Jakarta, TopBusiness – PT Jaminan Kredit Indonesia atau Jamkrindo memiliki cara tersendiri untuk mengimplementasikan perilaku semua personil berinteraksi dan persepsi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan risiko (risk culture).
Saat sesi pendalaman materi presentasi bertema Transform to be more Perform Jamkrindo, Kepala Divisi Manajemen Risiko Ceriandri Widuri dihadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2022, menyatakan bahwa pihaknya dalam membangun implementasi risk culture di Jamkrindo sudah melakukan beberapa program, dan terus-menerus dilakukan agar tercipta perhatian atas risk culture hingga level terendah.
Kemudian dia menyebutkan bagaimana cara perusahaan dalam mengedukasi dan mensosialisasi risk culture ke seluruh unit, yang dimulai dari pimpinan divisi hingga ke level bawah. Dan memastikan bahwa potensi risiko itu bukan hanya di satu divisi yaitu komite investasi dan manajemen risiko, tapi menjadi tanggung-jawab di setiap unit kerja.
“Yang pertama, seluruh pimpinan unit kerja. Mereka harus punya komitmen dulu terhadap manajemen risiko, bahwa manajemen risiko ini bukan tugasnya divisi MR (manajemen risiko), tapi risiko ini adalah melekat pada tanggung-jawab di seluruh unit kerja. Karena itu risiko itu sendiri ada di setiap aktivitas. Ini yang selalu kami sampaikan supaya teman-teman aware bahwa semua aktivitasnya ini mengandung unsur risiko,” ungkap dia, di Jakarta, hari ini, melalui aplikasi zoom meeting.
Selain itu, kini perusahaan tengah aktif untuk mewujudkan sadar akan potensi risiko yang terjadi di operasional, setelah mendapatkan temuan-temuan soal kurang pahamnya tentang standar operasional prosedur (SOP) yang harus dilalui. “Dan kebetulan saat ini, memang menjadi program kami yang sedang melakukan perbaikan terutama di risk operasional. Yang memang secara identifikasi risiko operasional yang paling besar di kami, yaitu 71 persen, terutama terkait dengan human error, tentang pemahaman terhadap SOP dan lain sebagainya. Sehingga banyak proses bisnis yang menjadi temuan-temuan audit itu kebanyakan karena kesalahan di dalam melakukan proses lantaran tidak sesuai dengan SOP,” papar dia.
Belajar dari temuan-temuan tersebut, kini perusahaan melakukan pembinaan dan sosialisasi terhadap insan-insan di Jamkrindo dalam menerapkan SOP guna menghindari kesalahan, selain untuk menciptakan rasa perhatian yang besar terhadap risk culture.
“Kemarin, kita melakukan program pembinaan. Jadi di tim IMR (komite investasi dan manajemen risiko), dan tim kepatuhan yang di-second line tidak hanya bekerja on desk, kami turun ke lapangan. Kita melakukan pembinaan,” kata Ceriandri.
Dikatakan dia, karena unit kerja cukup banyak dan kita memiliki keterbatasan, maka disusun skala prioritas. Terutama unit kerja yang berdasarkan hasil audit rating, memiliki rating temuan major dan dilakukan sampling.
“Untuk saat ini, ada 19 kantor cabang yang menjadi program pembinaan di tahun ini. Saya bersama tim IMR dan tim kepatuhan turun di seluruh unit kerja. Kami melakukan sampling atas proses bisnis yang menjadi kewenangan di cabang. Jadi kita menyusun top risk yang ada atau risiko operasi klaim yang ada. Jadi kita lihat rasio bisnis, produk-produk yang rasio klaimnya tertinggi, itu kami sampling,” kata dia.
Menurut Ceriandri, di cabang memiliki kewenangan penjaminan sampai dengan Rp 5 miliar. Dan berdasarkan data , tim melakukan sampling untuk produk-produk yang menjadi kewenangan mereka, kemudian dicek dokumennya apakah mereka melakukan proses untuk penjaminan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Jadi kita ada form untuk me-review-nya, kemudian kita memberikan feed back kepada mereka. Kita membikin forum, kita melakukan pembinaan apa saja yang harus diperbaiki, apa saja misalnya yang masih benar, apa saja yang masih kurang. Ternyata dengan forum-forum seperti ini, teman-teman cabang lebih terbuka. Mereka menyampaikan juga temuan-temuan apa saja. Sehingga, tidak menjadi temuan yang berulang di periode audit yang berikutnya. Ini juga salah satu untuk membangun risk awarness. Dan di forum tersebut yang terlibat tidak hanya pimpinan unit kerja tapi juga sampai analis, di staf paling bawahnya, supaya teman-teman yang dianalis itu juga paham apa saja yang harus mereka melakukan,” pungkas dia.
