Jakarta, TopBusiness – Sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengangkutan gas (penyaluran gas bumi melalui pipa transmisi), PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) dicatat mengembangkan strategic goals perusahaan untuk menjaga kesinambungan sekaligus mengembangkan usaha dengan mengedepankan keunggulan operasional. Rencana strategis Perusahaan ini meliputi Perlindungan Nilai, Optimalisasi Nilai dan Penciptaan Nilai.
Perlindungan Nilai/Value Protection berfokus pada pengoperasian dan pengelolaan aset yang sudah ada. Perlindungan nilai ini termasuk di dalamnya pengoperasian dan pemeliharaan jalur pemipaan Grissik – Duri dan Grissik – Singapura, pengelolaan pendanaan, pengelolaan kontrak, pengembangan organisasi, perumusan kebijakan, pengangkatan dan pengembangan pegawai serta kegiatan lainnya yang terkait dengan usaha Perusahaan.
Sementara itu Optimalisasi Nilai/Value Optimization memfokuskan pada pemanfaatan kapasitas pemipaan yang belum terpakai pada jalur pemipaan yang sudah ada. Ia merupakan upaya untuk memaksimalkan pengoperasian aset yang sudah ada. Sedangkan Penciptaan Nilai/Value Creation merupakan rencana jangka panjang yang memfokuskan pada pembangunan atau pengoperasian dari pemipaan yang baru.
Menurut Corporate Secretary PT Transportasi Gas Indonesia Emil Ismail dalam penjurian TOP GRC Awards 2022, untuk mendukung terlaksananya strategic goals perusahaan tersebut, perusahaan kemudian mengembangkan GRC (Governance, Risk, dan Compliance). Pengembangan ini di antaranya dilakukan untuk memastikan keberhasilan perusahaan dan pertumbuhan ekonomi.
Raih Banyak Capaian GRC
Dalam pengembangan GRC yang ada, TGI menurut Emil Ismail kembali, dicatat menorehkan banyak capaian yang tekah diraih. Seperti misalnya sebagai berikut. Pertama, pada penerapan tata kelola perusahaan yang baik, Perusahaan berhasil meningkatkan pencapaian skor GCG yang baik dari penilaian tahun 2020 dengan skor 85,02 meningkat ke skor 90,96. Kedua. Perusahaan berhasil memperoleh sertifikat ISO 9001:2015 pada tahun 2020 dan berhasil mempertahankan sertifikasi tersebut di tahun 2021. Saat ini TGI sedang dalam proses persiapan Audit Surveillance 2022.
Ketiga, Perusahaan berhasil memperolah sertifikasi 37001:2016 mengenai Sistem Manajemen Anti Penyuapan pada tahun 2021 dan berhasil mempertahankan sertifikasi tersebut di tahun 2022. Keempat, Perusahaan berhasil memperolah sertifikasi 45001:2015 mengenai Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada tahun 2021.
Kelima, Perusahaan berhasil memperolah sertifikasi 14001:2015 mengenai Sistem Manajemen Lingkungan pada tahun 2021. Saat ini TGI sedang dalam proses persiapan Audit Surveillance 2022. Keenam, Perusahaan berhasil melaksanakan Assessment Risk Maturity Level, menggunakan acuan ISO 31000:2018, yang dilaksanakan oleh Assessor Independent pada tahun 2022 mengkategorikan TGI berada pada fase “Managed” (level 4 dari 5).
“Semua capaian tersebut dapat dikatakan sebagai keberhasilan perusahaan dalam melaksanakan GRC”, kata Emil Ismail.
Bukukan Kinerja Mumpuni
Keberhasilan melaksanakan GRC tersebut dicatat mendorong TGI kemudian mampu membukukan kinerja positif. Baik pada sisi Pendapatan, EBITDA, Laba Bersih, dan Aset Lancar.
Dalam Pendapatan misalnya, pada 2020 dicatat sebesar US$ 156,79 juta dan tahun 2021 naik menjadi US$ 168,83 juta. EBITDA pada tahun 2020 dicatat sebesar US$ 124,70 juta dan tahun 2021 naik menjadi US$ 134,13 juta. Laba Bersih pada tahun 2020 dicatat sebesar US$ 49,51 juta dan tahun 2021 naik menjadi US$ 60,34 juta. Sementara itu Aset Lancar pada tahun 2020 dicatat sebesar US$ 122,91 juta dan tahun 2021 naik menjadi US$ 140,97 juta.
“Semua capaian kinerja yang mumpuni tersebut menjadi bukti nyata jika TGI tetap survive di tengah kondisi pandemi”, lanjut Emil Ismail.
Di tempat yang sama, RMCG Manager PT Transportasi Gas Indonesia Indah Pritanti juga menyatakan jika di masa pandemi terutama di sepanjang tahun 2021, Perusahaan telah menandatangani Perjanjian Transportasi Gas (GTA). Perjanjian ini juga menjadi bukti bahwa TGI mampu melaksanakan bisnisnya dengan baik.
Beberapa GTA yang telah dilaksanakan misalnya adalah sebagai berikut. Pertama. GTA dengan PT Pertamina Hulu Rokan, dengan cadangan volume kapasitas 125-175 mmscfd. Kedua. Perpanjangan GTA dengan PT Energasindo Heksa Karya pada pipa Grissik-Singapura sampai dengan tahun 2031, dengan volume cadangan sebesar 6,2 mmscfd. Ketiga. Perpanjangan GTA dengan PT Energasindo Heksa Karya pada pipa Grissik-Duri sampai dengan tahun 2033, dengan kapasitas cadangan volume 14-18 mmscfd.
Peran Dewan Komisaris, Direksi, dan Sekretaris Perusahaan
Menurut Indah Pritanti kembali, semua raihan yang dicatatkan perusahaan tidak lepas dari peran Dewan Komisaris, Direksi, dan Sekretaris Perusahaan. Mereka mendukung sepenuhnya GRC yang diterapkan perusahaan.
Berkatnya pula, Perusahaan yang merupakan patungan antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Transasia Pipeline Pvt. Ltd (“Transasia”) dan Yayasan Kesejahteraan Pegawai dan Pensiunan PGN (“YKPP PGN”) dengan proporsi saham masing-masing sebesar 59,87%, 40% dan 0,13% ini, selain mampu mengimplementasikan GRC yang ada, juga mampu menghadirkan Teknologi Informasi. Teknologi Informasi ini bahkan menjadi pendukung utama keberhasilan Implementasi GRC serta Pengelolaan Bisnis secara keseluruhan.
Dukungan Teknologi Informasi tersebut, seperti misalnya adalah sebagai berikut. 1. Ketersediaan jaringan komunikasi yang handal. 2. Ketersediaan internal portal media yang mudah diakses seluruh pegawai terkait Informasi dokumen perusahaan Manual/WP/WI. 3. Ketersediaan perangkat ICT baik hardware maupun software untuk menunjang operasional. 4. Ketersediaan Jaminan keamanan data elektronik di perusahaan. 5. Ketersediaan sistem back up data center.
Penulis: Irawan Joko Nugroho
