Jakarta, TopBusiness—Indonesia sejatinya bisa mencapai target net zero emission di tahun 2050, bukan di tahun 2060. Jadi, target itu sebenarnya bisa dicapai lebih cepat.
“Secara teknis-ekonomi, kita sebenarnya bisa lebih cepat mencapai target itu dengan syarat tertentu,” kata Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, dalam satu seminar virtual yang digelar oleh ICDX kemarin sore.
Fabby mengatakan bahwa, untuk percepatan tersebut, Indonesia memerlukan pengembangan energi terbarukan secara besar-besaran. “Kemudian, kita perlu pengurangan penggunaan energi fosil seperti di pembangkit listrik dan lain-lain,” Fabby berkata.
Pengiritan tersebut pun bisa berasal dari beberapa sumber. Antara lain di gedung, industri, dan transportasi.
Fabby kemudian mencontohkan beberapa hal. Antara lain bahwa pengiritan konsumsi energi oleh kalangan industri, bisa berperan signifikan.
Kemudian, di gedung, yang perlu diperhatikan adalah turunnya konsumsi listrik dari pendingin udara. Di gedung atau juga rumah tangga, konsumsi listrik untuk pendingin udara mengambil persentase terbesar dari keseluruhan.
“Saat ini, teknologi pendingin udara memang sudah lebih bagus. Tetapi, kita perlu terus mengintensifkan penghematan energi dari situ,” papar Fabby.
Selanjutnya, Fabby memerkirakan bahwa pada tahun 2050, tingkat konsumsi energi di Indonesia sudah setara dengan di negara maju. Akan sangat baik bila pada waktu tersebut, penggunaan energi terbarukan, sudah berjalan bagus.
“Yang perlu diperhatikan, adalah bahwa kita harus mengurangi konsumsi energi yang sejatinya tidak diperlukan,” kata dia.
