Jakarta, TopBusiness – Sekalipun awalnya sempat terimbas krisis pandemi Covid-19, PT Semen Gresik sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri semen pada tahun 2021 kembali menunjukkan kinerja positif baik secara volume produksi maupun penjualan. Keduanya dicatat mengalami peningkatan sekitar 2,1%. Tidak hanya itu saja, perusahaan juga meraih kontrak manajemen 2021 sebesar 105,20%.
Semua pencapaian tersebut menurut Direktur Keuangan dan SDM PT Semen Gresik Muchamad Supriyadi dalam penjurian TOP GRC Awards 2022, tidak lepas dari keberhasilan perusahaan menerapkan GRC yang dijalankan. Baik penerapan strategi GRC maupun mengimplementasikan GRC secara terintegrasi.
Sebagai sebuah perusahaan semen yang memproduksi semen bag dan bulk dengan tipe Portland Cement Type I, Portland Pozzolan Cement (PPC) dan Portland Composite Cement (PCC), PT Semen Gresik dicatat berhasil dalam menjalankan strategi GRC. Hal ini ditandai dengan peningkatan kinerja tiap tahunnya atas Asesmen GCG yang dilakukan secara rutin sejak tahun 2019.
Selain itu juga ditandai dengan Asesmen RML atau penilaian implementasi Manajemen Resiko yang dilakukan secara rutin sejak 2020, mengalami peningkatan kinerja tiap tahunnya di level “Repeatable”.
Adapun Strategi GRC yang diterapkan PT Semen Gresik di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, melaksanakan Program Digitalisasi Database GRC. Program ini berupa pembuatan database GRC melalui digitalisasi terintegrasi (Aplikasi BATARA, Aplikasi RISIKO).
Kedua, menghadirkan Program Penyusunan Pedoman Panduan Covid. Program ini menjadi acuan karyawan dalam bekerja dan tamu termasuk juga dengan dilakukannya vaksinasi dan Personal Risk Assesment untuk kondisi kesehatan harian karyawan serta pemutakhiran Prosedur Tanggap Darurat.
Ketiga, pemutakhiran Prosedur Manajemen Krisis serta set up ISO 22301:2019. Upaya ini dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan keberlangsungan usaha.
Keempat, mengimplementasikan SMAP. Implementasi SMAP yang dilaksanakan berdasar pada ISO 37001:2016. Implementasi ini untuk mendukung implementasi GCG.
Kelima, menyusun Risk Corporate & Risk Register. Risk Corporate & Risk Register yang disusun ini, salah satunya adalah pandemi Covid-19 yang dimonitoring dan dilaporkan secara rutin.
Implementasi GRC Secara Terintegrasi
Menurut Muchamad Supriyadi kembali, Implementasi GRC terintegrasi yang telah dilaksanakan perusahaan di antaranya adalah sebagai berikut;
Pertama, integrasi Sistem Manajemen Risiko (ISO 31000:2018). Perusahaan dicatat mengintegrasikan Sistem Manajemen Risiko dengan Sistem Manajemen lain yang diimplementasikan di Perusahaan seperti ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, ISO 45001:2018, ISO 50001:2018, ISO 37001:2016 dan PP 50/2012 melalui breakdown Risk Register maupun identifikasi Risiko dalam setiap dokumen Sistem Manajemen (Prosedur dan Instruksi Kerja).
Kedua, menyusun RKAP berbasis Risk Budgeting. Penyusunan RKAP ini disertai dengan identifikasi risiko dan mitigasinya agar RKAP tercapai sesuai target (cost efficiency).
Ketiga, penggunaan Virtual Account Transaksi Perusahaan. Penggunaan virtual account untuk setiap transaksi perusahaan termasuk di unit kerja, dilakukan untuk mendukung implementasi GCG dan Perusahaan yang “bersih”, di mana data tersebut diintegrasikan dalam suatu sistem atau yang disebut dengan SAP.
Keempat, pemberian Opini Terintegrasi (Kajian Hukum dan Risiko). Untuk case tertentu tekait Kajian Hukum dan Risiko, unit kerja dapat mengajukan permintaan kajian hukum dan risiko ke Unit Hukum & GRC terkait kondisi atau permasalahan yang tengah dihadapi di unit kerjanya dan juga menyusun kajian hukum dan risiko terkait keputusan perusahaan yang bersifat strategis.
Khusus untuk implementasi ISO 37001:2016 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dan Pengkinian SK Direksi tentang Tim Pengendalian Gratifikasi dan Anti Penyuapan (TPGAP), bahkan Semen Gresik dicatat menjadi pionir anti penyuapan di SIG Group.
