Jakarta, TopBusiness – PT Patra Badak Arun Solusi atau PBAS menilai, penerapan prinsip-prinsip governance, risk and compliance (GRC) telah memberikan keberlanjutan bisnis di perusahaan. Pasalnya, dengan GRC bisa memitigasi risiko dan mengelola perusahaan dengan azas kepatuhan sehingga menciptakan kinerja keuangan dan operasi yang positif.
Saat sesi pendalaman materi presentasi di ajang penjurian TOP GRC Awards 2022, yang berlangsung secara daring melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Jumat (08/07/2022), Direktur Utama PBAS, I Ketut Laba, menyampaikkan bahwa di tahun 2018, PBAS mengalami tekanan yang cukup signifikan, sehingga kinerja keuangan dan operasi tidak mengalami pertumbuhan. Hal tersebut yang menjadikan momentum untuk melakukan diagnosis terhadap proses recovery di internal PBAS.
“Salah satu upaya melakukan recovery untuk kembali pada jalur pertumbuhan perusahaan adalah aspek GRC,” kata dia, dihadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2022.
Dikatakan I Ketut Laba, dengan upaya perbaikan dan pemenuhan infrastruktur GRC, PBAS perlahan tapi pasti telah mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. “Hal tersebut dapat dilihat dari indikator profit dan laba yang terus tumbuh pada tahun 2019, 2020, dan 2021,” ujarnya.
Selain itu, sistem internal audit perusahaan juga berjalan dengan optimal dengan didukung oleh pedoman-pedoman dan prosedur yang menjadi panduan agar dapat bekerja secara lebih profesional dan berintegritas. Dengan begitu, mampu menjalankan bisnis secara baik dan sesuai dengan rencana.
“Kemudian dari sisi penerapan prosedur internal dengan internal control, kami ada perangkatnya internal audit. Kemudian dari sisi sistem manajemen, kami menerapkan beberapa sistem manajemen baik dari sisi quality. Kemudian dari yang terakhir itu adalah sistem manajemen anti penyuapan ISO 37001:2016,” kata dia.
Dalam tataran di lapangan pun, manajemen menerapkan pengawasan dalam sebuah projek sehingga mampu mengontrol dan menghadirkan transparansi di sisi keuangan. Itu diharapkan bisa mengukur biaya-biaya yang dikeluarkan.
“Kemudian dari sisi keakuratan cost project, kami menerapkan strategi jangka pendek penyelesaian project lebih cepat dan tepat waktu, hal tersebut untuk menghindari delay dan denda yang dapat menggerus gross profit margin. Dengan melakukan kontrol intensif, perusahaan dapat memonitor profit loss project secara detail,” lanjut I Ketut Laba.
Selanjutnya, tak kalah pentingnya adalah pengelolaan sumber daya manusianya. Untuk itu, perusahaan berkolaborasi dan bersinergi dengan perusahaan induk, yaitu PT Pertamina (Persero) dalam rangka menerapkan GRC.
“Kemudian dari sisi sumber daya manusia-nya juga melakukan pengolaan di bidang manajemen baik dari sisi direksi maupun karyawan. Itu sekarang ada beberapa perbantuan dari Pertamina, yang diharapkan ini menerapkan praktik-praktik terkait dengan GRC (governance, compliance and risk), sehingga kemampuan dari anak perusahaan itu hampir sama. Dari sisi pedoman juga dimungkinkan untuk diterapkan di anak perusahaan. Nah ini yang membuktikan dengan perbaikan kinerja. Ini dari sisi indikator keuangan tadi, kenaikan pendapatan, kenaikan profit yang sejalan juga,” papar dia.
