Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan surat utang atau dalam bentuk efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) sepanjang semester I-2022 ini mencapai Rp69,7 triliun angka tersebut lebih dari 50% dari penerbitan di tahun 2021 lalu yakni di angka Rp107,5 triliun.
Sementara penerbitan EBUS tertinggi terjadi di tahun 2017 yang mencapai Rp162,2 triliun. Kemudian menurun 32,8% di 2018 jadi Rp108,9 triliun, naik lagi 20% di 2019 jadi Rp130,7 triliun, di 2020 turun 31,4% jadi Rp89,6%, dan di 2021 naik lagi 20% jadi Rp107,5 triliun.
Adapun untuk outstanding EBUS sendiri hingga semester I-2022 tersebut mencapai Rp464,9 triliun.“Jika dilihat outstanding-nya itu masih naik secara ytd (year to date) sebesar 1,4% dibanding akhir tahun 2021 lalu yang di angka Rp458,6 triliun,” ujar Dirketur Utama Pefindo, Salyadi Saputra kepada media, secara virtual, Jumat (8/7/2022).
Dan ternyata untuk penggunaan penerbitan EBUS sendiri mayoritas didominasi oleh kebutuhan untuk membayar utang korporasi atau refinancing. “Sebanyak 47,7% itu untuk refinancing, tapi yang untuk modal kerja juga banyak yakni 43,5%, artinya ini positif. Dan sisanya yang mencapai 8,7% itu untuk kebutuhan lain-lain,” katanya.
Penerbitan EBUS itu sendiri, dia melanjutkan, dilakukan oleh 43 perusahaan listed selama paruh pertama 2022 itu. Angka ini memang lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, jika dilihat total penerbit EBUS-nya untuk outstanding hingga semester I ini sudah ada 137 emiten.
Dari total 137 emiten itu, yang terbanyak memang berasal dari emiten non institusi keuangan sebanyak 53,3% dan institusi keuangan di angka 46,7%. Namun jika dilihat dari sektornya, ternyata emiten keuangan dominan. Yakni, sebanyak 25,8% dari lembaga pembiayaan, 18,8% dari perbankan, 7,4% dari listrik & energy, 7,2% dari pulp & kertas, 4,5% dari pertambangan, dan sebanyak 22% adalah sector lainnya.
Dan jika dilihat dari jenis surat utangnya, untuk MTN (Medium Term Note) atau utang jangka menengah terus mengalami penurunan. Per akhir Juni 2022 hanya sebanyak Rp3,0 triliun. Lebih rendah dari tahun 2021 yang di angka 5,5 triliun, lalu di tahun 2020 (Rp7,0 triliun), 2019 (15,8 triliun), dan 2018 (Rp23,5 triliun). “Dengan outstanding MTN adalah Rp35,3 triliun per semester I 2022 itu,” katanya.
Surat utang lainnya yakni sukuk atau surat uang syariah masih tinggi. Per semester I itu, penerbitannya mencapai Rp6,7 triliun. Angka ini memang masih kecil dibanding tahun 2021 yakni Rp13,5 triliun, namun ternyata tak jauh berbeda dengan tahun 2020 yang di angka Rp7,9 triliun. Dan rekor penerbitan sukuk terjadi di 2019 yang mencapai Rp16,6 triliun.
“Dengan outstanding per semester I dari sukuk ini mencapai Rp48,1 triliun. Atau naik 10,3% secara ytd dari sepanjang tahun 2021 lalu yang di angka Rp43,6 triliun,” pungkasnya.
FOTO: Istimewa
