeri ini.

